BLHD Fokus Buat Sumur Resapan Tangkapan Air di Kota Kupang
Laporan Nyongki Mauleti
Kupang, NTTOnlinenow.com – Mengantisipasi minimnya ketersediaan air tanah di wilayah Kota Kupang, kerena kemarau yang berkepanjangan, BLHD Kota Kupang melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) yang bersumber dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, delapan tahun terakhir hingga tahun 2016 ini, terus fokus mengadakan sumur-sumur resapan di sepanjang daerah tangkapan air di Kota Kupang.
Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah, BPLHD Kota Kupang, Danberty Ebenhaizer Ndapamerang mengatakan, daerah-daerah tangkapan air yang menjadi titik pembuatan sumur resapan air itu pada umumnya berada di wilayah Selatan Kota Kupang, antara lain meliputi wilayah Fatukoa, Naioni, Belo, Naimata, Sikumana, dan wilayah Alak.
Ia menjelaskan, alasan wilayah-wilayah tersebut ditetapkan sebagai daerah tangkapan air oleh BPLHD karena berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, di bawah tanah Kota Kupang ini terdapat Tiga aliran sungai bawah tanah yang mengalir dari bagian Selatan menuju ke bagian Utara kota kupang. Dan Tiga sungai bawah tanah tersebut bermuara ke laut teluk kupang.
Selain itu, Ia juga mengaku, saat ini BPLHD juga telah berkoordinasi dengan Dinas Tata Ruang Kota Kupang untuk mewajibkan setiap pengurusan Izin Mendirikan Bangunan oleh warga Kota Kupang, harus membuat sumur resapan air di lingkungan pekarangannya. Hal itu bertujuan agar air hujan yang turun di musim hujan bisa tertampung dan teresap ke dalam tanah melalui sumur resapan, dan tidak mengalir begitu saja di jalanan ataupun drainase-drainase yang ada.
Terkait kualitas air tanah yang ada di wilayah Kota Kupang, Ndapamerang mengaku, air tanah di wilayah Kota Kupang saat ini pada umumnya telah tercemar oleh bakteri tinja, yakni bakteri Ekoli, akibat kebiasaan warga Kota Kupang yang menempatkan lubang penampungan kotoran dari WC ke dalam lubang alam. Sedangkan, lubang-lubang tersebut terhubung secara langsung dengan sungai-sungai bawah tanah.
Ia mengatakan, salah Satu sumber mata air di Kota Kupang yang paling tercemar bakteri Ekoli adalah mata air Oeba.
Oleh karena itu dirinya menghimbau, seluruh air bersih yang bersumber dari air tanah di Kota Kupang, sebelum dikonsumsi oleh masyarakat, terlebih dahulu harus dididihkan secara baik.

