Kenang Sengsara Yesus, Warga Binaan Katolik Lapas Atambua Gelar Jalan Salib
Laporan Yan Manek
Atambua,NTTOnlinenow.com-Suasana khidmat menyelimuti Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang beragama Katolik saat mengikuti prosesi jalan salib tablo di Lapas Kelas IIB Atambua, Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL, Jumat (3/4/2026) pukul 08.30Wita.
Kegiatan mengenang kisah sengsara hingga wafat-Nya Yesus Kristus sang juru selamat di kayu salib demi menebus dosa umat manusia dilakoni atau diperankan oleh sejumlah warga binaan, staf Kementerian Agama Belu, pegawai magang Lapas Atambua.
Prosesi perayaan Jumat Agung salah satu bagian dari Tri Suci sebelum kebangkitan Yesus (hari Paskah) kerjasama Lapas Atambua dan Kemenag diikuti jajaran pegawai Lapas, pegawai magang, warga binaan dan masyarakat.
Dalam prosesi Jalan Salib, setiap perhentian (stasi) dilewati dengan doa dan renungan yang dipandu oleh petugas hingga akhir prosesi diikuti warga masyarakat beragama Kristen dengan penuh antusias dan hikmat.
Prosesi Jalan Salib tablo menghayati Prapaskah sebagai refleksi pengorbanan Yesus Kristus demi menebus dosa manusia, hingga mati di kayu salib.
Kasubsi Registrasi dan Pembinaan Kepribadian Lapas Atambua, Yohanes Aluman menyampaikan, persiapan jalan salib ini memakan waktu satu bulan bekerja sama dengan Kemenag Atambua dan teman-teman magang.
“Jalan salib tablo ini sebagai refleksi mengenang pengorbanan Yesus Kristus yang menebus dosa manusia, hingga mati di kayu salib. Jadi kegiatan ini adalah bagian dari Trisuci hari Paskah,” ujar dia.
Sementara itu, Kasi Urusan Agama Katolik Kemenag Atambua, Manuel Freitas menuturkan, peristiwa jalan salib tablo ini cukup membuat kita semua menghayati kesengsaraan Yesus Kristus yang wafat demi menebus dosa umat manusia.
“Kolaborasi Kemenag dan Lapas Atambua dalam hal menyambut Paskah ini sangat intens dan rencana tablo ide Lapas. Selaku mitra dalam kaitan pembinaan kami berjuang bersama terutama penyuluh agama Katolik berikan pembinaan rohani bagi warga binaan,” kata dia.
Kesempatan itu, Pastor pembantu Paroki Tukuneno, Romo Yohanes Lae, Pr yang turut ikuti proses tablo mengatakan, hari ini jalan salib kolaborasi warga binaan bersama Kemenag Atambua menghadirkan satu ruang refleksi yang menarik dengan menampilkan agedan dari Tuhan Yesus ketika ditangkap sampai akhirnya dimakamkan.
“Warga binaan sungguh-sungguh menghadirkan saru ruang refleksi yang baik dan buat kita semua merenungkan betapa menderitanya tuhan ketika memanggul salib hingga wafat di kayu salib,” ujar dia.
Lanjut Romo Yohenes, pesan yang dipetik dari adegan jalan salib ini, kita sebagai umat Katolik hendaknya menghayati penderitaan Yesus sebagai jalan untuk kemudian benar-benar mencapai kemuliaan yang akan kita rayakan pada hari raya Paskah nanti.
“Kita umat Katolik, lewat jalan penderitaan tuhan Yesus yakinkan bahwa, penderitaan itu tidak berhenti pada penderitaan semata, akan tapi penderitaan akan menemui hasil yang baik, kita benar-benar menghayati penderitaan kita sebagai umat Katolik,” pungkas dia.

