Puluhan Orang Tua Siswa SD di TTU, Menolak SK Bupati Terkait Relokasi Sekolah dan Pemindahan Aset

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin.
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Para orang tua murid dari 43 siswa SDN Tublopo 2 Matbes – Kuafeu desa Tublopo Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur menolak SK Bupati TTU, terkait relokasi sekolah dan pemindahan aset.

Sikap penolakan dari para orang tua siswa, ditunjukkan dengan penahanan 1 unit truk yang mengangkut aset dari SDN Tublopo 2 ke SDN Tublopo 1. Sebelum aset sekolah lama diangkut, para orang tua siswa sudah menolak rencana tersebut dalam pertemuan dengan para guru dan orang tua murid di kantor Camat Bikomi Selatan, pada Senin (09/03/2020) siang. Keributan di tengah jalanpun terjadi. Truk pengangkut barang yang sempat dicegat masyarakat desa Tublopo, kembali melaju di pantau pihak Keamanan dari Satpol PP dan anggota Mapolsek Nunpene.

“Kami pertahankan sekolah ini, sampai kapanpun. Kami akan berjuang, mengambil kembali aset yang diambil”, teriak beberapa orang tua murid di depan truk pengangkut barang.

Orang tua murid lainnya, dengan lantang mengatakan, SK Bupati terkait relokasi sekolah itu sarat kepentingan politik. “Jangan karena dendam politik pada Pemilu Legislatif tahun 2019, generasi penerus bangsa kita yang jadi korban”, ungkap salah satu orang tua murid.

“Kami akan tetap berjuang dengan cara kami, agar anak – anak tetap belajar di sekolah ini, kami menolak SK Bupati”, tegas masyarakat lainnya yang berupaya ikut menahan truk.

Meskipun Camat Bikomi Selatan, Yohanis sanak sudah berusaha memberi pengertian tentang SK Bupati pada seluruh orang tua murid namun kenyataannya para orang tua murid tetap menolak sekolah anak – anak mereka dipindahkan.

“Ini SK Bupati yang harus ditindaklanjuti”, tegas Sanak dihadapan seluruh orang tua murid, anggota Polsek Nunpene dan Satpol PP.

Menurut Sanak, sampai ada relokasi SD karena SD itu terancam bubar akibat kekurangan murid, jadi sudah ada kebijakan dari Pemda untuk merelokasi ke Kualil”, tandas Camat Sanak.

Pertimbangan lain relokasi sekolah, adalah jauhnya jarak yang ditempuh para siswa.
“Hasil pertimbangan waktu kajian dari dinas itu, anak – anak dari Banloki kalau ke SDN Tublopo 1 itu jaraknya sekitar 4 km. Kalau PP jadinya 8 km. Kemudian setelah dikaji, jarak antara SD 1 dan SD 2 hanya sekitar 500 meter. Jadi kemudian pertimbangan teknis oleh dinas, direkomendasikan bahwa anak – anak yang di sekitar kantor camat sampai dengan Matbes boleh sekolah gabung dengan SD 1 karena jaraknya sama saja. Bahkan kalau dari anak – anak Matbes yang selama ini bersekolah di SDN 2 bahkan kalau ke SD 1 lebih dekat jaraknya ikut jalan aspal. Karena itu, rekomendasinya direlokasi bukan ditutup pada tahun lalu.

Kami sudah undang beberapa kali dan kasih pemahaman, tapi para orang tua murid dan komite sekolah tetap menolak”, jelas Sanak kepada NTTOnlinenow.com di Kefamenanu, Selasa (10/03).

Sementara Kadis PPO, Yosef Luis Mokos, S. Pd belum bersedia dikonfirmasi terkait solusi dari penelantaran puluhan siswa SDN Tublopo 2. “Maaf saya ada kegiatan di kupang. Nanti pulang baru dijelaskan langsung saja”, singkat Mokos via pesan WhatsAp kepada media ini, Senin (09/03/2020).

Hingga berita ini diturunkan, sebanyak 26 siswa SDN Tublopo 2 dari total 43 siswa masih mogok belajar. Dan sesuai berita terdahulu, puluhan siswa itu sudah tidak bersekolah sejak bulan Agustus 2019. Sedangkan 17 siswa lainnya mengikuti seluruh guru yang dipindahkan belajar di sekolah yang baru.