Festival Perahu dan Lomba Dayung Warnai Peringatan Hari Bumi

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Festival Perahu dan Lomba Dayung turut mewarnai peringatan Hari Bumi tahun 2017 di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diramaikan oleh para nelayan. Kegiatan itu diprakarsai oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Direktur Eksekutif WALHI NTT, Umbu Wulang Tanamahu Paranggi di Kupang, Sabtu (22/4/2017) mengatakan, kegiatan tersebut dimaksudkan agar para nelayan mampu menghadapi situasi perubahan iklim, serta dampak dari kerusakan lingkungan.

“Perayaan hari bumi ini sendiri, kenapa kami pilih pesisir atau laut, hal itu untuk mengingatkan kita bersama bahwa wilayah lautan NTT jauh lebih luas dari daratannya,” ungkap Umbu Wulang.

Menurut Umbu Wulang, pembangunan di NTT yang dikenal dengan provinsi berbasis kepulauan itu, selama ini terlalu fokus ke darat sehingga terkesan mengabaikan potensi kelautan yang dimilikinya.

“Dulu orang tua kita mancing begitu bebas dan leluasa, gratis serta menikmati keindahan Kota Kupang yang luar biasa, tapi tidak bagi generasi sekarang. Mau mandi di laut limbahnya banyak, pesisirnya ditembokin, diprivatisasi pesisirinya oleh tembok- tembok hotel, maupun pembangunan pesisir yang mengabaikan ruang rekreasi rakyat,” katanya.

Baca : Organisasi Rakyat Indonesia Resmi Deklarasi di NTT

Peringatan Hari Bumi 2017, nelayan di Kelurahan Oesapa, Kota Kupang antusias mengikuti Festival Perahu. Puluhan perahu nelayan dihiasi bendera, serta umbul- umbul berbagai corak dan warna.

Mengambil rute dari Pantai Batu Nona, puluhan perahu ini mengelilingi teluk Kupang hingga Oesapa, sambil berkampanye menyelamatkan pesisir pantai dan pulau- pulau kecil yang kian tercemar limbah.

Selain pergelaran Festival Perahu, para nelayan juga mengikuti Lomba Dayung yang diikuti oleh nelayan sekitar, giat yang diprakarsai oleh WALHI itu dimaksud untuk mengajak masyarakat turut serta menyelamatkan bumi dari dampak perubahan iklim.

Para nelayan mengaku, dampak atas perubahan iklim yang terjadi kini sedang mereka rasakan dampaknya, dimana hasil tangkapan semakin sedikit, selain itu wilayah pencarian ikan pun kian jauh dari pantai.

“Hasil tangkapan menurun drastis. Dulu hidup agak enak, mudah untuk mendapatkan ikan tapi sekarang ini agak sulit, akibat pecahnya minyak mentah di daerah Kolbano, itu yang mengakibatkan fatal sampai hari ini. Bahkan ikan sardin pun tidak ada di NTT lagi dan datangkan dari luar,” keluh Moses Nggelu, salah seorang nelayan Kota Kupang.

Giat lingkungan dengan tema “Panggung Rakyat, Festival Wilayah Kelola Rakyat” ini dibuka oleh Wakil Wali Kota Kupang Hermanus Man, dihadiri oleh para pegiat atau aktivis lingkungan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.