Kementan Ekspor Komoditas Pertanian Asal NTT ke Negara Timor Leste

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) melepaskan ekspor komoditas pertanian hasil masyarakat Propinsi NTT ke Negara Timor Leste.

Pelepasan ekspor komoditas itu ditandai dengan pengguntingan pita oleh Kepala Barantan, Ali Jamil didampingi Sekda Belu Petrus Bere dilanjutkan dengan penekanan tombol sirene di PLBN Mota’ain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Timor Barat wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste, Kamis (11/4/2019).

Menurut Aji, kegiatan pelepasan ekspor komoditas Pertanian ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari amanat nawacita pembangunan agar meningkatkan pembangunan di wilayah perbatasan.

Jelas dia, sesuai IQFast Karantina Kupang selama Januari – Maret 2019 sudah terjadi 417 kali sertifikat karantina untuk ekspor komoditas pertanian dari PLBN Wini, PLBN Motaain dan PLBN Motamasin.

“Komoditas pertanian yang banyak dikirim ke Timor Leste adalah sayuran segar dan buah sebanyak 208 kali sertifikat melalui PLBN Wini, kemudian kedelai, kacang hijau dan kacang tanah, bawang merah serta jati furnitur yang banyak keluar melalui PLBN Mota’ain 3 bulan terakhir sudah ada 169 sertifikat” urai dia.

Jelas Aji, kondisi geografis masyarakat Timor Barat lndonesia dan Timor Timur Timor Leste yang berada dalam satu pulau tidak menutup peluang kebutuhan masyarakat Timor Leste baik pertanian banyak diperoleh dari wilayah Indonesia. Produk pertanian masyarakat NTT yang selama ini diekspor ke Timor Leste berupa bawang merah, bawang putih, kedelai, kacang hijau, kacang tanah, pakan ternak, DOC dan produk olahan kayu berupa mebel.

“Ekspor dari komoditas pertanian asli NTT sendiri menambah devisa bagi negara,” kata Aji.

Dirincikan, sesuai catatan Karantina Pertanian kelas I Kupang, ekspor bawang merah tahun 2016 sejumlah 24,4 ton atau setara dengan Rp 489 juta. Tahun 2017 sebanyak 54,9 ton dengan nilai Rp 1,09 miliar dan tahun 2018 berjumlah 62,2 to n senilai Rp 1,2 miliar. Ekspor produk kacang tanah pada tahun 2016, 2017, 2018 berturut-turut sebanyak 4,8 ton, 29 to dan 52 ton.

“Jika dilihat dari data yang ada, terjadi peningkatan permintaan dari negara Timor Leste terhadap dua komoditas pertanian tersebut dari tahun ke tahun,” ujar Aji.

Tidak saja itu, Provinsi NTT juga mengekspor hasil perkebunan ke Timor Leste berupa produk olahan kayu jati atau meubel hasil dari pengrajin meubeler NTT maupun pendatang. Khusus meubel Ali mengakui sesuai catatan Karantina Pertanian Kupang ekspor mebel pada tahun 2016 sebanyak 814 m3 atau senilai Rp 8,1 miliar, tahun 2017 sebanyak 1.915 m3 senilai Rp 19,1 miliar dan tahun 2018 sebanyak 3.102 m3 senilai Rp 31,02 miliar.

“Terlihat adanya tren peningkatan permintaan meubel maupun pangan pertanian dari negara tujuan (Timor Leste-red),” sebut Kepala Barantan itu.

Menurut Aji, khusus produk pertanian yang diekspor kemarin siang ke Timor Leste terdiri dari enam komoditas yang meliputi 58 meter kubik meubel jati senilai Rp. 580 juta, kedelai sebanyak 17,5 ton, kacang tanah 5 ton, kacang hijau 0,75 ton, lada/merica 40 kg senilai 199,5 juta rupiah dan 5.454 ekor DOC senilai 45 juta rupiah.

“Keenam jenis komoditas pertanian tersebut merupakan milik 6 eksportir asal Kupang maupun Atambua. Nilai total ekspor Rp. 824,5 juta,” terang Aji.

Kesempatan itu Sekda Belu, Petrus Bere mengajak seluruh masyarakat petani di wilayah perbatasan Belu agar terus bersemangat meningkatkan produk pertanian guna menjawabi kebutuhan ekspor pangan maupun perkebunan ke Timor Leste.

“Kita jangan berpikir sempit harus berpikir bisnis. Jadi tanam tanaman pangan dan perkebunan lebih banyak untuk penuhi kebutuhan rumah tangga dan ekspor guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi rumah tangga,” kata Bere.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Konsulat Timor Leste Atambua Paulo Da Costa Xomenes, Kepala Bea Cukai Atambua, Pejabat mewakili Imigrasi Atambua, Danramil Wedomu, Kapospol Mota’ain, Para Pimpinan OPD Belu, Camat Tastim, Pejabat Karantina Pusat maupun Daerah serta para pengusaha eskportir.