Gubernur BI Tegaskan Rupiah Baru Tak Memuat Simbol Terlarang

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo kembali menegaskan bahwa uang Rupiah Tahun Emisi (TE) 2016 tidak memuat simbol-simbol terlarang palu dan arit.

“Saya menegaskan bahwa tidak betul ada simbol-simbol terlarang di dalam uang emisi tahun 2016,” kata Agus kepada wartawan di Kupang, Jumat (27/01/2017) menanggapi pertanyaan wartawan terkait informasi dan penafsiran yang berkembang di media, yang menyatakan bahwa uang Rupiah memuat simbol terlarang palu dan arit.

Menurut Agus, uang rupiah baru yang diterbitkan emisi tahun 2016 itu sejalan dengan Undang-Undang Mata Uang. Gambar yang dipersepsikan oleh sebagian pihak sebagai simbol palu dan arit merupakan logo Bank Indonesia yang dipotong secara diagonal, sehingga membentuk ornamen yang tidak beraturan.

Gambar tersebut merupakan gambar saling isi (rectoverso), yang merupakan bagian dari unsur pengaman uang Rupiah. Unsur pengaman dalam uang Rupiah bertujuan agar masyarakat mudah mengenali ciri-ciri keaslian uang, sekaligus menghindari pemalsuan.

Baca : Gedung Baru Kantor Perwakilan BI NTT Diresmikan

“Gambar rectoverso dicetak dengan teknik khusus sehingga terpecah menjadi dua bagian di sisi depan dan belakang lembar uang, dan hanya dapat dilihat utuh bila diterawang,” katanya.

Dijelaskan, rectoverso umum digunakan sebagai salah satu unsur pengaman berbagai mata uang dunia, mengingat rectoverso sulit dibuat dan memerlukan alat cetak khusus. Di Indonesia, rectoverso telah digunakan sebagai unsur pengaman Rupiah sejak tahun 1990-an.

Sementara logo BI telah digunakan sebagai rectoverso uang Rupiah sejak tahun 2000.
Gubernur Bank Indonesia menegaskan pula bahwa Rupiah merupakan salah satu lambang kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam hal ini, uang Rupiah ditandatangani bersama oleh Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan Republik Indonesia. Untuk itu, Bank Indonesia mengingatkan kembali kepada masyarakat agar senantiasa menghormati dan memperlakukan uang Rupiah dengan baik.

“Jadi kami ingin menegaskan agar masyarakat tidak kemudian menjadi ragu. Uang itu kita sebut adalah Uang Negara Kesatuan Republik Indonesia, jadi uang itu adalah uang yang sah,” tandasnya.