Komisi I Pertanyakan Sikap Pemkab Pertahankan Aset Di Wilayah Kota Kupang

Bagikan Artikel ini

Laporan Nyongki Mauleti
Kupang, NTTOnlinenow.com – Komisi Satu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kupang merasa heran terhadap sikap Pemerintah Kabupaten Kupang yang masih ngotot untuk pertahankan seluruh aset mereka yang berada di wilayah Kota Kupang.

Sedangkan berdasarkan Undang-Undang nomor Lima tahun 1996 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat Dua Kupang, didalamnya sudah mengatur bahwa seluruh aset milik Pemerintah induk yang berada di wilayah daerah pemerintahan hasil pemekaran sudah harus diserahkan pada daerah pemerintahan baru hasil pemekaran paling lama Satu tahun setelah pemekaran.

Ketua Komisi Satu DPRD Kota Kupang, Zeyto Ratuarat mengatakan, berdasarkan Undang-Undang nomor Lima tahun 1996 telah mengatur mengenai hak pengelolaan aset milik Pemerintah induk yang ada di wilayah daerah otonomi yang baru.

Baca Juga : Orang Tua Wajib Ajarkan Untuk Hargai Perbedaan Sejak Dini

Menurutnya, seharusnya Pemerintah Kabupaten Kupang sudah harus menyerahkan seluruh aset, khususnya aset bangunan bagi daerah otonom Kota Kupang paling lama Satu tahun setelah daerah otonom Kota Kupang terbentuk. Sehingga, yang hanya perlu dibicarakan bersama menyangkut hak pengelolaan adalah aset terkait pengelolaan air minum.

Dirinya menjelaskan, sikap Pemerintah Kabupaten Kupang yang terus ngotot untuk pertahankan aset lama di wilayah Kota Kupang harus dipertanyakan, karena hal tersebut tidak sesuai dengan sikap mereka pada daerah otonom lainya hasil pemekaran dari Kabupaten Kupang.

Dirinya mencontohkan, untuk Kabupaten Sabu Raijua dan Rote Ndao yang juga merupakan daerah otonom hasil pemekaran, Pemerintah Kabupaten Kupang tidak pernah bersikeras untuk mempertahankan aset lama mereka, melainkan menyerahkan pengelolaannya pada Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dan Rote Ndao.

Zeyto mengaku, aset-aset milik Kabupaten Kupang yang berada di Kota Kupang seharusnya diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah Kota Kupang, sehingga aset-aset tersebut tidak menjadi bangunan tua yang hanya memperburuk pemandangan Kota Kupang.