Hadiri Sosialisasi FTZ di TTU, Falen Pareira : Timor Barat Memiliki Posisi Geopolitik Strategis
Laporan Yan
Atambua,NTTOnlinenow.com- Anggota DPRD Kabupaten Belu, Falentinus Pareira menegaskan pentingnya menjual nilai geopolitik kawasan Timor Barat yang strategis untuk memuluskan pembentukan Free Trade Zone (FTZ) atau Kawasan Perdagangan Bebas di wilayah perbatasan Indonesia dengan Timor Leste dan Australia.
Demikian Falentinus usai hadiri Sosialisasi Free Trade Zone (FTZ) Kawasan Perbatasan NTT yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi NTT di Hotel Viktory, Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara pada Selasa lalu.
Menurut dia, wilayah Timor Barat memiliki posisi geopolitik yang sangat strategis karena berada langsung di jalur perdagangan internasional dengan Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL) dan Australia.
“Potensi geopolitik ini harus menjadi nilai jual utama agar Pemerintah Pusat terdorong mempercepat pembentukan FTZ di perbatasan,” kata dia, Jumat (23/10/2026).
Menurut Falentinus, keberadaan FTZ bukan sekadar urusan fasilitas perdagangan atau regulasi fiskal, melainkan fondasi utama dalam menegakkan kedaulatan ekonomi masyarakat perbatasan.
Terkait itu, dia mengapresiasi progres kerja Tim Konsultan Persiapan Pre-Feasibility Study FTZ Provinsi NTT yang dipimpin oleh Prof. Fred Benu, yang telah merampungkan draf awal pengembangan kawasan perdagangan bebas untuk wilayah Timor Barat.
Masih menurut Falen, dalam sosialisasi terencana dia juga memberikan sejumlah masukan krusial kepada tim konsultan serta Pemerintah Provinsi NTT agar kajian yang diajukan ke Pemerintah Pusat semakin solid dan meyakinkan.
Dia menuturkan, selain memperkuat aspek geopolitik, tim konsultan harus mempersiapkan penzonasian wilayah FTZ secara cermat dan melengkapinya dengan kajian analisis substitusi nilai impor.
“Analisis ini sangat penting untuk meyakinkan Pemerintah Pusat bahwa FTZ di Timor Barat membawa dampak ekonomi riil dan terukur,” tambah dia.
Diketahui, kegiatan sosialisasi yang digelar selama tiga hari (19–21 Oktober 2026) ini dibuka secara daring oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena melalui aplikasi Zoom, serta dihadiri langsung oleh Bupati TTU dan para pemangku kepentingan dari tiga kabupaten perbatasan, yakni TTU, Belu, dan Malaka.

