Mengelola Olahraga Menjadi Bisnis Menguntungkan

Bagikan Artikel ini

Lembata, NTTOnlinenow.com – Bagaimana bisa mengelola olahraga sebagai bisnis yang menguntungkan tetapi sekalis sukses menghasilkan atlit berprestasi? Inilah pertanyaan penuh harap yang kerap hadir dari daerah yang selalu terbelakang dalam olahraga (seperti NTT) tetapi juga bisnis olahraga hadir tak secarah yang diharapkan.

Demikian pikiran yang melatarbelakangi SMA Keberbakatan Olahraga San Bernardino mengadakan Seminar sehari bertema: INDUSTRI OLAHRAGA, PELUANG DAN TANTANGAN.

Siaran Pers yang diterima redaksi NTTOnlinenow.com, menerangkan seminar yang rencananya akan dihadiri sekitar 100 peserta baik guru Kepala Sekolah, Pembina Siswa, Guru Olahraga dan siswa perwakilan di Lembata, akan menghadirkan 3 pembicara yang juga pelaku olahraga: Dr Thomas Ola Langoday (Wakil Bupati Lembata yang juga ex pemain PSK Kupang), Wilem Lojor  (kini promotor tinju profesional), dan Polce Ruing, Pelaku Bisnis Olahraga.

Manajemen Olahraga
Seminar sehari yang bertempat di aula SKO San Bernardino pada Jumat 4 Agustus 2017, didasarkan pada kesadaran bahwa olahraga merupakan bisnis yang potensial. Event olahraga mestinya dapat dikembangkan sebagai peluang yang bisa menggerakan roda ekonomi para pelaku olahraga.

Kesuksesan itu akan menjadi lebih pasti dan menggiurkan kalau dikelola secara baik. Hal itu perlu didukung oleh perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penganggaran, dan evaluasi. Keberhasilan, baik bisnis maupun prestasi olahraga, akan tercapai ketika didasarkan pada rencana yang terukur yang diurai dan dikelola dalam organisasi yang rapi dan teratur.

Selanjutnya melalui proses kepemimpinan yang baik, dapat dikendalikan roda organisasi. Yang tak kurang penting adalah dukungan dan rancangan anggaran. Selanjutnya perlu evaluasi kontinyu dan fleksibilitas untuk cepat mengambil tindakan cepat menyesuaikan tuntutan zaman.

Bisnis menggiurkan ini pada kenyataan bukan tanpa tantangan. Dari sisi bisnis olahraga, demikian Paulus Doni Ruing (PDR), salah seorang pembina SKO San Bernardino Lewoleba, termasuk muda. Manajemen dalam olahraga dibanding manajemen lainnya berkembang agak terlambat. Banyak olahragawan terbiasa hidup tanpa rencana yang jelas akibatnya setelah tidak Berprestasi lagi, mereka jatuh ke titik yang sangat rendah.

Pengalaman petinju dunia Elyas Picall yang jatuh sampai terlibat narkoba dan bekerja sebagai satpam adalah contoh pedih dalam olahraga. Atau gagalnya team olahraga seperti yang terjadi dengan Persebata dalam ajang Copa NTT baru-baru ini, adalah tanda belum terwujudnya manajemen yang baik dalam olahrarga. Event olahraga lebih dikembangkan secara sporadis dan terlampau berharap pada pemerintah. Swasta masih melihat kegiatan ini secara amatiran dan bukan ajang profesional yang perlu dirancang jauh hari.

Tantangan lainnya, kita terlalu cepat mendambakan hasil kilat tanpa proses panjang dalam persiapan, demikian Lojor. Kita tergoda ingin mencapai hasil cepat tetapi tanpa persiapan. Padahal mendapatkan hasil, butuh kerja keras. Contoh saja pendidikan dan pelatihan dini perlu dilirik sebagai hal mendasar yang harus dilakukan tiap kabupaten di NTT, kalau ingin agar prestasi olahraga itu bisa bangkit di level nasional.

Padukan dengan Bisnis
Kesadaran akan realita olahraga ini, SKO San Bernardino ingin menjadikan sekolah keberbakatan ini sebagai lembaga yang bisa mengawinkan secara positif bisnis dan olahraga. Sekolah yang terletak di Jalan Trans Lembata di Wangatoa ini mengambil visi yang sangat erat dengan industria olahraga yakni menjadi lembaga pendidikan yang menghasilkan A, B, C, D, E (Atlit, Berprestasi, Cerdas, Dijiwai, Enterprenuership).

Para siswa tidak saja diajarkan bagaimana harus menjadi atlit, tetapi juga mengelola peluang olahraga sebagai bisnis. Kalaupun dia tidak bisa menjadi atlit, ia bisa menjadi event organizar (EO) misalnya. Ia bisa masuk ke bisnis dan pengelolaan fasilitas olahraga. Upaya memiliki kolam renang, sport centre, fitness centre, misalnya dapat menjadi ladang penuh potensi yang bisa dikembangkan dalam dunia olahraga oleh siapapun.

Bagi para atlit, demikian Robert Bala, Ketua Yayasan Koker Niko Beeker, perlu dibekali pengalaman bisnis. Mereka harus tahu siklus menjadi atlit yang cepat atau lambat akan habis seirama dengan bertambahnya usia. Tetapi hal itu tidak boleh membuat mereka redup juga dalam karir. Peluang lain masih bisa dikembangkan termasuk dalam kepelatihan, manajemen, atau bahkan bisa menjadi promotor.

Seminar sehari yang rencananya akan diisi dengan penampian siswa-siswi SKO San Bernardino ini rencananya akan dibuka oleh Wakil Bupati Lembata, Dr. Thomas Ola Langoday. Langoday akan membagikan pengalaman, bagaimana olahraga telah menjadi batu loncatan untuk dapat Berprestasi dalam bidang pendidikan.

Sharing pengalaman dan pembagian kiat bisnis olahraga oleh pelaku olahraga dari Jakarta diperkirakan akan dijubeli peserta, selain karena menariknya materi, juga karena seminar ini diberikan secara gratis sebagai bentuk pengabdian SKO San Bernardino pada olahraga prestasi dan bisnis olahraga.