Sumba Barat Daya Tertinggi Filariasis di NTT

Bagikan Artikel ini

Tambolaka, NTTOnlinenow.com – Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) menjadi daerah penyumbang terbesar filariasis (kaki gajah) dan penyakit malaria di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Karena itu untuk mempercepat terwujudnya NTT bebas filariasis pada 2020, Tim Sosialisasi dan Advokasi Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) dan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan NTT melakukan sosialiasi di kabupaten SBD pada tanggal 19 Desember 2018.

Hadir pada acara tersebut, Wakil Bupati SBD, Drs. Ndara Tanggu Kaha, Forkominda SBD, Tim Sosialisasi dan Advokasi Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) dan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan NTT, Dinas Kesehatan Kabupaten, OPD, LSM dan undangan lainnya.

Anggota Tim Advokasi dan Sosialisasi POMP Dinas Kesehatan NTT Jois Tibuludji mengatakan advokasi ini bertujuan mengajak pemerintah kabupaten dan kota memfasilitasi dukungan program kesehatan dan kebijakan anggaran.

Menurut Jois, ada 18 kabupaten dan kota endemis filariasis satu diantaranya kabupaten SBD sedang menjalankan program POPM. Sementara Kabupaten Alor, Rote, dan Ende sudah selesai POPM dan satu kabupaten di NTT yang tidak ditemukan penderita filariasis.

“Kabupaten yang sudah menerima sertifikat eliminasi filariasis dari menteri kesehatan adalah, Alor dan Rote sedangkan Ende dalam tahap evaluasi,” jelas Jois Tibuludji.

Adapun pencapaian pengobatan filariasis di NTT sampai November 2018, dari target minimal 65%, 14 kabupaten di antaranya telah mencapai target, termasuk Kabupaten SBD. Namun, tiga kabupaten lainnya masih di bawah target yakni Kota Kupang 36,4%, Flores Timur 61%, dan Manggarai Timur 53%.

Menurut Jois, Filariasis penyakit menular bersifat menahun (kronis) yang ditularkan dari seseorang dalam darahnya ada anak cacing (Mikrofilaria) kepada orang lain melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini menimbulkan cacat tetap berupa membengkaknya kaki, lengan, kantung buah zakar, payudara dan alat kelamin.

Dalam kurun waktu 2002-2014 di NTT, kasus kronis filariasis ditemukan di 21 kabupaten dan kota dengan jumlah 3.175 kasus, kecuali Sabu Raijua tidak ada penderita. Kabupaten Sumba Barat Daya menempati urutan pertama sebanyak 758 penderita.

Jois meminta dukungan dan komitmen pemerintah daerah dalam upaya pencegahan tetap diharapkan, terutama berkaitan dengan partisipasi masyarakat. Dengan demikian, program NTT bebas filariasis pada 2020 bisa tercapai.

Sementara itu Wakil Bupati Sumba Barat Daya Drs. Ndara Tanggu Kaha mengatakan pihaknya memiliki niat dan komitmen yang sama dengan tim sosialisasi dan advokasi eliminasi filariasis agar wilayah ini bisa bebas dari penyakit itu.

“Walau dengan keterbatsan yang ada kita punya niat yang sama untuk mencegah penyakit menular supaya masyarakat SBD sehat,” terangnya.

Ndara Tanggu Kaha Menerangkan, Pemerintah Kabupaten SBD bersama dengan LSM dan OPD akan berusaha dalam menekan dan memberantas penyakit di daerah itu seperti malaria dan filariasis.