Pancasila Satukan Perbedaan, Rayakan Keberagaman Dan Lawan Radikalisme

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Pancasila adalah ideologi bangsa Indonesia yang menyatukan segala keberagaman, bersifat universal dan tidak membatasi nilai-nilai dari kemajemukan yang ada. Pancasila menjadi kepribadian dari bangsa Indonesia yang majemuk.

Demikian hal ini mengemuka dalam talkshow dengan tema “Merayakan Keberagaman, Menangkal Radikalisme” yang diselenggarakan oleh Komunitas Peace Maker Kupang (Kompak), Jumat (7/9/2018) di Kupang.

Acara yang dipandu oleh Ketua GMKI Kupang, Christo Kolimo itu menghadirkan sejumlah pemateri, masing-masing Anggota DPR RI, Jacki Uly, Kepala Kesbangpol Provinsi NTT, Sisilia Sona, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTT, Jalaludin Bethan, Aktivis Perempuan NTT, Deasy Foeh, dan Ketua FKUB Kota Kupang, Rio Fanggidae.

Dalam pemaparannya, Jacki Uly soroti terkait terorisme. Menurutnya, pelaku teror memiliki niat dan dorongan yang kuat sehingga rela untuk bunuh diri demi tercapai tujuannya. Meskipun harus mengorbankan diri sendiri maupun nyawa orang lain.

“Data yang diperoleh September 2015, menunjukkan bahwa penindakan yang dilakukan kepada pelaku tindak pidana terorisme mencapai 1.143 orang, yang sudah bebas 501 orang, yang masih menjalani hukuman 328 orang, dan yang telah dikembalikan ke keluarga sebanyak 98 orang,” ungkapnya.

Mantan Kapolda NTT itu mengatakan, terorisme dalam bidang ideologi adalah ancaman yang dinilai dapat membahayakan pemikiran masyarakat suatu bangsa, sehingga akan menjadi ancaman terhadap ideologi negara yaitu Pancasila.

Anggota DPR RI yang menggantikan posisi Viktor Bungtilu Laiskodat itu berargumen, masyarakat harus berpartisipasi atau terlibat aktif dan berada di garda terdepan melawan radikalisme. Perlu cara dan kerja sama yang baik untuk lawan terorisme. Terutama generasi muda, agar tidak terpengaruh paham radikal.

“Masyarakat juga harus mendukung semua program pemerintah untuk menangkal radikalisme dalam bentuk apapun,” paparnya.

Kepala Badan Kesbangpol Provinsi NTT, Sisilia Sona mengatakan, ideologi yang mempersatukan keragaman di Indonesia adalah Pancasila. Menurutnya, saat ini muncul kelompok-kelompok radikal yang mencoba mengganti Pancasila sebagai dasar negara dengan ideologi yang lain.

“Karena itu Pancasila harus dijadikan sebagai cermin dalam perilaku. Perbedaan itu indah dan luar biasa. Pancasila sebagai ideologi bagi penyelenggara negara, semua elemen bangsa, mulai dari mahasiswa, partai politik dan seluruh komponen bangsa” ujar Sisilia.

Wakil Ketua MUI NTT, Jalaludin Bethan mengemukakan, toleransi adalah saling menghargai antar umat beragama. Semua agama mengajarkan tentang kedamaian dan ketakwaan. Untuk menjaga itu, manusia harus menjaga hubungannya dengan Tuhan, dan menjaga relasinya dengan sesama makluk ciptaan Tuhan yang lain.

“Kita semua anak Flobamora sangat beragam. Bahasa daerah yang sangat beragam, budaya dan lainnya. Kita harus mensyukuri itu, jangan dipaksakan agar sama. Tetapi menghargai perbedaan itu sebagai persatuan,” ujarnya.

Ketua Tim Kerja Kompak, Carningsi Bunga menyampaikan, talkshow yang diadakan tersebut bertujuan untuk memperdalam kesadaran dan peran seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi gerakan provokasi dan terorisme yang meresahkan serta meningkatkan nilai kemanusiaan dan semangat nasionalisme orang muda lintas agama.

“Masyarakat NTT sudah sejak lama terpola untuk hidup saling menjaga, namun akhir-akhir ini banyak peristiwa yang mengganggu dan menimbulkan perasaan curiga sehingga timbul jarak antara warga NTT dengan idenditas agama tertentu,” ungkapnya.

Komunitas Peace Maker Kupang (Kompak) adalah komunitas orang muda lintas agama yang berkarya untuk mengedukasi generasi yang moderat, humanis, toleran yang menghargai keberagaman dan perbedaan berlandaskan Pancasila sehingga tidak terjadi konflik sosial yang berdampak besar. Dengan spirit dari Kupang untuk Indonesia Damai, damai NTT damai Negeriku.