Sidang Perkara Penganiayaan Oknum Polisi, Tiga Terdakwa Sebut Eduardus Fouk Tidak Terlibat

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Tiga orang terdakwa yaitu Agustinus Tobu alias Mat, Fransiskus Xaverius alias lsto dan Martinus Bouk alias Tinus, membantah keras dakwaan jaksa dan keterangan saksi yang menyebutkan Eduardus Fouk hadir di TKP, saat terjadi pengeroyokan yang melibatkan Brigpol Carlito Do Santos Mau.

“Eduardus Fouk tidak berada di TKP. Dan karena itu ia tidak ikut melempari Pak Polisi Carlito,” bantah tiga terdakwa ketika ditanya Ketua Majelis Hakim (KMH), I Putu Suyoga, S.H, M.H, dalam sidang di Pengadilan Negeri Klas II Kefamenanu, Senin (10/8/2020). Agenda sidang soal kasus pengeroyokan oknum polisi di Kotafoun, Kecamatan Biboki Anleu, 22 April 2020
malam.

Upaya konfrontir dilakukan KMH setelah mendengar isi dakwaan jaksa penuntut umum (JPU), Vera Triyanri Ritonga, S.H, dan keterangan tiga orang saksi yaitu Polisi Brigpol Carlito Do Santos Mau, Mikhael Fahik dan Theresia Ragu. JPU dalam dakwaan menyebut Eduardus Fouk ikut melempari polisi. Begitu juga tiga saksi, yaitu Brigpol Karlito Do Santos Mau, Mikhael Fahik dan Theresia Ragu, menyebut Eduardus Fouk berada di TKP
dan ikut melempari polisi.

Baca juga : Kasus Pengeroyokan Anak oleh Oknum Polisi, Prosesnya ‘Jalan di Tempat’, Korban dan Ayahnya Tanya Pengawas Penyidik Polda NTT 

Uniknya, tiga terdakwa Agustinus Tobu alias Mat, Fransiskus Xaverius alias Isto dan Martinus Bouk alias Tinus, di dalam BAP mengaku Eduardus Fouk hadir di TKP dan ikut melempari polisi. Tapi di hadapan majelis hakim, membantah keterangan mereka di BAP.

“Kami tetap pada keterangan bahwa Eduardus Fouk tidak berada di TKP dan karena itu tidak ikut melempari polisi,” tandas ketiga terdakwa ketika ditanya KMH apakah tetap pada keterangan di BAP atau keterangan di hadapan majelis hakim.

Selain itu ada kejanggalan, JPU dan majelis hakim tidak meminta keterangan dari saksi Lidya Manehat, saksi kunci yang berada di TKP. Sidang Senin siang itu, Lidya Manehat hadir di dalam ruang Sidang. Penasehat hukum para terdakwa juga membiarkan saja saksi tidak dimintai keterangan.

“Padahal saksi Lidya Manehat ini, adalah saksi kunci yang hadir di TKP. Dia yang menghalang-halangi para terdakwa agar jangan melempari polisi. Dan dia tidak melihat Eduardus Fouk berada di TKP. Apalagi melempari polisi,” jelas Ketua Lakmas NTT, Viktor Manbait, S.H, yang hadir menyaksikan jalannya Sidang perkara tersebut.



KMH, I Putu Suyoga, S.H, M.H, yang dikonfirmasi terpisah kenapa tidak mendengarkan keterangan saksi a de charge, mengatakan JPU cuma menghadirkan tiga orang, yaitu saksi korban Brigpol Carlito Do Santos Mau, ditambah dua saksi lainnya Mikhael Fahik dan Theresia Ragu.

“Kewenangan pembuktian ada pada jaksa, untuk membuktikan dakwaannya. Dan dalam sidang kemarin, jaksa merasa sudah cukup. Sedangkan sebaliknya, terdakwa juga punya hak untuk membuktikan dirinya tidak bersalah dengan menghadirkan saksi a de charge (meringankan). Namun para terdakwa dan PH-nya tidak mengajukan,” jelas I Putu Suyoga, S.H, M.H.

Sebelumnya JPU menguraikan pada tanggal 22 April 2020 malam, saksi korban Brigpol Carlito Do Santos Mau dalam perjalanan pulang dari tempat tugasnya Pos Polisi Motadik menuju rumahnya. Ia mengendarai sepeda motor Babin Kamtibmas Nopol XXII 238-31.

Sampai di dekat TKP, Brigpol Carlito ditahan atau dihadang oleh saksi Theresia Ragu dan menginformasikan bahwa suaminya dikeroyok dan dianiaya oleh sekolompok orang yang tidak dikenal.

Lalu Brigpol Carlito dan saksi menuju rumah saksi Theresia Ragu. Namun di tengah jalan Brigpol Carlito dihadang oleh para terdakwa Agustinus Tobu alias Mat, Fransiskus Xaverius alias Isto dan Martinus Bouk alias Tinus, Blasius Manehat dan anaknya Akri Manehat serta Eduardus Fouk.

Para terdakwa memukul dan melempari Brigpol Carlito dengan batu. Akibatnya Brigpol Carlito menderita luka – luka. Kemudian dirawat di puskesmas setempat. Perbuatan terdakwa diancam pidana dalam pasal 170 ayat (1) KUHP.

Keterangan Foto : Eduardus Fouk saat diambil keterangan oleh penyidik Propam Polda NTT.