Alumni IKAPTK Gelar Malam Keakraban
Kupang, NTTOnlinenow.com – Berdosalah kita kepada para pendahulu, jika membiarkan bangsa ini terpeca-belah. Sebagai ahli waris, seharusnya, kita menjaga hasil perjuangan para pendiri bangsa itu. Mereka telah mengorbankan segalanya, tidak saja air mata, tetapi juga nyawa. Itulah tugas sejarah kita.
Demikian Gubernur Nusa Tenggara Timur, Drs. Frans Lebu Raya, saat berbicara dengan semangatnya dalam acara Malam Keakraban Bersama Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (IKAPTK) Provinsi Nusa Tenggara Timur di Ballroom Swiss-Bellinn Kristal Hotel, Kupang, Senin (13/2/2017).
Hadir setidaknya 200 orang alumni APDN, IIP, STPDN dan IPDN bersama keluarga masing-masing.
Dalam acara malam inagurasi yang mengambil tema *’Harmoni Kasih’* itu, Gubernur NTT didaulat berbicara secara khusus, sebagai Anggota Kehormatan Keluarga Besar IKAPTK NTT. Sebelumnya, pada tanggal 19 Oktober 2016 lalu, beliau telah dikukuhkan keanggotaannya dalam sebuah prosesi kehormatan, ditandai dengan penyematan Pin Astha Bratha di IPDN, salah-satu kampus yang terletak dalam kawasan pendidikan Jatinangor, Sumedang.
“Komitmen kita sama yaitu, menyejahterakan masyarakat yang kita abdi. Teruslah mengabdi kepada bangsa, negara dan masyarakat. Sejak awal, saya memang minta didampingi oleh aparatur tamatan sekolah pamong praja. Saya tau kalau pamong praja pasti disiplin, pasti lebih paham tentang pemerintahan” begitu lanjut mantan Wakil Ketua DPRD NTT itu memuji.
Dengan rendah hatinya, alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Undana itu mengakui kelebihan para purna praja (sebutan untuk para alumni). Pria kelahiran Flores Timur 18 Mei 1960 itu meyakini, ada banyak nilai positif yang sudah ditanamkan, wawasan kebabangsaan termasuk menjaga keberagaman dalam harmoni hidup berbangsa. Banyak hal disampaikannya dengan luwes.
Gubernur dua periode itu pun menyebut secara spesifik, Astha Bratha sebagai salah satu konsep yang mampu membangun karakter.
Baca : Dukung Proses Pilkada Serentak, PLN NTT Siaga Pasokan Listrik
Astha Bratha, merupakan sebuah wejangan yang berisi delapan laku yang harus dimiliki seorang pemimpin masyarakat, berjiwa pamong praja.
Setiap purna praja dituntut untuk mampu menyelami watak matahari yang memberi hidup, watak bulan yang menerangi, watak bintang yang menjadi pedoman arah, watak angin yang senantiasa bergerak, watak mendung yang berwibawa, watak api yang memberi semangat, watak samudera yang berpandangan luas dan watak bumi yang memberi kemakmuran.
“Dalam mengelola pemerintahan, dibutuhkan juga karakter yang kuat, pintar saja tidak cukup. Kita bisa saja berbeda pandangan, boleh juga membangun kritik internal. Karenanya, saya berharap agar para alumni mampu menjaga marwah kepamongprajaan dan menularkannya kepada ASN yang lain” ujar suami Lusia Adinda Dua Nurak itu tersenyum, sambil menjelaskan berbagai persoalan pemerintahan yang sedang terjadi.
Tokoh politik asal PDIP itu pun memberikan apresiasinya kepada mutu lembaga pendidikan tinggi pemerintahan yang sekarang berpusat di Lembah Manglayang itu. Secara pribadi, beliau juga mengisahkan pengalamannya ketika bersekolah di Kupang, bersama salah-seorang paman yang pernah bekerja sebagai PNS Pemerintah Provinsi NTT.
Orang nomor satu di Provinsi NTT itu pun meyakini bahwa nilai-nilai kebangsan yang telah ditanamkan selama pendidikan, akan mampu menjaga semangat pengabdian, tidak mudah disesatkan oleh berbagai pemahaman radikal yang sempit. Beliau percaya, alumni mampu menjamin jalannya pemerintahan yang demokratis.
Turut berbicara dalam forum kekeluargaan itu, Dr. Sony Libing selaku Ketua DPP IKAPTK Provinsi NTT dan Drs.Richard Djami, salah satu senior yang berkesempatan hadir. Mereka menyebut pentingnya membangun komunikasi yang lebih akrab, membangun hubungan kekeluargaan yang lebih solid lagi. Sejalan dengan itu, panitia pun menginisiasi pembentukan kembali keluarga asuh lintas generasi alumni.
Nuansa akrab malam itu terasa berwarna, berkat pilihan lagu-lagu merdu yang dinyanyikan oleh Paduan Suara Nafiri Sion. Turut hadir memenuhi undangan, anak-anak Panti Asuhan Alma, Panti Asuhan Al-Hikmah dan Panti Asuhan Kristen GMIT 221, bersama para pengasuh mereka masing-masing. (Biro Humas NTT)

