DP3A Diminta Libatkan Berbagai Komponen Minimalisir Kekerasan Perempuan dan Anak

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta libatkan berbagai komponen masyarakat dalam upaya meminimalisir kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Hal itu dikemukakan oleh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya pada acara Penyerahan Mobil Perlindungan Perempuan dan Anak di Ruang Rapat Gubernur, Kamis (26/01/2017).

Lebu Raya menegaskan, tindak kekerasan harus dipandang dari berbagai aspek, baik itu aspek ekonomi, sosial dan budaya. Karena itu, segala upaya untuk menurunkan dan menghilangkan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak harus sejalan dengan kultur atau budaya masyarakat setempat.

‘’Kekerasan bukan hanya persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) tetapi juga harus ditilik dari aspek budaya. Misalnya budaya belis yang banyak dipelintir sebagai upaya jual beli perempuan. Pandangan itu, tidak serta merta dijawab dengan menghilangkan budaya belis dalam masyarakat,” katanya.

Menurut Lebu Raya, sejatinya belis berkaitan dengan harga diri dan pemakluman terhadap orang lain, bahwa wanita tersebut telah dipersunting. Sikap dan pandangan terhadap perempuan harus menjadi pemahaman bersama sehingga tercipta rasa saling menghargai.

”Ajaklah tokoh-tokoh agama dan masyarakat  untuk mendiskusikan masalah perempuan dan anak. Rangkullah kalangan media massa, agar mewartakan hal-hal positif terkait persoalan ini. Sosialisasi harus dimulai dari keluarga karena keluarga adalah fondasi dasar pendidikan,” katanya.

Terkait dengan bantuan operasional berupa mobil untuk dinas perlindungan perempuan dan anak sejumlah delapan unit itu, Gubernur Lebu Raya menyebutkan beberapa kriteria kabupaten/kota penerima bantuan. Salah-satu kriterianya didasarkan pada kinerja dan prestasi, dalam memfasilitasi upaya penurunan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.

”Penilaian  ini dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berdasarkan hasil kajian tim dari Universitas Nusa Cendana, Kupang,” sebut Lebu Raya.

Diharapkan bantuan tersebut menjadi pemicu bagi daerah lainnya, untuk semakin gencar menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Gunakanlah fasilitas mobil ini dengan baik,  demi memperluas jangkauan pelayanan dan sosialisasi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak,” tandasnya.

Baca : Perahu yang Ditumpangi Tenggelam, Tiga TKI Asal NTT Meninggal di Malaysia

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT, Maria Bernadeth Usboko menyatakan, pemberian mobil tersebut bertujuan untuk mengurangi tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.

”NTT patut berbangga karena mendapatkan bantuan lebih banyak dibandingkan dengan provinsi lainnya. Selain bantuan delapan mobil, ada juga bantuan operasional berupa dua unit motor yang sementara dalam perjalanan. Mobil-mobil ini dilengkapi dengan fasilitas kesehatan standar, genset dan alat-alat sosialisasi seperti layar dan LCD. Ada opetrator khusus yang telah dilatih oleh kementerian untuk mengoperasikan mobil ini,” ungkap Erni Usboko.

Dia meyakini bahwa seluruh kabupaten di NTT nantinya akan mendapatkan bantuan serupa. Adapun kedelapan mobil tersebut diberikan kepada Pemerintah Provinsi NTT, Kota Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Rote Ndao, Sumba Timur dan Manggarai.

Setelah diadakan upacara penyerahan kunci secara simbolis kepada Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Kupang, Gubernur berkenan melihat langsung berbagai fasilitas mobil perlindungan perempuan dan anak tersebut.

Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dari tujuh kabupaten/kota penerima bantuan bersama pejabat  struktural Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT.