Aleta Baun, Wanita NTT Raih Yap Thiam Hien Award 2016

Bagikan Artikel ini

Laporan Frans Watu
Jakarta, NTTOnlinenow.com – Alunan musik tradisional Sasando dan tari cerana dari Pulau Timor menandai opening malam penganugerahan Yap Thiam Hien Award 2016.

“Batu adalah tulang, air adalah darah, tanah adalah pori-pori. Mereka bisa jual apa yang mereka bisa buat dan tidak bisa jual apa yang mereka tidak bisa buat” demikain sepenggal sambutan Aleta Cornelia Baun atau yang akrab dengan panggilan Mama Aleta saat menerima Yap Thiam Hien Award 2016 di Mesium Nasional Indonesia (25/1/2017).

Ibu tiga anak ini lahir di desa Lelobatan Molo Utara Nusa Tenggara Timur pada 16 April 1963 dan anak ke-6 dari 8 bersaudara yang sejak kecil begitu dekat dan menyatu dengan alam dan dikenal sebagai sosok yang pemberani, selalu mengajarkan untuk mencintai alam dan mempertahankan adat dan budayanya.

Penerima Goldman Environmental Prize 2013 di San Fransisco ini dikenal karena kegigihannya dan mampu mentransformasikan dirinya menjadi pejuang lingkungan yang tidak pernah takut dan sangat damai. Saat ini, Mama Aleta dipercayakan oleh masyarakat setempat menjadi wakil rakyat di DPRD Propinsi NTT, dan juga aktif di Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) sejak 2010.

Mama Aleta terpilih sebagai penerima Yap Thiam Hien Award 2016 oleh Dewan Juri yang terdiri dari Dr. Makarim Wibisono (mantan Duta Besar/Wakil tetap RI untuk PBB di Jenewa), DR. Sandra Hamid (Direktur The Asia Foundation), Yoseph Stanley Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers), Zumrotin K. Susilo (aktivis perempuan dan anak) dan Prof. Dr. Todung Mulya Lubis (Ketua Yayasan Yap Thiam Hien) pada Sidang Dewan Juri Kedua yang dilaksanakan 28 November 2016.

Pertimbangan Dewan Juri memilih Mama Aleta adalah karena kegigihannya yang terbukti mampu mentransformasikan dirinya sebagai pejuang lingkungan yang tidak pernah takut dan sangat damai dalam melakukan penolakan terhadap kegiatan pertambangan di Nusa Tenggara Timur.

Baca : Aleta Baun, Pejuang Lingkungan Hidup Asal NTT Raih Penghargaan Yap Thiam Hien Award
Baca : UGM Buka Sekolah Adat di TTS

Anugerah Yap Thiam Hien Award 2016 ini diberikan kepada Mama Aleta atas dasar beberapa pendekatan evaluasi rezim pemerintahan Jokowi-JK selama dua tahun yang tidak memiliki terobosan yang signifikan dalam upaya penghormatan, perlindungan dan pemajuan dalam bidang hukum dan hak asasi manusia.

Perjuangan Mama Aleta telah dimulai pada 1990-an ketika Gunung Batu Anjaf dan Nausus mulai dikeruk dan dijadikan marmer oleh industri tambang dan industri kehutanan. Dia memimpin kelompoknya menolak upaya perusahaan tambang demi mempertahankan identitas Suku Mollo. Alasannya sangat sederhana, supaya masyarakat lokal tidak kehilangan sumber pangan, identitas dan budaya daerah. Mama Aleta juga berjasa dalam memetakan hutan warga lokal agar hak ulayat terjaga dari proyek pertambangan, perkebunan atau penebangan hutan. Dia pun mengembangkan ekonomi alternatif dengan mengenalkan pertanian berkelanjutan dan menghasilkan pendapatan dari tenun tradisional.

Keteguhan hati dan keberanian Mama Aleta membuat dirinya menjadi panutan dan pemimpin dari sebuah gerakan untuk menyelamatkan lingkungan dan hak asasi manusia dari serbuan komersialisme industrialisasi, dari serbuan kerakusan dan ketamakan dunia usaha yang tidak perduli dengan lingkungan. Dengan kecerdasannya menggunakan pendekatan non-kekerasan (non-violent) untuk membangkitkan kesadaran warga terhadap kelestarian alamnya.

“Mama Aleta mengajak puluhan kaum ibu di tiga suku untuk melakukan aksi protes dengan menenun di celah gunung batu yang akan ditambang. Aksi ini berlangsung selama setahun dan membuahkan hasil, dua perusahaan tambang, PT Soe Indah Marmer dan PT Karya Asta Alam angkat kaki dari bumi Mollo. Ini dilakukan secara konsisten sejak 17 tahun yang lalu. Hal ini jelas merupakan capaian yang melampaui kandidat lainnya” demikian dijelaskan Prof. Dr. Todung Mulya Lubis (Ketua Yayasan Yap Thiam Hien).

Penghargaan Yap Thiam Hien adalah sebuah penghargaan yang diberikan oleh Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia kepada orang-orang yang berjasa besar dalam upaya penegakan hak asasi manusia di Indonesia. Nama penghargaan ini diambil dari nama pengacara Indonesia keturunan Tionghoa dan pejuang hak asasi manusia Yap Thiam Hien. Penghargaan ini biasanya diberikan setiap tahun pada peringatan hari Hak Asasi Manusia tanggal 10 Desember sejak tahun 1992.