Bethesda Yakkum Gelar Pelatihan Pembuatan Obat Herbal Bagi WPA dan KDS

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – CD Bethesda Yakkum Yogjakarta Cabang Belu menggelar Training of Trainer (ToT) tentang obat tradisional untuk menjaga kondisi kesehatan ODHA di Hotel Nusa II, Kabupaten Belu wilayah Timor Barat perbatasan RI-RDTL, Sabtu (8/5/2021).

Disaksikan media, peserta latihan terdiri dari Warga Peduli AIDS (WPA), Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) dan Layanan Kesehatan yang berjumlah 20 orang (binaan dan dampingan Bethesda Yakkum) menerapkan Prokes Covid-19.

Kegiatan tersebut dihadiri Koordinator CD Bethesda Yakkum Cabang Belu serta instruktur dari Yogyakarta yang berprofesi sebagai apoteker dan juga praktisi komunitas herbal Yogyakarta.

Jemy Boy Kotta selaku Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia pada BP4D Kabupaten Belu mengatakan, kegiatan pelatihan pembuatan obat tradisional ini sangat positif di tengah pandemi Covid-19.

Kegiatan ini juga lanjut dia sangat inovasi dan sangat mendukung pemerintah Kabupaten Belu dalam menjaga kesehatan warga masyarakat Kabupaten Belu.

“Kegiatan ini juga sejalan dengan visi misi Bupati dan Wakil Bupati Belu yakni, mewujudkan Belu yang sehat, berkarakter dan kompetitif,” ujar Boy Kotta dalam sambutannya saat membuka kegiatan itu.

Sebelumnya itu, Koordinator CD Bethesda Yakkum Cabang Belu, Yosafat Acian mengatakan, pelatihan pembuatan obat tradisional dilaksanakan selama dua hari kedepan hingga Senin pekan depan.

“Di hari pertama peserta diberikan teori-toeri dan pengenalan bahan baku seperti tanaman bumbu dapur.
Sementara hari keduanya praktek meramu, meracik bahan baku menjadi obat tradisional yang nantinya dikonsumsi untuk menjaga kondisi kesehatan para ODHA,” terang dia.

“Untuk hari ini kita lebih banyak mengenal jenis-jenis tanaman bumbu dapur yang bisa diramu dan diracik jadi obat herbal. Bahan bakunya mudah didapat dan murah meriah”, tambah Yosafat.

Lanjut dia, Output dari kegiatan ini peserta pelatihan memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk meramu dan meracik obat tradisional minimal untuk golongan jamu. Pelatihan ini akan terus berlanjut, sehingga kedepannya peserta bisa membuat obat tradisional seperti obat herbal lain yang berstandar.

Diharapkan, peserta dapat mengikuti kegiatan pelatihan secara serius sampai selesai, sebab ini melatih pelatih untuk menjadi pelatih. Sehingga setelah kegiatan itu, peserta memiliki kemampuan dan bisa membuat obat herbal serta bisa melatih warga lain.

Sementara itu, Pungkas Widiasmoro selaku instruktur latihan menuturkan, para peserta sangat respon dalam kegiatan pelatihan obat tradisional ini dan bisa dibagikan ke warga lainnya. Juga bisa ditindaklanjuti oleh pemerintah dalam pembuatan obat herbal.

“Obat ini bukan untuk mencegah penyakit, tapi untuk mengatasi efek samping dari minum, orang ODHA yang minum obat kadang pusing, mual, muntah jadi untuk atasi itu bukan obati,” terang Pungkas yang juga staf UPKM CD Bethesda Yakkum Yogyakarta.