Mesti Ada Supporting System Topang Rumah Harapan GMIT

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Rumah Harapan GMIT (RH) tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri. Mesti ada supporting system untuk menopang mereka agar dapat terus berkarya bagi kemanusiaan dan bagi pemenuhan Visi Kerajaan Allah. Karena itu, peran GMIT di semua lingkup mesti lebih mengakomodir berbagai kebutuhan RH GMIT, sehingga RH dapat terus eksis dalam kancah kehidupan masyarakat dan gereja.

Demikian refleksi khotbah Pdt. Julian Widodo, STh,MTh terbaca dari I Timotius 4:1-16 yang disampaikan dalam kebaktian kedua di Jemaat GMIT Maranatha OEbufu, Minggu (27/9). Dalam kebaktian ini dikukuhkan Pengurus RH GMIT Periode Tahun 2020-2023.

Menurut dia, mereka (Pengurus RH GMIT red) adalah seorang disipulus atau disciple dalam pengertian seorang murid Kristus yang patut diteladani dalam arti yang nyata, karena mereka mau mencintai sesama dengan menjadi sesama bagi orang yang setengah mati, tak berdaya , tanpa pertolongan. “Itulah wujud mencintai sesama sebagaimana Yesus mencintai kita sekalian,” ujarnya.

Lebih lanjut dikemukakan yang dibaca hari ini maka kesembilan Pengurus RH GMIT yg diperhadapkan ini adalah orang orang pilihan orang orang dengan disiplin rohani yang luar biasa. “Karena dalam konteks kita NTT, tanpa disiplin rohani yang kuat rasanya sulit menemukan orang orang yang rela membuang waktunya, biaya dan tenaga untuk mengurus sesamanya,” tegasnya seraya menambahkan hanya seorang yang menghayati panggilannya sebagai murid murid Kristus yang dapat melihat wajah Kristus dalam wajah para korban.

Ditambahkan banyak hal yang harus diapresiasi melalui kehadiran RH GMIT. Bukan kebetulan bahwa gedung RH GMIT ada dalam lingkup Pelayanan Jemaat GMIT Maranatha OEbufu. Dia menjelaskan RH dibentuk oleh MS GMIT namun RH ada di tengah tengah Jemaat GMIT Maranatha OEbufu. “Kita berharap Jemaat GMIT Maranatha OEbufu dapat menjadi salah satu Jemaat GMIT yang menopang pelayanan RH GMIT, sehingga RH benar benar memberi harapan kepada mereka yang menjadi korban perdagangan orang, mereka yang hak haknya dilanggar, mereka yang menjadi korban kekerasan.

Diuraikannya, jika melihat Catatan Pendampingan RH GMIT Tahun 2019, RH telah melayani 118 korban dan penyintas berbagai kasus kekerasan.

Siapa yang menjadi korban?
Selanjutnya dia mengemukakan menurut Catatan RH kekerasan paling rentan terjadi terhadap perempuan dan anak dan itu terjadi dalam ranah personal, misalnya KDRT. Terlebih di masa Pandemi Covid 19 dimana terjadi peningkatan kekerasan.
Pada awal khotbahnya diungkapkan “saya pernah mohon satu video tentang cara Pemerintah India, entah benar atau tidak saya kemudian berpikir apakah untuk menegakkan disiplin dalam rangka Covid ini perlu ditambah satu M, jadi bukan hanya Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak tapi juga tambah satu, Menjaga Pohon Telinga.”

Menurut dia, itulah faktanya, banyak orang yang taat hanya untuk menghindari hukuman. “Karena itu pemahaman kita tentang disiplin sama dengan menghukum. Padahal banyak ahli yang mengatakan bahwa cara pendisiplinan lewat kekerasan sudah tak relevan dengan perkembangan,” ujarnya.

“Bacaan kita bicara tentang tugas Timotius menghadapi pengajar sesat. Ajaran yang menyesatkan itu bisa kita baca pada ayat 3 (tiga) (pantang kawin dan makan yang semuanya itu menurut Paulus dapat membuat seseorang jatuh ke dalam dosa,” ujarnya.

Menurut Pdt. Julian, dalam konteks inilah Paulus meminta Timotius melatih dirinya beribadah agar dapat menghadapi ajaran tersebut. Memang latihan secara jasmani juga penting namun itu hanya untuk sesaat saja. Sedangkan latihan beribadah mempunyai dimensi masa kini dan masa depan.

Menjadi Teladan
Disebutkannya, seorang Muhamad Ali menjadi juara tinju dunia karena kedisiplinannya berlatih namun penyakit parkinson membatasinya hingga akhir hayatnya.

Untuk itulah, tambah jebolan Magister Thelogia dari Pasca Sarjana Universitas Kristen Arta Wacana Kupang ini Paulus menegaskan bahwa pertumbuhan iman hanya dapat terjadi di dalam kedisiplinan rohani. Dalam ayat 7-16, tercata delapan disiplin rohani yang memungkinkan pertumbuhan iman terjadi dalam kehidupan orang percaya, salah satunya dengan menjadi teladan dalam kata dan perbuatan.

“Terkait dengan disiplin pada masa Covid ini, saya lebih memilih memahami kata disiplin berdasarkan akar katanya dalam bahasa latin discipulus yang berarti mengajari atau mengikuti pemimpin yang dihormati,” tegasnya dan menambahkan tanpa kekerasan pun kalau ada teladan kedisiplinan dapat ditegakkan. Itulah sebabnya yang terpenting adalah bagaimana memberi keteladanan.

Mengakhiri khotbahnya, Pdt. Julian menyampaikan kepada Pengurus RH yang dikukuhkan selamat melayani, tetaplah dalam kedisiplinan rohani yang membuatmu terus melihat wajah Kristus dalam diri mereka yg mencari perlindungan dan mengharapkan pertolongan.

Pengurus Rumah Harapan
Adapun kesembilan Pengurus RH GMIT 2020-2023 yang dikukuhkan adalah Ketua Badan Pengurus, Ferderika Tadu Hungu, STh, MA, Sekretaris Juliana S. Ndolu, SH, M.Hum, Bendahara, Pdt. Yetty Leyloh, STh,M.Hum, Anggota, Pdt. Paoina Bara Pa, STh, Pdt.Leomardus Taku Bessi, STh, Staff, Ester Mantaon, SH, Decky Faah,SE, Abriana G.Tunliu, SAB, Nafsiah W. Waang, SH.

Hadir mengikuti kebaktian pengukuhan Pdt. Desiana Rondo Effendy, Anggota MS yang menyampaikan Suara Gembala MS GMIT, Dr. Godlif Neonufa, keluarga pengurus antara lain Talen Ngefak, Matheos Viktor Messakh.(*)