Atasi Penggangguran, Disnakertrans Belu Bekali Pemuda Ikut Pelatihan Keterampilan di BBPLK

Bagikan Artikel ini

Atambua, NTTOnlinenow.com – Pemkab Belu dibawa pemerintahan Willybrodus Lay-J.T Ose Luan melalui Dinas Ketenaga Kerjaan dan Transmigrasi melakukan terobosan untuk mengurangi angka pengangguran di wilayah perbatasan Belu dengan Negara Timor Leste.

Salah satu terobosan yang dilakukan sebagai bentuk kehadiran pemerintah saat masyarakat kesulitan adalah membuat pelatihan keterampilan dan pengiriman tenaga kerja antar daerah (AKAD).

Demikian Kepala Dinas Ketanagakerjaan dan Transmigrasi Belu, Laurensius Nahak kepada media belum lama ini.

Jelas dia, untuk pelatihan keterampilan, Dinas Ketenagakerjaan Belu mengakses dana Desmigrasi dari Kemenaker. Supaya memberikan pelatihan berbagai keterampilan bagi pencari kerja khusus anak-anak putus sekolah dan pemuda pengangguran di Belu.

“Khusus pencari kerja dan anak-anak putus sekolah, pelatihan keterampilan bagi mereka menggunakan dana Kemenaker, dan dinas hanya membantu uang saku sebesar Rp 2,5 juta. Supaya menjaga jangan sampai anak-anak yang dikirim mengikuti pelatihan sakit,” ucap dia.

Dikatakan bahwa, pelatihan keterampilan bagi anak-anak yang putus sekolah maupun pemuda pengangguran, menggunakan dana Desmigrasi dari Kemenaker dikhususkan bidang kelistrikan, perbengkelan, pengelasan kepariwistaan dan menjahit.

“Dalam pelatihan itu Dinas Ketenagakerjaan Belu bekerjasama dengan Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) di Medan, Semarang, Bandung, Bekasi, Serang-Banten,” terang Mantan Kabag Ekonomi Setda Belu itu.

Dijelaskan bahwa, khusus pelatihan listrik dan pengelasan di BBPLK, Seran-Banten Dinas Ketenagakerjaan Belu mengirim 12 orang untuk pelatihan selama 3 bulan. Sebelum berangkat ke Serang-Banten, kami di dinas bertanya ke mereka apakah di rumah ada bengkel atau tidak, dan apakah mereka memiliki keahlian dasar atau tidak untuk mengenal bagaimana listrik, pengelasan dan lainnya.

“Ternyata semua pemuda ini tidak memiliki dasar pengetahuan sama sekali. Tetapi saat ini mereka sudah kembali dan mereka memiliki kemampun yang dibutuhkan dunia kerja maupun bisa mandiri,” ujar Nahak.

Diharapkan, bagi pemuda-pemuda yang telah mengikuti pelatihan di BBPLK Serang-Banten baik di perbengkelan las dan listrik harus bisa mandiri dengan peralatan yang mereka miliki. Kalaupun belum mandiri, maganglah dengan para pemilik bengkel las di Belu.

“Sambil menyusun proposal yang ditujukan ke dinas supaya dibantu peralatan untuk berusaha. Tetapi harus dalam bentuk kelompok karena dana bantuan di dinas merupakan uang negara yang harus dipertanggungjawabkan,” ungkap dia.

Masih menurut dia, sedangkan BBPLK Medan Pemkab Belu menyiapkan 12 orang untuk dikirim, tetapi karena pandemi covid-19 maka hanya 2 orang yang diterima di Medan yakni Yovita Sose Kali dan Stefanus Dandi Koli.

Pelatihan keterampilan di BBLK Medan bertujuan untuk mendapatkan tenaga profesional di bidang pariwisata. Karena Pemkab Belu, mendukung program pariwisata yang digalang gubernur NTT. Sehingga tenaga yang terlatih di Medan akan ditempatkan di lokasi wisata seperti Fulan Fehan dan Teluk Gurita sebagai Tour Leader.

Tambah Nahak, pihaknya juga mengirim 8 orang ke BBPLK, Semarang untuk dilatih menjahit. Kini sudah ada yang hidup mandiri di Lolowa, Kelurahan Lidak kec Atambua Selatan, Dualaus, Kecamatan Kakulukmesak maupun Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur.

Kesempatan itu, salah seorang pemuda peserta pelatihan Yohanes Bosko Bere, memberikan testimoni pelatihan yang diikuti mereka khususnya di teknik instalasi kelistrikan berjalan selama 1 bulan. Kami yang mengikuti pelatihan teknisi instalasi listrik sebanyak 8 orang.

Akui dia, hasil dari pelatihan itu, saat ini kita memiliki kemampuan merakit box panel listrik dan memahami manufaktur secara umum. Setelah pelatihan, pihak BBPLK Serang-Banten menguji kompetensi yang kami miliki untuk diberikan sertifikat baik dari balai latihan dan badan sertifikasi nasional (BSN). Pemberian sertifikat sebagai pengakuan atas kompetensi yang kami miliki dan diakui bisa diterima bekerja di mana saja.

Jadi setelah kembali dari Serang-Banten, kami tidak mau selesai di pelatihan saja. Tentunya sebagai alumni pelatihan tidak memiliki modal untuk memberi peralatan sehingga kita mengharapkan bantuan dari pemerintah supaya memberikan peralatan. Agar kita bisa hidup mandiri dan tidak kembali jadi pengangguran padahal ada kemampuan tetapi tidak bermodal.

Sedangkan lanjut Bere, khusus listrik peralatan yang dibutuhkan adalah testpen, voltmeter, bor, oben, wire crimpers/tang, slotted screw-drivers/obeng minus, senter, dan cuter. Karena kami belum memiliki modal untuk membeli peralatan itu semua untuk hidup mandiri.

Kabid Pelatihan dan Penempatan tenaga kerja Dinasnakertrans Belu Ivon Letto mengakui bahwa membina jiwa berwirausaha dari pemuda-pemuda di mana saja maupun di Belu itu masih sulit. Sehingga mereka yang mengikuti pelatihan di Serang-Banten akan dimonitor terus setelah dibekali pelatihan dan peralatan.

“Karena terkadang peralatan yang difasilitasi pemerintah dijual oleh para pemuda setelah mengikuti pelatihan dan diberi peralatan,” ujar Letto.

Diharapkan, bagi pemuda-pemuda yang baru pulang pelatihan dari Serang-Banten membuat proposal untuk diberi peralatan. Tetapi jangan sekali-kali menjual peralatan tersebut karena akan dipantau terus supaya dilaporkan ke kementerian.

“Jadi anak-anak yang mengikuti pelatihan harus produktif bukan semua menganggur seperti sebelumnya. Karena harus ada laporan ke Kemenaker nanti,” sebut dia.

Lebih lanjut jelas Letto, selain pelatihan untuk mengatasi tingginya pengangguran, Dinas Ketenagakerjaan juga bekerja sama dengan beberapa provinsi di antara lain Jambi, Tangerang, Medan dan Jakarta untuk pengiriman tenaga kerja antar provinsi. Sebab pengiriman PMI ke luar negeri dihentikan karena pandemi. (YB/Advetorial-Dinas Kominfo Belu)