Kemarau Bulan Juli Yang Dingin

Bagikan Artikel ini

Oleh Irfan Limbong
Tubuh mu kering sekali seperti baju jemuran yang ditinggal pemiliknya pergi bertamasya
Mata mu menjadi payau tak terarak berlingkar hitam
Dengan suara jantung yang berdetak seperti angin yang mematuk-matuk pipimu

Aku ingin memelukmu dengan menjadi bulan yang merengkuhmu dengan jubah embun tapi aku bukan bulan
Telingamu menumpahkan nanah menetes-netes ke tanah

Aku ingin memelukmu dengan sepasang siku di dua lubang mu tapi mana mungkin kau mengharapkan itu
Lendir darah tumpah dari ujung rambut mu

Mana mungkin juga aku jadi gantungan lantas menemani mu berjemur
Aku ingin gantungan tak ingin menjadi aku
Pikirankupun tak pernah berpikir jadi gantungan
Dan gantungan-gantungan tak ingin mengantung aku menggantung mu

Kau tak pernah menjamu jemuran dengan kopi sore
Jemuran adalah celana dalam sedangkan kau adalah baju yang berjemur
Bergantung morat marit dengan mesin ketik di bibir mu

Dan aku hanya si gondrong berpayung Biru langit di tangan, di kemarau bulan juli yang menyeduh dingin hubungan kita di plastik tak berpipet