Naas, Dari Korban Jadi Tersangka “Aneh Tapi Nyata”

Bagikan Artikel ini

Laporan Alvaro S. Marthin
Labuan Bajo, NTTOnlinenow.com – Sungguh, naas benar nasib yang dialami oleh Hironimus Jandu (40), warga asal Lolang, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai yang saat ini berdomisili di Wae Kesambi, desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia adalah korban pengeroyokan yang dilakukan oleh sekelompok orang tak dikenalnya, pada Kamis, 18 Juni 2020 (Malam) dikediamannya (Rumah Kontrakan) di Wae Kesambi-Labuan Bajo.

“Sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Ya, mungkin itulah pepatah klasik yang cocok ditujukan kepadanya. Dirinya, telah dianiaya hingga babak belur, namun oleh Polisi, Ia justru kini ditetapkan sebagai tersangka dan mendekamnya di tahanan Polres Mabar.

Aneh tapi Nayata! Diantara percaya dan tidak memang. Tetapi apa mau dikata, itulah fakta dan realita yang terjadi padanya. Ia (Hironimus Jandu) kini terpaksa harus mendekam di sel tahanan Polres Mabar atas laporan LH terduga pelaku pengeroyokan terhadap dirinya pada, Kamis, 18 Juni malam lalu itu.

Pria yang sehari-harinya hanya berprofesi sebagai kuli bangunan (Mandor) itu kini mengaku tak bisa berbuat banyak.

Kepada sejumlah awak media, Senin, 20 Juli 2020 (siang) di Polres Mabar, dengan mata berkaca-kaca, dirinya menceritakan kronologis kasus yang sedang dialaminya itu.

“Kejadiannya malam hari. Saat itu, Saya sedang bersama anak saya di rumah. Tiba-tiba ada mobil pickap L300 parkir didepan rumah kontrakan saya. Lalu sejumlah orang turun dari mobil dan langsung masuk rumah dan bertanya kepada anak saya, ade ada Om Iron, panggil dia, ada perlu. Tanpa berpikir panjang, anak sayapun langsung menjawab ia, Bapak ada di belakang. Kemudian, 4 orang pelaku langsung menemui saya dan mereka menggiring saya keluar rumah. Persis didepan rumah, ternyata sejumlah orang lainnya telah menunggu. Tanpa bertanya sekelompok orang tersebut langsung menganiaya Saya, memukul dan menendang saya hingga babak belur dan jatuh tersungkur. Darah segarpun mengalir dari wajah saya waktu itu. Bukan hanya saya, anak perempuan saya bernama, Dayanti Karolina Laum (17) yang sedang menduduki bangku kelas 2 SMA juga turut menjadi korban sasaran amukan mereka saat itu karena dia hendak melerai. Dia juga ikut jatuh tersungkur akhibat kena tendangan mereka. Seingatan saya, mereka berjumlah kurang lebih 13 orang,” tuturnya sambil mata berkaca-kaca.

Namun dari belasan orang tersebut, dirinya mengaku mengenal salah satu orang diantaranya, berinisial LH, yaitu pengemudi L300 milik Toko Bangunan Hasil Labuan Bajo yang bertugas mengantar material bangunan.

Beruntung nyawanya selamat

Saat kejadian berlangsung, beruntung ada seorang anggota TNI yang tengah melintas di lokasi kejadian sehingga membantu melerainya. “Untung saja waktu itu ada anggota TNI yang lewat dan dia melerai,” ungkap Iron.

Akhibatnya, dirinya mengalami luka robek dan memar dibagian wajah, dan nyaris sekujur tubuhnya terasa sakit akhibat menahan pukulan.

Hingga kini, kasus yang menimpanya ini belum diketahui pihak keluarga besarnya. “Saya takut reaksi keluarga saya, dan justru menimbulkan masalah baru sehingga saya memilih untuk melaporkannya ke Polres Mabar,” ungkapnya.

Kasus ini sendiri diduga bermula dari, Kamis, 18 Juni 2020 lalu. Ketika itu, dirinya tengah memimpin sebuah pekerjaan bangunan rumah yang beralamat di Gang Tengah, Cowang Dereng, Desa Batu Cermin. Saat itu, LH bersama rekannya mengendarai mobil pickap L300 milik Toko Hasil Bangunan Labuan Bajo mengantar material bangunan (Granit) ke Proyek tersebut. Sempat terjadi miskomunikasi saat turun material itu.



“Siang itu, LH bersama sejumlah rekan-rekannya mengantar material granit ke proyek tempat saya bekerja di Gang Tengah Cowang Dereng. Karena mereka turun materialnya diteras rumah sementara banyak material bangunan disitu, akhirnya saya meminta mereka untuk langsung memasukannya kedalam rumah saja, sekaligus biar lebih dekat. Saya katakan ke dia, jangan turunkan di teras, mereka bilang itu aturan toko, saat di batas belakang oto kami kasih turun. Saya belum selesai omong langsung balik muka, saya pegang bajunya dari belakang, bermaksud memberitahukannya supaya bersama cari solusi. Setelah itu, kami bersama-sama mengangkat dan memasukan granit itu kedalam rumah. Tidak ada masalahnya,” cerita Iron.

Iron melaporkannya ke Polres Mabar

Tepat pada, 19 Juni 2020, Hironimus Jandu alias Iron, mendatangi SPKT Polres Mabar untuk melaporkan kejadian yang baru saja menimpa dirinya itu. Laporannya tertuang dalam laporan polisi Nomor : STPL/87/V/2020/NTT/Res Mabar tertanggal 19 Juni 2020. Menanggapi laporannya, Pihak Polres Mabar bersamanya langsung melakukan Visum di Puskesmas Labuan Bajo.

Selang beberapa lama Dirinya menunggu proses hukum terhadap laporannya itu, dimana para pelaku kekerasan terhadapnya ditangkap dan diadili sesuai hukum yang berlaku, namun anehnya, polisi justru menetapkan Dirinya sebagai Tersangka dalam kasus yang sama atas laporan LH, Terduga dalang kasus pengeroyokan terhadap dirinya. Seolah laporannya menjerat dirinya untuk mendekam dibalik jeruji besi alias tahan Polres Mabar.

LH Lapor Balik

Pada 21 Juni 2020, tiga hari berselang, LH melaporkan Iron atas kasus yang sama ke Mapolres Mabar.

Namun menurutnya, proses penetapan dirinya sebagai tersangka terbilang begitu cepat jika dibandingkan dengan masuknya laporan LH yang tiga hari berselang.

“Saya diberitahu sudah menjadi tersangka pada hari sabtu (18/07/2020) karena dilaporkan oleh LH. Saya bingung karena saya duluan masuk laporan tetapi justru saya lagi yang cepat ditetapkan sebagai tersangka,” tambahnya.

Kini Korban Pengeroyokan Ditahan di Polres Mabar

Senin (20/07/2020), Iron ditahan di Polres Mabar. Ia ditahan atas laporan LH Terduga dalang kasus pengeroyokan terhadap dirinya.

“Saya juga kaget, tiba-tiba saya ditetapkan sebagai tersangka atas laporan LH,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun sebagaimana tertuang dalam surat Kepolisian yang diterima pihak keluarga Hironimus Jandu, bahwa ketiga rekan LH yang merupakan terduga pelaku pengeroyokan juga ditetapkan sebagai tersangka. Namun dalam surat itu, LH yang diduga sebagai actor dibalik kasus itu tidak ditetapkan sebagai tersangka karena dinilai tidak cukup bukti.

Pihak Polres Mabar Tak Mau Dikonfirmasi

Sementara, pihak Polres Mabar dalam hal ini, Kasat Reskrim AKP Labartino Silaban, SH., SIK tak mau dikonfirmasi oleh sejumlah awak media, Senin (20/7/2020).

Dirinya justru memilih menghindari sejumlah awak media tanpa memberikan komentar apapun terkait kasus ini.