APEGTI NTT Diminta Jaga Stabilitas Harga Gula

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Pengurus Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu (APEGTI) Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta ikut menjaga stabilitas harga gula di pasaran agar stok dan distribusi gula di daerah itu tetap lancar, terutama menjelang hari raya keagamaan sehingga menghindari kelangkaan gula.

Permintaan tersebut disampaikan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya saat menerima kunjungan dari Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu (APEGTI) Provinsi NTT di ruang kerjanya, Rabu (22/3).

Gubernur berharap, pengurus APEGTI NTT selalu mengkoordinir para anggotanya, khususnya para pengusaha gula dan terigu dalam membangun kesepahaman terkait distribusi dan harga gula serta terigu di NTT.

“Jangan lupa mengingatkan mereka untuk menyesuaikan harga gula sesuai dengan standar yang ada. Terkait persoalan gula rafinasi, APEGTI hendaknya terus melakukan sosialisasi terhadap para pedagang dan masyarakat, karena masyarakat biasa sulit membedakan gula rafinasi dan gula untuk konsumsi rumah tangga,” katanya.

Lebu Raya mengungkapkan, Pemerintah Provinsi tengah merencanakan untuk membangun pabrik gula di NTT yakni di Kabupaten Sumba Timur. Pasalnya, lahan di daerah tersebut sangat cocok bagi tumbuh kembangnya tanaman tebu.

“Masyarakat sedang dipersiapkan untuk menanam tebu sebagai bahan baku gula. Kita berharap dengan produksi jagung yang terus meningkat, para investor juga berminat untuk membuat gula dari jagung,” tutup Lebu Raya sembari menyatakan dukungannya atas kehadiran APEGTI NTT serta meminta pengurus asosiasi berkoordinasi dengan dinas teknis terkait pembentukan tim monitoring gula dan terigu.

Sementara itu, Sekretaris​ APEGTI NTT, Eko Hardipurnomo mengutarakan tujuan audiensi tersebut untuk memperkenalkan diri, sekaligus ingin mendapatkan pengarahan.

Baca : Pemkab Belu Titip Sejumlah Usulan ke Presiden Melalui Watimpres

“Dewan Pengurus Provinsi (DPP) APEGTI NTT terbentuk pada akhir Oktober 2016 dan telah dilantik secara resmi oleh Dewan Pengurus Nasional (DPN) APEGTI pada awal November 2016. Kita juga telah membentuk Dewan Pengurus Daerah (DPD) di seluruh Kabupaten/Kota se-NTT. Fungsi APEGTI terkait dua hal penting yakni, menjaga stabilitas harga dan mempertahankan distribusi gula serta terigu. Anggota kami adalah para distributor gula dan terigu,” ungkap Hadipurnomo.

Hadipurnomo menjelaskan, program jangka pendek APEGTI NTT adalah melakukan edukasi tentang gula rafinasi demi meningkatkan pemahaman masyarakat. Kegiatan edukasi ini akan dirangkai dengan acara bazar murah bekerja sama dengan Bulog. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 527/MPT/KET/9/2004, gula rafinasi tidak layak untuk dikonsumsi langsung, melainkan untuk industri pembuatan kue, minuman serta manisan lainnya.

“Jika gula ini dikonsumsi langsung, akan menyebabkan penuaan kulit secara dini dan meransang timbulnya penyakit gula secara cepat. Gula rafinasi memiliki kualitas rendah serta memiliki ciri umum seperti halus, sangat manis dan berwarna keputihan. Sementara itu gula untuk konsumsi biasanya berwarga kuning kecoklatan serta agak kasar,” terang Hardipurnomo.

Wakil Ketua Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Distribusi dan Penyaluran APEGTI NTT Soleman Amalo menjelaskan, harga gula konsumtif sekarang ini berdasarkan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Pemerintah, berkisar antara Rp 13.000 hingga Rp 13.500 per kilogram.

“Harga gula rafinasi biasanya murah. Masyarakat diminta berhati-hati bila menemukan harga gula konsumsi yang sangat murah, jauh di bawah HET yang ditetapkan pemerintah” tandasnya.