Pendidikan di Kota Kupang Harus Dibenahi

Bagikan Artikel ini

Laporan Nyongki Mauleti
Kupang, NTTOnlinenow.com – Pendidikan di Kota Kupang butuh pembenahan. Dimulai dari penerapan kurikulum maupun pembenahan dalam sistim perekrutan siswa baru. Khusus perekrutan siswa baru, sekolah harus dibatasi jumlah siswa dan rombongan belajar. Saat ini rombongan belajar yanh ada pada setiap sekolah Negeri, jauh dari ketetapan Kementerian Pendidikan

Demikian dikatakan, Aplonia Dethan,SPd,Mpd. Guru Bahasa Inggris Pada SMPN 4 Kupang, Kamis (20/4).

Aplonia yang juga Guru Terbaik NTT, Pada Tahun 2015, dan pernah mengikuti diklat Pada Universitas Melbourne, Australia mengatakan, ketika terpilihnya menjadi Guru Terbaik di NTT, dirinya bersama guru-guru terbaik dari 34 Provinsi di Indonesia diberi kesempatan mengikuti diklat di dua negara, yaitu, Jepang dan Australia. Dari pengalamannya bersama 24 guru di Australia, mereka banyak mendapat masukan soal peningkatan mutu pendidikan.

Menurutnya, di negara Australia, penerapan kurikulum hampir sama dengan Indonesia, hanya saja, dinegara itu proses pembelajaran lebih pada pendekatan antara guru dan siswa. Para guru disana Lebih melakukan pendekatan dengan siswa untuk bagaimana adaptasi dengan kelas. Selain itu perlakuan inklusi dari kepada siswa, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Selain itu, di Negeri yang dikenal dengan sebutan negeri Kanguru, rata-rata sekolah disana mempunyai jumlah siswa sebanyak 300 saja, dengan ketersediaan tenaga guru yang memadai.

Baca : PAUD Sebagai Investasi Wujudkan SDM Berkualitas

“Dengan pola yang baik seperti itu, memang tidak salah Australia merupakan Negara yang masuk dalam 10 besar pendidikan terbaik di dunia. Berdasarkan alasan itu pula, Pemerintah pusat mengirimkan kami untuk melakukan diklat disana,” Kata Dethan.

Dikatakan, untuk pembenahan pendidikan di Kota Kupang dan NTT secara umum. Pemerintah harus membatasi jumlah rombongan belajar dan jumlah penerimaan siswa, sebab rata-rata sekolah Negeri yang ada, jumlah rombongan belajar diatas 27 seperti standar nasional. Selain itu jumlah siswa rata-rata diatas seribu lebih sehingga metode pendekatan antara guru dan murid seperti di negara lain tidak bisa berjalan dengan baik.

Untuk itu sangat disarankan pemerintah dapat menerapkan penerimaan sistim rayonisasi, dimana para siswa berdomisili dan ada sekolah terdekat, baik swasta maupun negeri, para siswa diarahkan untuk bersekolah disekolah terdekat sehingga tidak terjadi penumpukan siswa pada sekolah-sekolah tertentu. Selain itu, harus juga disiapkan sekolah khsusus untuk murid berprestasi agar mereka dapat dibina secara baik.

“Dengan sistim seperti ini saya yakin pendidikan di Kota Kupang akan lebih maju. Apa yang saya dapat di Australia sudah saya terapkan secara perlahan-lahan di SMPN 4, dan mudah-mudahan berhasil dan bisa menjadi contoh bagi sekolah lain, ujar Mantan Kepala Sekolah SMPN 15, pada tahun 2008 hingga 2015.