CD Bethesda Gelar Workshop Bagi Tim Medis, WPA dan KDS di Belu

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – CD Bethesda Yakkum Area Belu menggelar workshop Optimalisasi Sistem Layanan Komprehensif Berkesinambungan dan Strategi Meminimalkan Lost To Follow Up ARV bertempat di Hotel Nusa 2 Kabupaten Belu.

Kegiatan berlangsung dua hari terhitung Jumat tanggal 26 hingga 27 November 2021 dihadiri perwakilan Dinas Kesehatan, Puskesmas Atambua Selatan, Ainiba, Atapupu, Silawan, Umanen, Wedomu, Halilulik, RSUD Atambua, RS Marianum Halilulik, KPA Belu, Warga Peduli AIDS (WPA) dan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS).

Koordinator CD Bethesda Yakkum Area Belu Yosafat Ician menuturkan, agar kepatuhan pada terapi ARV dan kualitas hidup ODHA dapat meningkat secara optimal, maka perlu dikembangkan suatu layanan perawatan komprehensif yang berkesinambungan.

Semula upaya pencegahan merupakan ujung tombak dalam pengendalian HIV di Indonesia karena jumlah anggota masyarakat yang terinfeksi HIV masih sedikit, sehingga kesempatan luas untuk mencegah penularan HIV di masyarakat.

Namun dengan semakin banyaknya orang yang terinfeksi HIV di Indonesia maka dibutuhkan upaya terapi dan dukungan pada saat dilaksanakan. Komponen LKB terdiri dari 5 komponan utama dalam pengendalian HIV di Indonesia, yaitu : pencegahan, perawatan, pengobatan, dukungan dan konseling.

“Layanan Perawatan Dukungan dan Pengobatan (PDP) sudah berjalan di RSUD Atambua, kerja sama antara layanan kesehatan dengan stakeholder terkait dalam upaya menekan angka kasus Lost to Follow up bagi ODHA sudah berjalan, namun belum optimal sehingga kasus LFU masih ada,” ujar dia.

Jelas dia, kasus LFU terjadi antara lain karena selama pandemic Covid-19, ODHA mengalami kecemasan dan ketakutan mengakses ARV di layanan kesehatan meskipun sudah diantasipasi dengan bantuan dari Pengelola Program HIV Puskesmas untuk mengambiikan obat.

“Selain itu proses verifikasi data kasus LFU tidak berjalan dengan optimal sehingga banyak ODHA yang tidak mengambil ARV karena meninggal atau rujuk keluar tidak terlaporkan ke layanan kesehatan sehingga dianggap LFU,” kata dia.

Lanjut Ician, disisi lain terjadinya LFU juga disebabkan oleh ODHA sendiri yang meliputi cara berfikir herbalis bahwa herbal bisa menggantikan ARV, belum terbuka dengan keluarga dan takut diketahui oleh pasangan, tidak patuh aturan minum ARV, bosan, sudah merasa sehat sehingga tidak melanjutkan minum ARV, pindah ke luar kota tanpa memberitahu layanan kesehatan sehingga sistem rujukan tidak berjalan.

:Ada 3 komponen dalam program Pencegahan Terpadu Penularan HIV dan AIDS di Kabupaten Belu yang saat ini dijalankan Bethesda, salah satunya adalah pencegahan secara biomedical atau pencegahan secara medis.

Melalui layanan kesehatan yang berkelanjutan dan holistik, diharapkan jumlah kasus putus ARV dapat ditekan. Kualitas layanan yang baik, akan mendorong ODHA untuk terus hidup sehat. Tentu kualitas layanan yang baik ini tidak terlepas dari sistem alur rujukan dan layanan.

“Oleh karena itu agar sistem alur rujukan dan layanan HIV dan IMS berjalan optimal, maka UPKM/CD Bethesda YAKKUM merasa perlu mengadakan Workshop selama dua hari bersama pihak Kesehatan, tim medis, WPA dan KDS,” terang dia.

Jelas Ician, tujuan kegiatan workshop selama dua hari yakni, memberikan pemahaman kepada peserta tentang kebijakan dan pedoman layanan komprehensif HIV dan IMS berkesinambungan. Memberikan pemahaman kepada peserta tentang sistem layanan dan alur rujukan BPJS bagi pasien ODHA.

Memberikan pemahaman kepada peserta tentang penanganan kasus LFU dan layanan ARV melalui sharring antar peserta dan memberikan pemahaman kepada peserta tentang perbaikan akses ARV dan pemantauan kasus LFU melalui diskusi kelompok dan presentasi C.

Adapun output yang diharapkan yakni, peserta kegiatan memahami tentang kebijakan dan pedoman layanan komprehensif HIV dan IMS berkesinambungan. Peserta memahami tentang sistem layanan dan alur rujukan BPJS bagi pasien ODHA.

Selain itu, peserta memahami tentang penanganan kasus LFU dan layanan ARV dari masing-masing Puskesmas dan Rumah Sakit. Ada rumusan perbaikan akses ARV dan pemantauan kasus LFU bagi Puskesmas dan Rumah Sakit dan ada kesepakatan bersama tentang sistem layanan, alur rujukan dan strategi menurunkan LFU.

Untuk diketahui, kegiatan workshop tersebut menghadirkan narasumber Plt Kepala Dinas Kesehatan Belu, Wakil Direktur CD Bethesda Yakkum Jogyakarta dan BPJS Cabang Belu.