Ini Cerita Warga Guminten Tentang TMMD Ke 103 Kodim Karangasem

Bagikan Artikel ini

Amlapura, NTTOnlinenow.com – Semakin mendekati penutupan Program TMMD Ke 103 Kodim 1623/Karangasem semakin banyak cerita dari masyarakat tentang program ini.

Yang paling menjadi buah bibir adalah pembangunan jalan sepanjang 3000 meter yang menjadi akses Warga Dusun Guminten untuk keseharian mereka.

Cerita menarik datang dari seorang ibu rumah tangga Ni Wayan Uyuk, saat ditanya pendapatnya tentang program TMMD, Senin siang (29/10) saat dirinya bersama warga pulang dari kebun.

Menurut Ni Wayan Uyuk, dirinya bersama warga lainnya merasa diuntungkan dengan pembangunan jalan saat ini. Warga selama ini sangat sulit untuk mengambil hasil kebunnya karena jalan tidak ada. Harus menerobos semak-semak sehingga tidak semua anggota keluarganya berani ke kebun. Sekarang kami senang dan tambah rajin menengok kebun. Bahkan anak-anak kami sudah mau ikut naik untuk mencari hasil kebun kebutuhan kami sehari hari.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ni Kadek Asih dan Ni Ketut Supini. Menurut mereka akses jalan yang ada sangat memudahkan kami. Kalau ke Pura Dwi Angga kami tidak lagi melewati jalan setapak tetapi memanfaatkan jalan yang sedang dibangun saat ini melalui program TMMD.

Ibu-Ibu Belajar Baca Tulis

Cerita lainnya yaitu bagaimana semangatnya Warga Guminten yang walau sudah berusia tetap semangat untuk belajar baca tulis.

Ibarat pepatah yang mengatakan bahwa belajar tidak mengenal waktu dan usia. Hal ini ini terkesan dari cerita seorang nenek bernama Ni Nengah Ngetis. Dengan usianya yang sudah 70 tahun, memiliki 5 orang anak dan 13 cucu tersebut tidak pernah patah semangat untuk tetap belajar.

Dirinya bersama warga lainnya ingin seperti anak-anak sekarang yang bisa membaca dan menulis.

“Ipidan tiyang nak ten masuk. Kayang mangkin tiyang ten bisa memaca lan nulis”, (Dulu saya tidak bersekolah. Sampai sekarang tidak bisa membaca dan menulis)”, ungkap Ni Nengah Ngetis dengan Bahasa Bali kepada Pasiter Kodim 1623/Karangasem Kapten Cpl I Gusti Made Darsana di sela-sela mereka diajari menulis.

“Maklum nenek ini juga tidak bisa berhahasa Indonesia. Semoga ini menjadi inspirasi kepada seluruh anak bangsa agar tetap belajar meskipun usia sudah tua. Karena ilmu tidak mengenal batas usia”, ungkap Kapten Darsana.

Ini menjadi pengalaman menarik bagi kita sebagai aparat. Ternyata masih ada warga kita tidak bisa berbahasa Indonesia dikarenakan mereka pada jamannya tidak sempat mengemyam bangku sekolah. Tetapi semangatnya untuk ingin tahu dan mau belajar patut kita acungi jempol. Anak-anak muda harus mencontohinya.