Pemerintah Revitalisasi Sarana dan Prasarana Kelembagaan Pangan

Bagikan Artikel ini

Laporan Marten Don
Ruteng, NTTOnlinenow.com – Dalam rangka kemandirian dan ketahanan pangan tahun 2017 ini, pemerintah kabupaten Manggarai melakukan revitalisasi sarana dan prasarana kelembagaan distribusi pangan agar masyarakat tetap memperoleh pangan yang tetap stabil, kata Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Ketahanan Pangan kabupaten Manggarai, Ir. Vinsen Marung, kepada NTTOnlinenow.com, Selasa (25/4) di Ruteng.

Pada sektor konsumsi, pemerintah akan memperjuangkan adanya kemandirian dan ketahanan pangan agar masyarakat tidak lagi bergantung pada orang lain. Sebab sesuai visi pemerintah di bidang ini adalah untuk kemandirian dan ketahanan pangan, pungkasnya.

“Nanti kita membeli pangan pada musim puncak panen sesuai harga patokan pemerintah. Padi Rp. 4.300 per kilogram, sedangkan beras Rp.7.900 per kilogram. Harga ini harus berlaku juga pada musim paceklik,” tandasnya.

Langkah yang dilakukan pemerintah disini adalah melalui kawasan rumah pangan lestari.

Khusus rumah pangan lestari, tahun ini, pemerintah pusat melalui pemerintah propinsi mengalokasikan anggaran sebesar 15 juta rupiah per kelompok. Bersumber dari dana dekon.

Untuk kabupaten Manggarai baru mendapat 5 KWT, yaitu 2 KWT di Kolam Dalo. Sedangkan lainnya di bangun di desa Ruang, kecamatan Satar Mese Utara, di Golo Cador, kecamatan Wae Ri’i, dan di Wae Mbeleng, desa Benteng Kuwu, kecamatan Ruteng, terang Kadis Marung.

Baca : Tren Baru di Manggarai, Kolam Pemancingan Dijadikan Sebagai Destinasi Wisata

Kolam Dalo menjadi sentral perhatian karena selain sebagai mina wisata, juga direncanakan untuk diusulkan menjadi lokasi peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) tahun 2017. “Rencananya kita usulkan HPS tahun ini disana,” ujarnya.

Selain itu, Kadis Marung juga menyebutkan tentang bidang perikanan. Menurutnya, selama ini masih ada beberapa masalah yang menjadi kendala, diantaranya adalah ketersediaan sarana dan prasana penunjang, seperti fasilitas yang belum memadai dan ketersediaan benih.

Kedepanya, kata Marung, pemerintah akan fokus pada penyediaan sarana dan prasaran yang dimaksud tersebut.

Dikatakannya, pemberdayaan masyarakat nelayan selama ini, yaitu penyediaan sarana dan prasarana, seperti motor, alat penangkapan, jaringan, dan bangun tambak.

Apalagi ikan merupakan lauk pauk yang memiliki sumber protein tinggi namun terbilang murah dan mudah didapat dan dijangkau oleh masyarakat luas, termasuk masyarakat kelas menengah kebawah.

Di Manggarai sendiri konsumsi ikan selama ini terbilang cukup tinggi, bahkan sampai-sampai didatangkan dari luar daerah.
Sektor perikanan, selain masalah sarana dan prasarana juga terkendala pada ketersediaan benih.

Untuk 2017 ini, sebanyak 200 ribu benih bantuan akan didistribusikan kepada kelompok masyarakat.

“Ini khusus bagi mereka yang belum parnah dapat. Kita juga akan pacu makanan 12 ton,” lanjutnya.

Karena itu masyarakat diharapakan harus dapat menyediakan kolam yang baik sesuai standar, tambahnya.