Defisit Beras di NTT Capai 150 Ribu Ton

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Defisit atau selisih antara produksi dan konsumsi beras di Nusa Tenggara Timur (NTT) cukup besar yakni mencapai 150 ribu ton beras per tahun. Untuk konsumsi beras di daerah itu mencapai 600 ribu ton per tahun, sedangkan produksinya hanya mencapai 450 ribu ton.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Nusa Tenggara Timur, Naek Tigor Sinaga memaparkan hal ini pada kegiatan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi NTT di Kupang, Kamis (6/4/2017).

Menurut Sinaga, untuk mengatasi defisit atau kekurangan tersebut maka penambahan pasokan dilakukan melalui penyediaan beras Badan Urusan Logistik (Bulog), ataupun melalui mekanisme pasar.

“Total penyaluran beras bulog di tahun 2016 mencapai 110 ribu ton beras, sedangkan melalui mekanisme pasar sebesar 65 ribu ton,” kata Sinaga.

Dia mengungkapkan, tiga daerah pemasok utama beras ke NTT yakni Sulawesi Selatan dengan pangsa 62,3 persen, disusul Jawa Timur dengan pangsa 23,8 persen dan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan pangsa sebesar 7,0 persen.

“Fokus distribusi beras hanya pada Pulau Timor dan Flores bagian timur dikarenakan produksi beras di Flores bagian barat dan Sumba yang mengalami surplus,” ungkapnya.

Baca : Proyek Infrastruktur Harus Tuntaskan Empat Aspek

Sinaga menyampaikan, terdapat perbedaan pola perdagangan yang cukup besar antara pola perdagangan di Pulau Timor dan Pulau Flores bagian timur.

“Pola perdagangan di Pulau Timor terpusat di Kota Kupang, sedangkan di Pulau Flores bagian timur tidak ada daerah yang terlalu menonjol sebagai pusat perdagangan,” katanya.

Begitu juga dengan pola perdagangan tiap- tiap komoditas pun relatif berbeda tergantung dari karakteristik masing- masing komoditas, kemudahan sarana transportasi, kedekatan dengan sentra produksi, ketersediaan modal usaha dan ukuran pasar, serta efisiensi persaingan yang terjadi.

“Tidak terbukti adanya hubungan antar wilayah yang kuat antara Pulau Timor dengan Flores flores bagian timur, bahkan dengan Flores bagian barat maupun Sumba,” ujarnya.

Bahkan, lanjut dia, tidak ditemukan pula adanya keterkaitan harga yang membentuk suatu klaster antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Harga jual cenderung rendah pada daerah yang menjadi pusat distribusi per masing- masing komoditas.

“Biaya pengiriman di NTT relatif besar, dengan jarak pengangkutan, moda transportasi, dan tonase angkutan menjadi variabel utama yang mempengaruhi besarnya biaya pengiriman,” tandasnya.