Dilanda Kemarau Panjang, Warga Silawan Perbatasan Belu Krisis Air Bersih
Laporan Yan Manek
Atambua,NTTOnlinenow.com-Krisis air bersih yang melanda Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL mengakibatkan kemarau panjang berdampak pada sumber mata air mulai mengering.
Kondisi tersebut turut dirasakan masyarakat Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur. Sudah berjalan lima bulan terakhir, masyarakat setempat mengalami kesulitan air bersih.
Guna memenuhi ketersediaan air bersih, masyarakat Silawan terpaksa harus mendorong gerobak untuk mendapatkan air bersih dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saat ini, warga memanfaatkan air di bak penampungan umum, yang disediakan meskipun dengan debit air yang semakin menurun. Bahkan saat ketersediaan air berkurang warga harus mencari alternatif lain untuk perolehan air bersih.
Kobus Berek salah seorang warga Desa Silawan mengatakan, kesulitan air bersih di saat musim kemarau panjang menjadi persoalan yang wajar yang dialami warga.
Tidak terdapat ketersediaan sumur bor dan bak penampung air tambahan, membuat warga harus berbondong-bondong dengan memanfaatkan bak penampung yang tersedia di wilayah setempat.
“Saat ini memang air sudah mulai berkurang, debitnya semakin menurun. Kami juga sudah waspada, memasuki bulan November kondisi ini akan semakin parah,” ujar Kobus, Selasa (10/10/2026).
Terkait persoalan tersebut, perlu adanya perhatian serius dari Pemerintah untuk membantu mengatasi kesulitan air bersih yang dialami masyarakat Desa Silawan.
Seperti penambahan sumur bor dan bak penampung air untuk jangka panjang. Sementara itu, untuk langkah daruratnya membantu penyaluran air bersih bagi masyarakat guna memenuhi kebutuhan air bersih.
“Kalau ini air habis kami harus cari di tempat lain, dan ini jaraknya lumayan jauh 1 sampai 3 kilo lebih. Jarak yang jauh kadang pake gerobak dorong, kadang pake motor,” ungkap Kobus.
Dia menambahkan, perlu juga ada pembangunan sarana tambahan penampungan air, perbaikan jaringan distribusi agar saat memasuki musim kemarau persoalan serupa tidak terulang lagi.
Lanjut Kobus, kesulitan air bersih yang dialami menjadi pengingat bahwa akses terhadap air bersih harus menjadi perhatian serius sehingga perlu adanya penguatan koordinasi untuk hadirkan solusi nyata agar masyarakat tidak berjuang sendiri untuk mendapatkan air bersih.

