Ekonomi NTT Tahun Ini Diprediksi Tumbuh 5,38 Persen
Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Timur (NTT) memprediksi pertumbuhan ekonomi NTT tumbuh 5,38 persen secara tahunan (yoy). Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2017 sebesar 5,16 persen.
Hal ini disampaikan Kepala KPw BI NTT, Tigor Naek Sinaga kepada wartawan dalam konferensi pers di Kupang, Rabu (14/3/2108).
“Perekonomian NTT pada triwulan ll 2018 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,20% 5,60% (yoy),” ungkap Sinaga.
Menurut Sinaga, dari sisi pengeluaran, perekonomian masih akan ditopang konsumsi rumah tangga dan peningkatan investasi, sementara dari sisi sektoral akan didorong oleh sektor konstruksi, perdagangan besar dan eceran, informasi dan komunikasi serta administrasi pemerintahan, selain tetap ditopang oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.
“Faktor risiko yang perlu diwaspadai terutama dari sisi domestik di antaranya hasil produksi pertanian dan perikanan yang masih sangat bergantung kondisi cuaca, kelanjutan pembangunan infrastruktur yang tidak sesuai target karena terpengaruh adanya Pilkada serta adanya pemotongan belanja pemerintah,” katanya.
Dia mengungkapkan, tekanan harga pada triwulan II 2018 dan keseluruhan 2018 diperkirakan masih pada kisaran inflasi nasional 3,5%11,0%, masing- masing pada kisaran 3,20% 3,60% (yoy) dan 4,00 4,40% (yoy) dengan adanya potensi pembalikan arah harga pada tahun 2018 pasca inflasi yang rendah pada tahun 2017.
Terkait pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2017, menurut Sinaga, sedikit melambat apabila dibandingkan tahun 2016. Ekonomi tumbuh sebesar 5,16% (yoy) sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu sebesar 5,17% (yoy).
“Indikator konsumsi yang terdiri dari konsumsi rumah tangga, lembaga non profit rumah tangga dan pemerintah seluruhnya menunjukkan peningkatan pertumbuhan, begitu pula Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB) / investasi,” ujarnya.
Namun demikian, kata Sinaga, peningkatan PMTB/investasi dan konsumsi yang sejalan dengan peningkatan impor barang modal maupun konsumsi, baik dari dalam negeri dan luar negeri, menyebabkan PDRB Provinsi NTT tergerus dan perekonomian tidak mampu tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

