Teknologi Harus Jadi Bagian Dari Petani

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Gubernur NTT, Frans Lebu Raya mengatakan, NTT memiliki daerah yang terbilang sangat kering. Karenanya, teknologi pertanian harus terus dikembangkan, agar hasil pangan dapat memberikan manfaat yang diinginkan. Berbagai macam teknologi pertanian yang dibagikan, mulai dari kelompok sampai kepada individu, saya harapkan bisa memudahkan para petani dalam mengolah lahan dan meningkatkan produksi pertaniannya.

“Teknologi yang sudah diciptakan, mestinya menjadi milik petani, mereka tidak boleh sekedar menjadi pengguna saja” kata Gubernur NTT, Drs.Frans Lebu Raya, saat menerima kunjungan FAO Representative of Indonesia di ruang kerjanya siang tadi, Jum’at (23/9/2016).

“Apabila teknologi telah menjadi milik petani maka kita akan merasa lebih aman. Selain itu, mereka sendiri pasti akan lebih termotivasi untuk menciptakan hasil produksi pertanian yang memuaskan, menciptakan ketersediaan pangan yang akan tetap ada dan tidak merusak lahan. Varietas baru, bisa mereka kembangkan sendiri, lahan pun tetap subur. Memang,  proses edukasi ini membutuhkan waktu yang lama. Akan tetapi, kita membutuhkan itu, itulah proses. Kita merasa puas, ketika masyarakat tani sudah memiliki teknologi, yang mampu mereka kembangkan sendiri, membantu mereka dalam mengolah lahan garapannya. Dengan demikian, peran para penyuluh pertanian  menjadi sangat penting” lanjut  Frans Lebu Raya kepada rombongan perwakilan FAO Indonesia yang berkunjung, meminta dukungan Pemerintah Provinsi NTT itu.

Baca Juga : Agen Konsulat Timor Leste di Atambua Didemo, Tuntut Bebaskan Dua Warga Belu Yang Ditahan

“Terimaksi atas kunjungan ini. Kami  juga masih membutuhakan dukungan dari FAO Representative of Indonesia. Kami, NTT, ingin terus maju. Kalau petani maju, NTT pasti lebih maju lagi. Oleh karena itu, kita harus bersama-sama memberdayakan para petani, dengan memanfaatkan teknologi yang semakin pesat berkembangan. Saya berharap, pertemuan ini dapat berlanjut” begitu apresiasi Frans Lebu Raya, sebagaimana dirilis oleh Biro Humas Provinsi NTT.

“Saya juga berharap agar FAO Representative of Indonesia – RDTL dapat menempatkan orang-orang pada kabupaten yang tepat, agar semua orang yang mau belajar, tidak mengalami kendala untuk berkunjung dan belajar. 6.000 orang yang telah dibina, agar juga dapat menularkan  keterampilan mereka kepada sesamanya.  Saya pasti akan dukung, masa untuk daerah saya tidak dukung” tegas Lebu Raya sedikit berkelakar.

Dalam kesempatan itu, Mr. Mark Smulder, Kepala Perwakilan FAO Indonesia-RDTL  mengatakan bahwa tujuan dilakukan kunjungan ini adalah untuk menyampaikan kehadiran dan kesiapan FAO Representative, dalam mendukung program Pemerintah.

“Kami melihat, para petani sangat membutuhkan pendampingan, baik yang berada di NTT maupun di NTB. Sudah hampir 5 Tahun FAO Representative Indonesia –RDTL berkiprah di NTT. Kehadiran kami di NTT telah mendapat respon yang menggembirakan. Masyarakat menilai kehadiran kami sangat membantu mereka, terutama dengan fasilitas dan alat-alat teknologi yang kami kenalkan” begitu ujar Mark.

Baca Juga : NasDem Sambut Positif Gagasan Audit Forensik oleh BPK

“Pada puncak musim kemarau, para petani merasa bangga akan hasil pangan di musim yang tidak bersahabat itu. Bukan saja  mampu meningkatan hasil pangan tetapi kami juga mampu mengurangi resiko kekurangan bahkan kegagalan tanam. Karenanya, dalam sembilan bulan kami bekerja keras, bersama semua tim. Peran aktif tenaga penyuluh memang sangat penting. Pada waktu-waktu mendatang  kami berharap dapat bekerja sama lebih intensif lagi. Kami juga mengharapkan dukungan pemerintah daerah untuk mengambil peran lebih banyak. Turut serta menggalang partisipasi bersama, mendukung konservasi lahan pertanian di NTT dan NTB. Saya melihat, ketersedian pangan akan stabil, tetap ada sepanjang tahun” lanjut Mark dengan semangat.

“Kondisi iklim di NTT, khususnya terkait Elnino yang hebat, memang berpotensi memberikan dampak signifikan bagi hasil produksi. Akan tetapi, produksi pangan di TTU misalnya, tidak mengecewakan. Saya baru tahu, kalau di TTU itu hasil pangannya menggembirakan,  dengan menggunakan teknik tanam olah lobang. Teknik penanaman tersebut tidak menggunakan  pupuk kimia, mereka menggunakan pupuk organik” begitu pengakuan Ambrosius Kodo, Kasubid Produksi pada Bidang PP2, Bappeda Provinsi NTT yang juga hadir saat itu.

Turut mendampingi Mark Smulder pada kunjungan tersebut diantaranya Mr.Harlen Hale, Regional Advisor, Dr. Ageng Herianto, Assitant FAO Representative, Anny Mulyani, Wakil National Project, Kordinator Balitbang, Tejaningsi,SE,MA,  Fungsional Perencana Bappenas, Kepala Biro Humas Setda Provinsi NTT bersama aparatur unit  Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB.Biro Humas Provinsi NTT