Pesan Paskah Majelis Sinode Gereja Masehi Injili Di Timor Tahun 2017

Bagikan Artikel ini

Tema: “Kebangkitan Kristus Membebaskan Kita dari Kuasa Kematian” (Roma 6:10)

Anggota GMIT di mana saja berada,

Puji syukur kepada Allah Tritungggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus, yang memberi kehidupan dan memungkinkan kita merayakan Paskah di tahun ini.

Setelah merayakan 7 minggu sengsara yang berujung pada perayaan Jumat Agung, sekarang kita merayakan peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus. Peristiwa kebangkitan Kristus meyakinkan kita bahwa kesengsaraan dan kematian Kritus adalah bukti pergumulan Allah melawan kuasa dosa. Kristus yang bangkit adalah Tuhan yang solider dan berbelas kasih kepada manusia dan alam yang sedang menderita. Karena itu Paskah jangan menjadi ajang pameran kekuatan dan kemuliaan gereja yang dapat mengganggu hubungan-hubungan dalam masyarakat.

Paskah tahun ini berlangsung dalam terang tema “Kebangkitan Kristus Membebaskan Kita dari Kuasa Kematian” (Roma 6:10). Tema tersebut menegaskan makna peristiwa Paskah sebagai bagian dari karya Allah untuk membebaskan seluruh makhluk dari belenggu penindasan. Terhadap kuasa kematian yang menindas, menguras dan menyengsarakan manusia dan alam, Allah tidak berdiam diri. Kuasa kematian tampak melalui kemiskinan, korupsi, kekerasan dan eksploitasi yang berlebihan terhadap sesama manusia dan alam.  Tema ini mendorong kita untuk sungguh-sungguh mengambil peran dalam mengentaskan kemiskinan, memerangi korupsi, memperkuat solidaritas dan merawat lingkungan.

Dalam semangat tema Paskah di atas, Majelis sinode GMIT menyampaikan beberapa pesan terkait dengan sejumlah masalah yang sedang mengemuka dalam masyarakat kita sekarang ini:

  1. Akhir-akhir ini pertanian lokal mengalami banyak kemunduran. Tidak sedikit petani meninggalkan lahannya dan menekuni pekerjaan lain. Kondisi ini menambah kompleksitas masalah kemiskinan. Mereka yang berpindah keluar daerah sebagai buruh migran (TKI dan TKW) tanpa bekal ketrampilan memadai rentan menjadi korban perdagangan orang. Dalam rangka keprihatinan sosial gereja terhadap realitas kemiskinan, kami mendorong jemaat-jemaat GMIT untuk memanfaatkan momen perayaan Paskah sebagai kesempatan untuk melakukan langkah-langkah penyadaran dan pemberdayaan di bidang pertanian.
  2. Situasi ekonomi masyarakat sekarang ini makin timpang. Orang kaya cenderung berkuasa agar makin nyaman dan bertambah kaya. Sementara orang miskin dipersulit, bahkan dieksploitasi, sehingga tidak berdaya. Tidak sedikit lahan ulayat yang dicaplok untuk pertambangan, pariwisata, pengembangan kawasan industri, dan peternakan berskala besar. Akibatnya, lahan pertanian masyarakat, kawasan hutan dan daerah tangkapan air semakin sempit. Menghadapi konflik sosial akibat kesenjangan ekonomi, kami menegaskan sikap keberpihakan gereja terhadap mereka yang dirampas haknya, termasuk alam yang tidak bisa bersuara bagi dirinya. Badan-badan pelayanan pada semua lingkup gereja perlu sungguh-sungguh berjuang bersama dengan mereka yang terpinggirkan dari berbagai sumber-sumber ekonomi. Misalnya dengan sedapat mungkin berhemat dalam hal pembangunan gedung gereja agar lebih optimal dalam aksi-aksi solidaritas untuk keadilan bagi yang lemah.
  3. Media informasi dan komunikasi menyuguhkan kepada kita banyak pilihan berita dan tontonan. Suguhan informasi yang negatif menyebabkan kerapuhan spiritual. Kita prihatin atas berbagai fenomena di masyarakat, seperti tindakan kekerasan, sikap cinta uang, perilaku korupsi, mengutamakan kesenangan dan kepentingan diri, keluarga, kelompok etnis dan golongan sendiri hingga mengabaikan, bahkan membenci mereka yang berbeda. Berkaitan dengan perkembangan situasi yang demikian kita terpanggil untuk mengembangkan spiritualitas yang terbuka terhadap keragaman, merasa cukup dengan anugerah Tuhan, dan melawan godaan korupsi. Menghadapi perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesat kami mengajak jemaat GMIT agar menggiatkan pembinaan anggota gereja, termasuk meningkatkan daya layan sekolah-sekolah GMIT, sebagai wadah pembentukan kepribadian yang mampu memanfaatkan dan mengolah informasi bagi kehidupan.
  4. Kita berhadapan dengan ancaman pemanasan global akibat ulah manusia. Curah hujan dari tahun ke tahun sangat rendah, daya resap air ke dalam tanah berkurang, sumber-sumber air mengering, dan kualitas hasil pertanian menurun drastis. Tahun ini kita menerima banyak hujan dan di beberapa daerah bahkan mengalami bencana banjir. Perubahan iklim mendorong kita untuk memperhatikan perilaku terhadap lingkungan. Kami menghimbau seluruh jemaat GMIT agar tidak menebang pohon secara sembarangan, menghemat penggunaan air, terus menggalakkan gerakan tanam air dan hutan jemaat demi memulihkan situasi iklim dan melestarikan alam.

Sebagai pengikut Kristus, kita percaya bahwa Allah mengaruniakan kepada kita kesempatan untuk mengambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Dengan kematian Kristus kita terpanggil untuk  menutup diri dari cara hidup yang jahat, yang menyengsarakan sesama dan alam. Selanjutnya, kebangkitan Kristus mendorong kita untuk menganut budaya cinta yang menghidupkan manusia dan segenap makhluk ciptaan Allah.

Kami mengajak jemaat-jemaat GMIT bersama semua orang Kristen menyambut dan merayakan Paskah dengan sukacita dan keceriaan sebagai bentuk syukur atas kemenangan Kristus atas maut. Walau demikian, kita perlu menghindari ekspresi sukacita Paskah yang dangkal, sekedar hura-hura dan pemborosan sumber daya pelayanan. Dengan begitu kita dapat memastikan bahwa perayaan Paskah ini membuat kita semakin erat dalam persekutuan di lingkup jemaat, klasis dan sinode, dan semakin giat mewujudkan program-program pelayanan demi keterlibatan dalam misi pembebasan Allah bagi dunia. Perayaan Paskah kali ini hendaknya membuat kita semakin meresapi makna kemenangan Kristus dari kuasa kematian dan mendorong kita agar lebih aktif menyaksikan karya pembebasan Allah dalam  praktek hidup dan karya pelayanan sehari-hari.

Selamat Paskah!

Kupang,  Maret 2017

Majelis Sinode GMIT

Ketua                                                                               Sekretaris

Pdt. Dr. Mery L. Y. Kolimon                       Pdt. Yusuf Nakmofa, M. Th