Penanggulangan Dampak Covid 19, Bank NTT Dukung PIAR. Kolaborasi Penguatan Kapasitas Kelompok Inklusi Melalui Jarpuk

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kupang, NTTOnlinenow.com – Direktur Pengembangan Inisiatif Advokasi Rakyat (PIAR) NTT, meminta Bank NTT melakukan penguatan kapasitas berupa pengetahuan dan keterampilan kepada kelompok inklusi perempuan miskin, difabel, lansia dan LGBT yang ada di desa – desa/kelurahan wisata dampingan PIAR NTT di Kota Kupang dan Kabupaten Rote Ndao, pada Program Penanggulangan Dampak Covid 19 melalui Revitalisasi Desa Wisata Inklusi.

Hal tersebut disampaikan Direktur PIAR NTT Ir. Sarah Lery Mboeik didampingi Pendamping PIAR, Sefan Aome saat beraudiens dengan Tim Bank NTT, Jumat (18/03/2022) lalu di Kelurahan Oepoi.

Sarah dalam presentasi ke Tim Bank NTT menjelaskan, program tersebut untuk mengatasi masalah melalui peningkatan partisipasi masyarakat dalam pencegahan dan penanganan covid 19.

“Program Penanggulangan Dampak Covid 19 melalui Revitalisasi Desa Wisata Inklusi, untuk mengatasi masalah melalui peningkatan partisipasi masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, pemerintah desa, UMKM, aktor pariwisata lokal di empat desa dan empat kelurahan dalam penanganan dan pencegahan Covid 19 serta meningkatnya pendapatan kelompok UMKM, kelompok inklusi dan pengelola wisata dan masyarakat, jelas Sarah.

Empat kelurahan dalam Kota Kupang yang memenuhi kriteria katanya sebagai sasaran untuk diintervensi sebagai pilot project yakni LLBK, Kelapa Lima, Oesapa Barat dan Lasiana.

Untuk maksud tersebut ia meminta Bank NTT hadir pada kesempatan penguatan kapasitas kelompok untuk berbagi pengetahuan dan ketrampilan kepada mereka dalam penguatan kapasitas.

“Kami juga akan mengundang pihak – pihak yang mempunyai kapasitas untuk melatih mereka,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, pelaksanaan program itu akan disinergikan dengan kebijakan pemerintah setempat dimana melibatkan pemerintah kabupaten/kota, pemerintah desa/kelurahan, badan usaha milik desa, lembaga pembiayaan dan kelompok – kelompok inklusi.

“Mereka akan terlibat dari perencanaan sampai pemanfaatan program, sehingga tidak ada satupun kelompok kepentingan yang ditinggalkan sesuai prinsip no one left behind”, tandas Sarah.

Lebih lanjut mantan Senator ini menyampaikan syarat utama menjadi desa wisata yakni memiliki potensi wisata karena wisata alam, eko wisata, wisata kuliner dan historis yang dapat dimanfaatkan untuk atraksi wisata. Terlebih memiliki aksesibilitas, mempunyai hasil produksi local yang bisa dikembangkan seperti tenun atau produk makanan yang dapat dijadikan sebagai oleh – oleh.

Sarah Lery mencontohkan, kacang gula yang dijual PKL di Kota Kupang sejak ia masih kecil modelnya tidak.permah berubah. Behitupun dengan cara penyajian.

“Padahal kacang tersebut enak dan memiliki rasa yang khas dan nilai ekonomi yang tinggi jika dikemas secara baik”, ungkap Sarah.

Contoh lainnya, cemilan dibuat dari kacang di salah satu negara yang pernah dikunjunginya karena dikemas menarik dijual mahal dan dibeli sebagai oleh – oleh.

Merespon presentasi Direktur PIAR NTT, Johannis Tadoe mengemukakan apa yang disampaikan PIAR NTT menyangkut UMKM, sudah masuk dalam program Bank NTT selama ini.

“Itu sudah masuk dalam Program Bank NTT selama ini, bahkan sudah berjalan mensuport dan melakukan pendampingan”, kata Johannis Tadoe.

Intinya adalah saling mendukung, tambahnya.

“Yang sudah kuat dan memiliki kapasitatas akan memberikan penguatan kepada yang masih lemah”, harap Tadoe.

Diakuinya, Bank NTT memang belum mengidentifikasi penerima manfaat spesifik seperti yang disampaikan PIAR yakni kelompok inklusi. Kendati demikian, Bank NTT sudah mempunyai kebersamaan dengan kelompok perempuan melalui Jaringan Perempuan Usaha Kreatif (Jarpuk). Yang penting ujarnya masyarakat yang mau menambah penghasilan dan memenuhi syarat itu menjadi sasaran intervensi.

Sementara itu, Kepala Sub Divisi PEK DB, Reinhart RK Jo mengemukakan, Bank NTT dari segi pendampingan dan permodalan siap membantu melatih membangun jiwa entepreneur setiap pelaku ekonomi. Selain itu, ia mendukung dengan capacity building bagi penerima manfaat agar menjadi mandiri dan bisa mendapat akses permodalan dengan tetap memperhatikan ketentuan perbankan.

Sedangkan untuk kelompok inklusi perempuan dan difabel, Bank NTT berkolaborasi dengan Jaringan Perempuan Usaha Kreatif (JARPUK), memberikan akses permodalan di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.

Hadir dalam audiens bersama PIAR NTT, Tim Bank NTT yang dipimpin Johannis Tadoe, Kepala Divisi Kredit Mikro, Kecil dan Konsumen, Reinhart RK Djo, Kepala Sub Divisi PEK DB, Ade Roni Oematan, Kepala Sub divisi Pengembangan Produk dan Divisi Julian AB Messah, Pjs Kepala Sub Divisi P3 KAP, Gerson FS Tahitoe, Officier Pertanian dan Peternakan, Laviny S. Manesi Officer Desa Binaaan, Kristoforus Seda Officer Pariwisata dan Ekonomi kreatif, Ronald F. Lede, Officer Perdagangan dan KAP, Rendy Merah, serta Pelaksana, Aldryn B. Malada.

Foto : Diskusi Piar NTT dan Tim Bank NTT