Pengetahuan Tentang Perubahan Iklim Masih Rendah

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Harus diakui, sebagian besar masyarakat termasuk anggota DPRD belum memiliki pengetahuan yang cukup dan memiliki pemahaman yang baik tentang perubahan iklim.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT), Alex Take Ofong ketika tampil sebagai narasumber pada kegiatan workshop Adaptasi Perubahan Iklim bagi Media di NTT berlangsung di Kupang, Rabu (14/9).

Alex menjelaskan, tantangan yang dihadapi dalam menyikapi perubahan iklim adalah persepsi dan sensivitas DPRD NTT. Pemahaman lembaga dewan masih pada tahap persepsi tentang perubahan iklim, belum menjadikan sebagai suatu pengetahuan dan pemahaman bersama.

Selain itu, sensivitas lembaga dewan tentang perubahan iklim pun masih sangat minim. Misalkan, kegiatan yang digelar Forum Parlemen sebelumnya, hanya beberapa anggota dewan yang hadir dari total 65 anggota DPRD NTT.

“Padahal tantangan dimaksud harus dipahami karena terkait kebijakan politik anggaran di lembaga dewan dalam menjawabi perubahan iklim,” kata Alex.

Lebih lanjut dikatakan, perubahan iklim belum menjadi isu bersama dan gerakan bersama. Peran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) sangat dibutuhkan dalam mensinergikan berbagai program yang ada di setiap satuan kerja perangkat daerah (SKPD).

Alex mengungkapkan, kerja sama dengan lembaga lain di luar pemerintah juga perlu ditingkatkan. Bahkan lembaga keuangan didorong untuk menggunakan dana CSR agar bisa memanfaatkan anggaran yang disiapkan untuk melakukan pendampingan kepada masyarakat terkait langkah mitigasi.

“Hal ini penting sehingga masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup dalam melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim,” tandasnya.

National Manager Programm Strategic Planning and Action strengthen cimate resilience of Rural Communities (SPARC), Fransiska Sugi menjelaskan, fokus kegiatan SPARC pada penguatan dan pengembangan institusi dan masyarakat pedesaan yang tahan terhadap perubahan iklim.

Menurut Fransiska, ada tiga bidang kehidupan yang mendapat perhatian yakni penghidupan, ketahanan pangan, dan air. SPARC bekerja di tingkat provinsi dan kabupaten dengan fokus di tiga kabupaten yakni Manggarai, Sabu Raijua, dan Sumba Timur.

Fransiska mengungkapkan, kegiatan workshop yang digelar ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas media dan jurnalis dalam meliput isu perubahan iklim serta dampaknya bagi masyarakat pedesaan yang rentan, dalam sektor pertanian/ketahanan pangan, air dan mata pencaharian.

Selain itu, untuk membangun strategi bersama dalam menyebarluaskan isu perubahan iklim, dampaknya dan upaya adaptasi dan mitigasi yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah.