Kesiapan Satgas Covid-19 Belu Tangani Karantina Pelaku Perjalanan dari Timor Leste Belum Maksimal
Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Anggota DPRD Kabupaten Belu, Benediktus Halle, Kristo Duka dan Apri Hale melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi karantina pelaku perjalanan WNI dan WNA di dua lokasi yakni Hotel Paradiso dan Hotel Timor, Selasa (11/1/2022).
Kepada media, Benediktus Halle menjelaskan bahwa sidak bersama dua anggota DPRD Belu hari ini karena ada mendapat informasi bahwa ada pelintas batas atau pelaku perjalanan yang dikarantinakan di hotel Paradiso dan hotel Timor.
“Kami mau cari tahu data di lapangan itu kondisi seperti apa. Ternyata mulai dari perbatasan Mota’ain sampai ke tempat karantina memang ada kesulitan bagi mereka pelintas batas,” ujar dia.
Jadi kesulitan bagi pelintas itu jelas Halle, ada warga Indonesia yang rumahnya di Atambua, tidak punya uang tidak punya uang yang minta dikarantina di rumah tidak bisa. Begitu juga pelaku perjalanan yang melakukan perjalanan ke tempat akhir di Kupang dan luar pulau Timor dikarantinakan.
“Yang dikeluhkan itu masalah biaya, dia harus bayar hotel, makan cari sendiri dan celakanya satu kamar dua orang. Padahal mereka dikarantinakan itu ada indikasi karena itu mau tidak mau satu orang harus satu kamar,” ujar Ketua Fraksi Golkar DPRD Belu itu.
Dikatakan, pihaknya mendukung aturan Pemerintah soal karantina, tapi mungkin penanganannya harus lebih berkualitas. Karena tadi diperoleh informasi selama mereka karantina di hotel Paradiso petugas medis kesehatan belum mengecek suhu badan serta keluhannya pelibas.
“Seperti tadi di hotel Paradiso, petugas Kesehatan datang hanya cek daftar hadir orangnya tidak. Ini yang diperhatikan kesehatan daftar hadir atau kesehatan warga pelaku perjalanan. Padahal ini sudah hari kedua,” ungkap dia.
Terkait hal tersebut, Mantan Wakil Ketua DPRD Belu itu menegaskan kesiapan Satgas Covid-19 dan pihak Dinkes belum mantap. Oleh karena itu harus lebih tingkatkan kualitas pelayanannya bagi mereka pelaku perjalanan.
“Dengan kita sidak ke lokasi hari ini, banyak informasi yang didapat. Ini akan kami agendakan untuk rapat koordinasi bersama Satgas supaya mutu pelayanan ini lebih maksimal. Sehingga pelaku perjalanan mereka mendapat perhatian serius juga meminimalisir keluhannya,” tutup dia.
Anida Prima Dasilva salah seorang WNA asal Timor Leste kepada media menuturkan, dirinya telah melakukan rapit tes dengan biaya Rp 110.000 saat masuk ke wilayah Indonesia melalui PLBN Mota’ain dan Pasport masih berada di pihak Imigrasi selama jalani karantina.
“Saya dari Dili tujuan ke Kupang untuk kuliah namun harus dikarantina dulu disini 7 sampai 10 hari. Untuk biaya makan saya bersama teman 60 ribu sekali makan dan biaya hotel per hari sebesar 130 ribu kelas biasa,” terang Dasilva.

