Penarikan Mahasiswa KKNT Gentaskin, Wabup Vicente : Terimakasih Atas Dedikasi dan Pengabdian untuk Warga Belu
Laporan Yan Manek
Atambua, NTTOnlinenow.com – Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves hadiri penarikan peserta program Mahasiswa Berdampak KKN Tematik Gerakan NTT Sehat, Kuat dan Inklusif (Gentaskin) bertempat di Gedung Betelalenok perbatasan RI-RDTL, Senin (31/8/2026).
Sebanyak 146 Mahasiswa berdampak KKNT Gestakin tahun 2026 telah menyelesaikan masa pengabdian kurang lebih dua bulan yang tersebar di Desa Tialai, Fulur, Halimodok, Maudemu, Leowalu, Renrua, Teun, Tukuneno, Umaklaran dan Tulakadi.
Wabup Vicente dalam sambutannya menyampaikan secara khusus kepada adik-adik mahasiswa, terima kasih atas waktu, tenaga, pikiran, kreativitas dan pengabdian yang telah diberikan selama berada di tengah masyarakat Belu.
“Ada satu kata penting dalam nama program ini, yaitu BERDAMPAK. Kita tidak ingin mahasiswa hanya datang ke desa, melaksanakan kegiatan, kemudian pulang dan semuanya selesai,” tegas dia.
Vicente menyampaikan, kita ingin kehadiran mahasiswa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ada pengetahuan yang ditinggalkan, keterampilan yang dibagikan, inovasi yang diperkenalkan, persoalan yang dipahami, dan kalau memungkinkan, ada perubahan yang dapat dilanjutkan oleh masyarakat.
“Karena itu, ukuran keberhasilan KKN bukan hanya berapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi apa yang tersisa setelah mahasiswa meninggalkan desa. Jika masyarakat masih mampu melanjutkan sesuatu yang telah dimulai bersama, maka di situlah kita melihat sebuah dampak,” ujar dia.
Menurut Vicente, tema GENTASKIN, yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan, juga sangat relevan dengan pembangunan Kabupaten Belu. Kemiskinan bukan hanya persoalan pendapatan, tetapi juga berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keterampilan, produktivitas dan berbagai persoalan sosial ekonomi lainnya.
“Karena itu, pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat. Mahasiswa membawa ilmu dan gagasan baru, masyarakat memiliki pengalaman dan pengetahuan lokal, pemerintah memiliki kebijakan dan program pembangunan. Jika semuanya kita satukan, saya yakin akan lahir solusi yang lebih tepat dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat,” ungkap dia.
Masih menurur dia, selama berada di Belu, jangan hanya melihat kekurangan masyarakat. Dia juga mengajak adik-adik untuk melihat juga kekuatan dan potensi masyarakat kita. Lihat pertanian, peternakan, UMKM, ekonomi kreatif, budaya, pariwisata, dan yang paling penting, semangat masyarakat Belu.
“Datanglah dengan kerendahan hati. Belajarlah mendengar sebelum berbicara. Pahami persoalan sebelum menawarkan solusi. Hormati adat, budaya dan kearifan lokal, karena masyarakat bukan sekadar objek pembangunan. Masyarakat adalah subjek pembangunan,” kata dia.
“Saya percaya, selama berada di Belu, saudara-saudara tidak hanya memberikan sesuatu kepada masyarakat, tetapi juga mendapatkan pelajaran berharga tentang kehidupan, ketekunan, gotong royong, kesederhanaan dan bagaimana menyelesaikan persoalan bersama,” tambah Vicente.
Dia juga menyampaikan sedikit terkait dinamika yang terjadi selama pelaksanaan KKN, khususnya di Desa Renrua, Kecamatan Raimanuk, antara beberapa oknum pemuda masyarakat dengan mahasiswa.
Karena itu, atas nama Pemerintah Kabupaten Belu, Vicente menyampaikan permohonan maaf yang setulus-tulusnya kepada pihak perguruan tinggi, para dosen, dan terutama kepada adik-adik mahasiswa apabila peristiwa tersebut telah menimbulkan rasa kurang nyaman selama menjalankan tugas dan pengabdian di Kabupaten Belu.
Vicente berpesan kepada mahasiswa yang kembali ke kampus, Belu adalah sahabat. Saudara datang ke Belu sebagai mahasiswa, tetapi kami berharap saudara pulang dari Belu sebagai sahabat. Jangan membawa pulang satu peristiwa kecil sebagai gambaran tentang seluruh masyarakat Belu. Karena di balik dinamika yang mungkin saudara alami, ada begitu banyak masyarakat Belu yang telah membuka pintu rumah, membuka hati dan menerima saudara-saudara sebagai bagian dari keluarga.
“Saudara adalah tamu, saudara adalah keluarga, dan saudara adalah sahabat. Karena itu, ketika suatu saat nanti ada orang bertanya “Apa yang saudara ingat tentang Belu?” Saya berharap jawabannya bukan hanya: “Saya pernah KKN di Belu.” Tetapi :
“Saya pernah datang ke Belu dan saya pulang membawa sahabat.” Itulah Belu. Belu adalah sahabat,” timpal dia.
Lebih lanjut Vicente menyampaikan terima kasih kepada para camat, kepala desa dan seluruh masyarakat yang telah menjadi tuan rumah. “Saya berharap hasil-hasil positif selama KKN tidak berhenti ketika mahasiswa kembali ke kampus,” ungkap dia.
Turut hadir dalam acara tersebut, Dandim 1605/Belu, Dansatgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonarmed 12 Kostrad, para dosen dan dosen pendamping serta sejumlah pimpinan OPD Belu.

