Dua Tahun Memimpin, RS Gabriel Manek Utamakan Pelayanan Prima Bagi Pasien

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenowcom – Dua tahun memimpin Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mgr. Gabriel Manek Atambua, dr. Ansila Eka Muti terus melakukan pembenahan di semua bidang pelayanan.

Hal tersebut tak lain untuk meningkatkan pelayanan yang prima terhadap kesehatan masyarakat sebagai pasien di Kabupaten Belu juga tetangga, Timor Barat wilayah perbatasan RI-RDTL.

“Sejak dua tahun lalu hingga saat ini, kita terua lakukan evaluasi untuk meningkatkan semangat kerja dalam rangka memberikan pelayanan terbaik kepada pasien yang butuh pelayanan kesehatan,” ujar Direktur RS Gabriel Manek Atambua, dr. Ansila Eka belum lama ini.

Dikemukakan, upaya pembenahan yang dilakukan mulai dari fasilitas hingga pelayanan di setiap bidang.
Selain itu, pembenahan terhadap profesionalisme tenaga medis (SDM) untuk melayani juga terus dilakukan. Termasuk hak (Tunjangan Kinerja) baik tenaga fungsional murni maupun bagian penunjang.

“Kalau dulu semua hal saya ikuti (kontrol), bahkan sampai angkat sampah saya ikuti. Sekarang sudah hampir 7-8 bulan ini saya sudah mulai lepas,” kata dia.

“Saya berusaha dan berharap satu tahun lagi sudah bisa lepas sama sekali, artinya semua bekerja secara professional melaksanakan kewajibannya tanpa harus terus menerus dikontrol pimpinan,” tambah dr. Ansila.

Akui dia, di tengah upaya untuk menghadirkan kesempurnaan pelayanan, senantiasa datang yang namanya complain dan keluhan dari masyarakat sebagai pasien.
“Kesempurnaan itu hanya milik Tuhan. Tapi kita tetap terus berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik,” ucap dia.

Disebutkan, komplain dan keluhan yang sering terjadi menyoal pelayanan terhadap masyarakat pemegang Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan BPJS tanggungan pemerintah (Penerima Bantuan Iuran). Termasuk pengelolaan terhadap data KK miskin untuk mendapatkan pelayanan secara gratis.

Mengenai data ini jelas dia, memang kami sudah koordinasi selama saya menjabat Direktur sudah tiga kali tapi tidak bisa selesai. Karena dananya itu (penerima bantuan iuran) ada di Dinas Kesehatan, Dinkes akan mengeluarkan dana itu kalau ada data dari Dinsos.

Lanjut dia, data dari Dinas Sosial selama ini kan kurang baik. Jadi Dinas Kesehatan tidak mengeluarkan uang. Sasarannya di kami (Rumah Sakit), karena masyarakat datang berobat. Bagi kami begitu masyarakat datang berobat, ada kartu ya gratis, kalau tidak ada kartu, tetap bayar.

“Sebenarnya tugas kami hanya itu. Selama ini karena ngurus begitu, jadi kesannya administrasi berbelit-belit,” ujar Ansila.

Saat ditanyai soal kelambanan pelayanan dokter di Unit Gawat Darurat (UGD), Jelas Direktur Ansila bahwa prosedur setiap Rumah Sakit di UGD menganut sistem triase gawat darurat medis. Dimana, dokter dan tim diharuskan untuk mendahulukan pasien yang kondisinya lebih gawat.

”Pelayanan di UGD tidak lama, kita ada namanya sistem triase. artinya yang parah yang harus di dahulukan. Kedepan kita akan terus benahi pelayanan guna hadirkan pelayanan yang terbaik demi menjawab kebutuhan kesehatan warga,” kata Ansila.