Pemerintah Diminta Lengkapi Fasilitas Puskesmas

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Belum semua ibu melahirkan dilayani fasilitas kesehatan yang berdampak pada masih tingginya angka kematian bayi disebabkan oleh minimnya kesadaran masyarakat akan pelayanan kesehatan tingkat pertama dan minimnya fasilitas yang ada di puskesmas. Pemerintah Diminta untuk melengkapi semua fasilitas yang dibutuhkan puskesmas.

Anggota Komisi V DPRD NTT dari Fraksi PDIP, Kristofora Bantang sampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Senin (18/9/2017).

Menurut Feni, demikian Kristofora biasa disapa mengatakan, revolusi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan rancangan Peraturan Daerah (Perda) yang sedang dibahas di lembaga dewan mengharuskan semua ibu hamil dilayani di fasilitas kesehatan, minimal puskesmas. Sayangnya, alat atau fasilitas penunjang seperti mobil ambulans belum ada dan tenaga kesehatan masih minim. Akibatnya, ibu hamil yang mengalami gangguan atau pendarahan hebat, tidak bisa ditangani secara cepat.

Kalaupun harus dirujuk ke rumah sakit, lanjutnya, tidak langsung dibawa ke rumah sakit karena ketiadaan mobil ambulans. Kondisi ini dipertaruhkan lagi dengan masih terbatasnya tenaga kesehatan yang bertugas di puskesmas.

Baca juga : 18.174 Persalinan di NTT Tak Menggunakan Fasilitas Kesehatan

“Pemerintah harus segera melengkapi persoalan yang ada sehingga angka kematian ibu atau bayi baru lahir bisa ditekan,” kata Feni.

Wakil rakyat asal daerah pemilihan Manggarai raya ini meminta ibu menyusui untuk memberi air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan kepada bayinya. Untuk hal ini harus didukung dengan asupan gizi yang baik dikonsumsi oleh ibu menyusui selama periode tersebut, bahkan selama usia kehamilan. Jika siskesda dijalankan dengan baik yang didukung partisipasi masyarakat yang maksimal, diyakini menghasilkan generasi yang sehat dan cerdas.

Gubernur Frans Lebu Raya mengakui derajat kesehatan masyarakat NTT berdasarkan sensus penduduk 2010 melalui empat indikator masih rendah. Dimana Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) masih cukup lebar yaitu antara 0,3- 0,6.

“Empat indikator yang menentukan derajat kesehatan adalah angka kematian bayi, angka kematian balita, angka kematian ibu; dan umur harapan hidup,” kata Lebu Raya.