Lusia Berpeluang Jadi Cagub PDIP, Politik Tak Kenal Dinasti

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Dinasti politik tidak dikenal dalam sistem demokrasi yang dianut oleh Indonesia. Oleh karena itu semua pihak punya hak untuk dipilih dan memilih dalam kontestasi elektoral. Sebab, dunia politik tak mengenal dinasti kecuali di zaman kerajaan.

Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan uji materi dan menghapus pasal pembatasan larangan keluarga petahana atau politik dinasti dalam UU Pilkada tahun 2015.

“Teori demokrasi tidak mengenal yang namanya dinasti. Dinasti itu hanya dikenal dalam sistem kerajaan, tapi dalam sistem demokrasi itu bebas, seperti dulu istrinya Bill Clinton, dia maju untuk bertarung walaupun suaminya menjabat sebagai presiden AS. Tidak menjadi masalah karena dia harus bertarung dan tidak seperti di kerajaan,” kata analis politik dari Fisip Undana, Dr Acry Deodatus, MA, di Kupang, Rabu (13/12/2017).

Menurut Acry, sebagai partai besar, PDIP tentu melakukan kalkulasi untuk kemudian menawarkan figur yang berhasil meraih kemenangan. Karena itu PDIP harus mencari figur yang banyak mendapat dukungan dari masyarakat, dan memiliki elektabilitas yang tinggi.

Dia berpendapat, dari semua yang mendaftar sebagai kandidat di PDIP punya peluang untuk ditetapkan menjadi cagub. Dan, dari sejumlah nama yang mendaftar di PDIP, Lusia Adinda Dua Nurak juga direkomendasikan oleh DPD PDIP Nusa Tenggara Timur (NTT) ke DPP.

Acry Menilai, sebagai kader PDIP, Lusia juga punya peluang dengan calon lainnya. “Lusia tidak bisa dipasung hak demokrasinya hanya karena saat ini menjadi istri Gubernur NTT,” tegasnya.

Kalau melihat dari track recordnya dan dukungan dari 22 DPC PDIP se NTT, sebut Acry, maka ini merupakan dukungan yang sangat besar.

“Dukungan yang besar ini, mungkin juga karena beliau ini agak sedikit populis, karena dia juga rajin dalam urusan-urusan kemanusiaan, sehingga mungkin banyak orang kenal,” kata Acry yang juga Ketua Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Cabang Kupang, NTT.

Ditanya soal pengalaman, Acry mengatakan, Lusia sudah terbiasa mengurus hal-hal yang berkaitan dengan pemerintahan. Semua itu telah membuat Lusia kenyang pengalaman dalam mengurus masalah kerakyatan.

“Dia urus Dekranasda dan urus-urus orang dan sebagainya seperti itu jadi memang bagus, secara penyampaian runut pendapatnya bagus dan saya dengar itu. Tapi figur lain dari PDIP juga bagus-bagus, seperti doktor Hugo Parera” kata Acry.

Baca juga : Pengamat: PDIP Alami “Hilangnya Magis” Partai Juara

Acry juga mengatakan, Lusia juga seorang kandidat doktor, sehingga jika dukungan terhadap dirinya besar maka hal itu baik, karena dia juga punya latarbelakang pendidikan yang bagus.

Silahkan Bertarung

Soal dinasti Acry kembali menandaskan, istri, suami atau anak silahkan bertarung di sistem demokrasi yang dianut. Karena misalkan istri gubernur maju, maka dia harus keluar untuk bertarung dan dia dipilih oleh rakyat, dan bukan mendapatkan jabatan itu seperti pada sistem kerajaan yang jabatan itu diserahkan secara cuma-cuma.

Karena itu, tegas Acry, tidak ada masalah, sistem demokrasi dimana pun tidak mengenal dinasti, semua warga negara bebas menggunakan hak politiknya.

“Contoh seperti beberapa waktu lalu anak Presiden Jokowi yang ingin menjadi pegawai negeri, dia juga harus ikut sistem dan bersaing dengan yang lain, tidak bisa bilang dia anak presiden sehingga harus jadi pegawai, bisa jadi dia tidak lulus,” jelasnya.

Acry menjelaskan, jika Lusia maju, bisa saja petarung lain yang memenangkan kompetisi ini maka itulah resikonya. Misalnya dia dapat dukungan, maka itulah demokrasi.

“Bukan hanya karena dia itu istri gubernur atau anak seorang gubernur maka dia dipasung untuk tidak boleh maju bertarung. Dia memiliki hak sebagai warga negara untuk menggunakan hak politiknya,” jelasnya.

Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP NTT, Niko Frans mengatakan, Lusia juga memiliki hak politik yang sama, jangan terlalu terbebani dan ragu dengan posisi suaminya yang saat ini menjabat gubernur NTT.

Menurut Niko, pada forum rapat kerja daerah (Rakerda) PDIP NTT beberapa waktu lalu, ada sejumlah nama yang teraspirasi menjadi balon gubernur. Dari sejumlah nama yang ada, sebagiannya juga menggunakan mekanisme pendaftaran, seperti Kristo Blasin, Raymundus Sau Fernandes, dan Daniel Tagu Dedo.

Sedangkan yang teraspirasi tapi tidak mendaftar antara lain, Lusia Adinda Dua Nurak, Andre Hugo Pareira, Nelson Matara, dan Gusti Demon Beribe. “Dari semua nama yang teraspirasi itu, hanya Adinda Dua Nurak yang belum menyatakan sikap, apakah menerima atau tidak dengan aspirasi internal partai itu,” kata Niko.