Dua Kelurahan di Belu, Tulamalae dan Umanen Susun Rencana Aksi Penanggulangan HIV dan AIDS

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – CD Bethesda Yakkum cabang Belu bekerjasama dengan Keluruhan Tulamalae dan Umanen, Kecamatan Atambua Barat melakukan workshop Penyusun Rencana Aksi Penanggulangan HIV dan AIDS.

Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Camat Atambua Barat, Kabupaten Belu wilayah Timor Barat perbatasan RI-RDTL, Jumat (4/12/2020).

Penyusunan rencana aksi ini berbasis hasil kunjungan Tim SALT terkait potensi, kekuatan, perhatian, harapan dan cita-cita dari Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) serta Orang Hidup Dengan HIV & AIDS (OHIDA).

Diketahui, dari hasil kunjungan Tim SALT di dua kelurahan yakni, Tulamale dan Umanen ternyata banyak potensi, kekuatan, harapan dan cita-cita dari ODHA dan OHIDA yang mesti menjadi perhatian pemerintah. Tim SALT mengunjung 11 kepala keluarga Juni 2020.

Tim SALT dalam paparan menjelaskan, kekuatan yang dimiliki antara lain, ODHA memiliki tubuh sehat dan bisa melakukan aktivitas setiap hari memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Memiliki keluarga yang mendukung mereka, membantu merawat seperti, suami, istri, anak, cucu, tanta dan paman.

Dari 11 KK, ada sembilan KK memiliki tanah dan rumah sendiri, berpendidikan SD, SMP, SMA bahkan ada satu ODHA sempat kuliah namun tidak selesai. Ada ODHA yang membuka usaha seperti kios, bengkel, menjual ikan dan ojek.

Perhatian utama yang perlu dilakukan terhadap ODHA saat ini adalah meliputi beberapa aspek seperti aspek ekonomi. ODHA mengharapkan kepada pemerintah agar membantu modal usaha, membantu perumahan.

Sedangkan, aspek pendidikan, memberikan bantuan pendidikan, menerima anak-anak di sekolah tanpa diskriminasi. Aspek kesehatan, ODHA mengharapkan bantuan jaminan kesehatan seperti JKN, mendapatkan obat ARV secara rutin dan mendapat asupan gizi.

Pada aspek sosial, tidak ada lagi stigma negatif dan diskriminasi dari masyarakat sekitar. Mereka diterima dan kembali berkativitas bersama teman-teman



Sementara itu, harapan dan cita-cita ODHA antara lain, mereka ingin sehat, memiliki rumah sendiri, ingin kembali sekolah, mendapat modal usaha dan menjaga rumah tangga dan keluarga tidak menular HIV/AIDS.

Yulius Fahik selaku Kepala Puskesmas mengatakan, kegiatan tersebut mesti menghasilkan suatu rencana aksi yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat.

“Kepada masyarakat agar tetap setiap dengan pasangan. Bila ada warga, entah suami atau istri yang bekerja di rantuan agar disaat pulang harus berinisiatif untuk melakukan pemeriksaan di puskesmas,” pinta Fahik dalam arahannya.

Koordinator Wilayah CD Bethesda Yakkum Belu, Yosafat Acian dalam pemaparan singkatnya menjelaskan, penanggulangan HIV dan AIDS dibutuhkan keterlibatan bersama.

Dijelaskan, ada empat alasan mendasar pertama, kasus HIV dan AIDS di Kabupaten Belu menempati urutan kedua di NTT setelah Kota Kupang; kedua, kasus kematian Kabupaten Belu menempati nomor satu; Ketiga, HIV dan AIDS menyerang usia produktif 24-49 tahun paling banyak.

Sementara Keempat, penderita HIV dan AIDS terbanyak adalah profesi ibu rumah tangga. Keempat hal mendasar ini yang harus dipikirkan secara bersama-sama, baik pemerintah maupun stakeholder dan masyarakat sendiri.

Kesempatan itu, Yosefat mengajak peserta agar hindari stigma negatif kepada ODHA dan terimalah mereka untuk hidup berdampingan dalam kehidupan sosial masyarakat.

“Sebab, penularan HIV dan AIDS bukan karena makan bersama, hidup serumah, duduk bersama, berpelukan bahkan berciuman tetapi melalui darah, cairan vagina, cairan sperma dan air susu ibu,” pungkas Yosefat.