Unwira Gelar Seminar Internasional Bahas Multi Aspek

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, akan menggelar seminar internasional yang akan membahas berbagai aspek dalam kaitan dengan kehidupan bertetangga antara Indonesia dengan Timor Leste dalam satu daratan yaitu Pulau Timor.

Hal ini disampaikan Rektor Unwira Kupang, Pater Dr. Philipus Tule, didampingi Ketua Panitia Seminar, Marianus Kleden saat menggelar konferensi pers di Converence Room, Kampus Utama Unwira Kupang, Jumat (19/10/2018).

Philipus menjelaskan, seminar internasional itu mengusung tema “The Power of Proximity between East and West Timor. Bridging the Social, Political, Economic and Cultural Gaps” atau terjemahan bebasnya Kekuatan Hidup Bertetangga antara ‘Timor Timur’ dan Timor Barat. Menjembatani Kesenjangan Sosial, Politik, Ekonomi dan Budaya.

“Jadi ‘timur’ dan ‘barat’ lebih menunjuk pada aspek kewilayahan dan bukan administratif. Dalam seminar ini akan dibahas terkait banyak aspek,” ungkapnya.

Dia mengatakan, segenap kondisi sosial, ekonomi, dan politik mendorong kalangan intelektual dari Unwira Kupang untuk bisa memikirkan apa saja yang bisa dilakukan dalam rangka mengatasi kesenjangan sosial, politik, ekonomi di antara Indonesia-RDTL.

Bahasan seminar ini mengambil latar kelompok budaya Timor terutama didasarkan pada pertimbangan keunikan realitas kehidupan orang Timor yang yang dipisahkan oleh dua negara meski datang dari warisan kebudayaan yang sama. Di antaranya, persoalan hambatan pembangunan di Timor karena faktor mental kebudayaan, tarik-ulur masalah konflik sosial di kamp pengungsian, bentuk-bentuk kekerasan di sepanjang wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste, dan lainnya.

“Sehingga melalui seminar ini akan dibahas ragam bentuk persoalan yang diangkat berdasarkan kajian yang dilakukan baik di Timor Timur maupun di Timor Barat. Seminar ini menargetkan perumusan dan pemecahan masalah seputar aras pembangunan di kedua negara,” katanya.

Ketua Panitia, Marianus Kleden mengatakan, seminar internasional ini bertujuan menyajikan sejumlah hasil penelitian dalam berbagai aspek/ konteks kehidupan masyarakat Timor (Timur dan Barat) melalui pendekatan interdisipliner.

“Substansi pelaksanaan seminar internasional ini terdiri dari 2 sesi besar, yaitu pembahasan oleh pembicara kunci dan pemaparan hasil kajian oleh dosen Unwira,” katanya.

Pembicara kunci akan dibawakan oleh Prof. Em.Dr. Karel Steenbrink (Profesor emeritus dari Universitas Utrecht Nedetherland) dengan pokok bahasan ‘The Historical Link of Catholic Church in East and West Timor.’ Tema kajian ini akan memaparkan tentang Hubungan Sejarah Gereja Katolik antara Timor Timur dan Timor Barat.

“Orang Timor Leste bersama dengan orang Noemuti, Larantuka, dan Sikka mewarisi ritual-ritual keagamaan yang hampir sama dan karenanya dapat dikembangkan sebagai aset pariwisata religius,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kedekatan jarak fisik dan geografis akan sangat mempengaruhi isi dan bentuk dari sebuah hubungan sosial. Ada semacam keyakinan umum bahwa, semakin dekat jarak fisik dan geografis, semakin rekat pula sebuah hubungan sosial.

“Tetapi tesis ini mendapat batu ujian dalam hubungan individu/ kelompok manusia yang berdekatan secara fisik dan geografis, tetapi justru berbeda dan berjarak secara sosial. Artinya, keyakinan bahwa mereka yang dekat secara fisik dan geografis akan lebih padu secara sosial, ternyata tidak selalu benar adanya,” katanya.

Dia menambahkan, ada banyak kasus yang menunjukan bahwa kedekatan secara fisik, tidak menjamin kepaduan secara sosial karena berbagai alasan latar. Banyaknya perbedaan yang dimunculkan ke permukaan ketimbang persamaan, bisa menjadi pemicu keberjarakan itu.

“Contoh soal yang menarik tentang hubungan sosial yang unik seperti ini adalah hubungan antara masyarakat dalam dua negara yang bertetangga. Misalnya hubungan antara masyarakat negara Timor Leste dan masyarakat Indonesia di Timor Barat,” paparnya.