Usia ke-100 Tahun Kota Atambua, Bupati Belu Serukan Jaga Kedamaian
Laporan Yan Manek
Atambua,NTTOnlinenow.com-Usia 110 tahun bukan sekadar perayaan, tetapi juga pengingat bahwa menjaga Kota Atambua adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Kabupaten Belu.
Bupati Belu, Willybrodus Lay saat peringatan HUT ke-110 Kota Atambua di pelataran Plaza Pelayanan Publik, Jumat (16/10/2026) malam, mengajak seluruh masyarakat mempertahankan kedamaian, memperkuat persaudaraan, dan menjadikan kebersihan sebagai gerakan bersama demi mewujudkan Atambua sebagai Kota Sahabat yang nyaman, indah, dan berdaya saing.
Memontum peringatan HUT ke-110 Kota Atambua (16 Oktober 1916 – 16 Oktober 2026) bertajuk “Inovatif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan”, Willy Lay juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya merayakan, tetapi juga menyelami akar sejarah panjang kota yang kini menjadi jantung pemerintahan di wilayah perbatasan ini.
“110 tahun yang lalu, tepatnya 1916, Pemerintah Hindia Belanda memindahkan pusat administrasi dari Atapupu ke Atambua. Tujuannya untuk mendekatkan pelayanan ke pedalaman, hingga menjangkau Betun yang sekarang menjadi Kabupaten Malaka. Dan tempat kita berdiri hari ini adalah saksi bisu perpindahan bersejarah tersebut,” ujar dia.
Pada kesempatan itu, Bupati Willy juga mengungkap fakta sejarah yang jarang terungkap ke publik. Ia menyebutkan, hanya tiga tahun setelah pusat administrasi dipindahkan, Belanda langsung membangun infrastruktur vital di Atambua.
“Kurang lebih tiga tahun kemudian, pada 1919, Pemerintah Hindia Belanda sudah membangun bandara yang sekarang kita kenal sebagai Bandara A.A. Bere Tallo. Bandara ini dibangun untuk mendukung penerbangan perdana dari London menuju Darwin, dengan Haliwen sebagai tempat persinggahan pengisian bahan bakar. Itulah awal pembangunan infrastruktur modern di kota kita,” sebut dia.
Dia menekakan, di usia 110 tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama lebih dari satu abad, Atambua terbukti sebagai kota yang aman, tenteram, dan nyaris tanpa bencana alam besar maupun kerusuhan sosial.
“Kita patut bersyukur kepada Sang Pencipta. Kota Atambua selama 110 tahun betul-betul dilindungi. Masyarakatnya cinta damai. Kebetulan kata ‘Belu’ dalam bahasa daerah Tetun artinya ‘Sahabat’. Ini mencerminkan bahwa Atambua adalah kota sahabat, kota yang penuh kedamaian, dan menampung semua orang. Kota ini adalah milik kita dan kebanggaan kita,” tegas Willy Lay.
Rangkaian HUT ke-110 tidak hanya berisi seremonial. Bupati Belu juga mengeluarkan instruksi khusus untuk menjaga kebersihan dan keindahan kota. Ia mengajak semua pimpinan OPD, instansi vertikal, Forkopimda, hingga masyarakat untuk turun ke jalan.
“Minggu depan, tepat di hari Jumat, saya mengajak kita semua memperingati HUT Atambua dengan aksi bersih-bersih kota. Semua instansi, OPD, turun ke jalan membersihkan sampah, terutama sampah plastik. Mari kita jaga agar kota kita tetap indah dan bersih,” imbuh dia.
Ia juga mendorong instansi vertikal dan BUMN/BUMD untuk mengambil bagian memeriahkan kota dengan menggelar kegiatan rutin setiap minggu, sehingga Atambua sebagai kota perbatasan selalu hidup dan berdaya saing.
Puncak peringatan HUT ke-110 Kota Atambua ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Belu, yang didampingi oleh jajaran Forkopimda dan pimpinan instansi vertikal.

