Koptu Pramono Berkarya di Garis Batas Negara

Bagikan Artikel ini

Laporan Yan Meko
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Siapa bilang tentara itu menakutkan dan siapa bilang anggota pasukan itu tiada kreatifitas yang berguna bagi warga sekitar. Lihatlah Koptu Pramono, anggota pasukan Satgas Pamtas dari Yonif Raider 321/GT/KOSTRAD yang bertugas di Pos Manamas, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

Pramono mampu menggebrak dan menyulap tanah tandus disekitar Pos TNI Manamas menjadi potensi ekonomi yang menjanjikan. Dalam usia tugasnya yang memasuki umur kurang lebih 5 bulan, Pram biasa disapa, setiap saban hari rutin meratakan gundukan – gundukan tanah disekeliling pos dengan mencetak batu merah.

Diawal usahanya banyak warga yang menyangsikan, tetapi karena keuletannya, maka Pram mampu membuat para warga pemilik lahan disekitar pos TNI angkat topi. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang warga Manamas, Zakarias Elu ketika ditemui NTTOnlinenow.com, Rabu (30/11/2016).

pramonobatubata

“Pak tentara ini telah merintis kerja baru disekitar lokasi ini. Kami tidak tahu bahwa tanah ini bisa dibuatkan jadi bata merah, karena itu lokasi ini selama ini kami terlantarkan saja. Namun dengan kehadiran Pos TNI disini maka kami terinspirasi oleh keuletan salah seorang anggota TNI yang bernama Koptu Pramono. Dia telah menunjuk jalan ekonomi baru dan namanya tidak akan kami lupakan. Saya akan menyumbang kayu bakar untuk membantu dia dalam membakar sekitar belasan ribu buah bata merah tersebut”, ujar Zakarias.

Baca : Ray Fernandez Nyatakan Siap Maju Pilgub NTT

Karena kedisplinan Pramono dalam aksi sosial budaya dan pemerintahan setempat maka Camat Nai’benu, Lorenzo Colo pun angkat bicara.

“Pak Pram adalah tentara yang banyak kreatif dan mampu beradaptasi. Dia mampu mengembalikan anggapan warga bahwa TNI itu menakutkan dan ini adalah kredit point untuk pasukan TNI yang bertugas di garis batas negara. Saya berharap teman teman TNI dapat meneladani dia dan kita saling bahu membahu membangun negeri ini dari pinggiran”, puji Camat Lorenzo.

Sementara Koptu Pramono yang ditemui ditempat karyanya mengakui hanya iseng mengisi waktu kekosongan di Pos TNI.

“Saya adalah seorang anggota pasukan digaris batas negara yang bertugas mengawal perdamaian, juga siap memberikan talenta yang saya miliki. Kebetulan sekali saya datang dan melihat struktur tanah disekitar pos sangat cocok untuk membuat bata merah, maka saya memutuskan untuk memcetak ketika ada waktu. Hasil dari ini akan saya sumbangkan sekian persen untuk kebutuhan warga, semisalnya untuk membuat pusara leluhur atau kamar mandi bagi warga Desa Manamas dan Desa Benus. Separuh dari bata ini akan saya jual untuk kebutuhan beberapa adik pelajar yang terkadang datang membantu mencetak tanah”, kata Pramono merendah.

Seperti yang dipantau NTTOnlinenow.com, suami dari Euis Ratnasari ini selalu aktif terlibat dalam semua kegiatan warga. Baik dalam kegiatan adat, gereja dan pemerintah. Berkorban tanpa pamrih, itulah yang selalu diekspresikankan oleh Koptu Pramono.