Gidion Umumkan, Iban Medah Calon Gubernur NTT dari Golkar

Bagikan Artikel ini

Laporan Laurens Leba Tukan
Waingapu, NTTOnlinenow.com – Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Sumba Timur, Gidion Mbili Joera mengumumkan kepada masyarakat Sumba Timur bahwa seluruh ketua DPD II partai Golkar di NTT telah menetapkan Ibrahim Agustinus Medah sebagai calon tunggal Gubernur NTT periode 2018-2023 dari Partai Golkar.

Gidion menyampaikan itu ketika membuka acara dialog kebangsaan yang digelar Badan Kesbangpolinmas Kabutapen Sumba Timur di Gedung Nasional Umbu Marisi Waingapu, Jumad (19/8/2016). Ibrahim Medah selaku Senator/Anggota DPD RI asal NTT saat itu menjadi nara sumber bersama Kasat Intel Polres Sumba Timur AKP. Sigit Agung Susilo, SH, MH dan Mayor. Inf. Sukijan yang mewakili Dandim Sumba Timur.

Gidion mengatakan, dalam dalam forum Musyawarah Daerah Partai Golkar Provinsi NTT pekan lalu telah memilih kembali Ibrahim Agustinus Medah menjadi Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi NTT. “Kami seluruh ketua DPD II partai Golkar se NTT juga sudah bersepakat dan menetapkan Pak Medah menjadi calon gubernur NTT,” kata Gidion yang disambut sorak ratusan peserta seminar yang memadati gedung Nasional Umbu Marisi.

Gidion mengatakan, dengan pengalaman birokrasi dan kepemimpinan politik yang mumpuni serta kepedulian yang besar untuk masyarakat NTT lewat berbagai inovasi maka Senator Ibrahim Medah sangat layak untuk memimpin provinsi NTT agar lebih maju dan sejahtera.

Ibrahim Medah pada kesempatan itu mengatakan, data statistik memperlihatkan bahwa 80 persen lebih masyarakat NTT hidup dari sektor pertanian, sehingga sektor pertanian harus digerakan secara masif untuk mendongkrak perekonomian masyarakat NTT.

Dikatakannya, ada empat hal penting dalam menggerakan sektor pertanian di NTT yaitu air, teknologi, pendampingan, dan pasar.

“Untuk mengatasi persoalan air di NTT konsep saya, setiap Pemda Kabupaten dan Kota serta Pemda Provinsi menyisihkan 5 persen dari total APBDnya masing-masing untuk fokus membuat pengadaan air, baik dalam bentuk bendungan, embung-embung atau sumur bor. Sedangkan untuk teknologi, masyarakat dibantu dengan menyediakan peralatan pertanian yang lebih moderen agar membantu masyarakat dalam mengolah lahan pertanian. Soal pendampingan, pemerintah merekrut tenaga-tenaga pendamping yang profesional untuk mendampinngi petani yang rata-rata berpendidikan lebih banyak tamatan SD atau tidak tamat SD. Setelah itu, pemerintah harus mampu menjajaki dan menyediakan pasar agar seluruh hasil pertanian masyarakat dapat dengan mudah dijual dan pendapatan masyarakat akan meningkat dengan sendirinya,” jelas mantan Bupati Kupang dua periode ini.