BI Dorong Pembentukan Badan Usaha Milik Petani di TTS

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Dalam rangka mendukung kebijakan reformasi pangan, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong penguatan kelembagaan petani di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) melalui penerapan cooperative farming atau badan usaha milik petani (BUMP).

Kepala Kantor Perwakilan BI NTT, Naek Tigor Sinaga mengatakan, cooperative farming atau BUMP adalah kelompok petani yang mengelola lahan miliknya secara bersama-sama dengan sistem manajemen korporasi. Dalam BUMP tersebut, petani yang menjadi anggota atau pengelola akan menerapkan sistem pra produksi, produksi hingga distribusi yang sama.

“Salah satu kelemahan kita disini adalah petaninya seolah-olah bekerja sendiri-sendiri, karena itu kita ingin mendorong atau mengembangkan pola kerja sama penguatan sektor kelembagaan di tingkat petani,” kata Tigor pada kegiatan Pencanangan Program Upsus Siwab Tahun 2017 dan Sosialisasi Ciri-Ciri Keaslian Uang Rupiah TE.2016 di Desa Biloto, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten TTS, Sabtu (27/5/2017).

Menurut Tigor, pihaknya sudah melakukan upaya pengembangan melalui kelompok-kelompok tani, tetapi sesungguhnya tidak cukup sampai di situ saja, karena belum ada ikatan formal, dan hanya sebatas pada kesepakatan atau kebersamaan saja. Sehingga yang perlu dikembangkan adalah suatu institusi yang bersifat formal di tingkat petani.

“Sehingga dengan adanya organisasi formal tersebut yang aturan mainnya jelas maka otomatis pihak perbankan akan lebih mudah untuk mengaksesnya, sebagaimana yang telah dilakukan di kota-kota besar seperti di Jawa, Kalimantan, Sumatera dan baru-baru ini juga sudah dilakukan di Kabupaten Kupang,” ujarnnya.

Sekretaris Nasional BUMP, Edi Waluyo mengatakan, kedatangan mereka ke Kabupaten TTS, guna memberikan peluang yang baik bagi kelompok tani (Poktan) dalam mengembangkan usaha mereka. Poktan itu akan dijadikan suatu perusahaan yang sangat bermanfaat dalam menopang perekonomian mereka.

Baca : Gubernur Frans Lebu Raya Tegaskan, NTT Tolak Terorisme

“Kooperate ini bukan hanya menyasar para petani dan peternak saja, namun semua sektor dapat ikut serta dalam BUMP ini, kita akan membentuk lembaga bagi petani/peternak yang lebih luas lagi,” sebut Edi Waluyo dalam sambutannya.

Pria yang berlatar belakang petani dan sekaligus pendiri dari BUMP ini menjelaskan, BUMP sudah mulai dikenalkan sejak tahun 2008 silam. Melalui penelitian (riset) dari kegalauan pemerintah dan para aktifis yang menemukan kenyataan bahwa para petani sangat jarang bertambah ternak dan lahan pertaniannya, justru bahkan semakin berkurang.

“Selain itu, patani itu kalau paska panen dan ketika mau menjual hasilnya, tidak selalu berada pada posisi yang menang tapi selalu saja kalah dengan para tengkulak, sehingga kesan ini dikatakan petani tidak berdaya,” katanya.

Selanjutnya dikatakan, petani terlalu banyak mendapatkan bantuan hibah, sehingga petani terlampau nyaman dan memiliki jiwa ketergantungan kepada pemerintah untuk mendapatkan bantuan berupa benih, pupuk maupun ternak serta bantuan lainnya.

“Semoga bantuan sapi ini nantinya dihentikan, tetapi bantuannya diberikan kepada subsidi paska panen bagi petani yang ada di TTS ini. Salah satu alternatif untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia ini, mungkin salah satu alternatifnya adalah melalui pembentukan badan usaha milik petani,” tandasnya Edi Waluyo yang juga sekaligus pendiri BUMP ini.