Kendala Tanah Belum Dihibahkan, Terminal ALBN di TTU Bernilai Ratusan Miliar Mubasir Sejak Tahun 2013
Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Terminal Antar Lintas Batas Negara (ALBN) yang menghabiskan dana sebesar ratusan miliar rupiah di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) mubasir sejak selesai dikerjakan pada tahun 2013.
Terminal megah itu diketahui dibangun di atas luas lahan kurang lebih 4.100m2, yang disediakan Pemerintah Kabupaten TTU kepada Balai Transportasi Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.
Sayangnya, pembangun terminal ini mubasir selama kurang lebih 9 tahun, lantaran belum dilakukan proses hibah tanah kepada Kementerian Perhubungan.
Padahal tujuan pembangunan ALBN sebagai penghubung lintas darat antar Indonesia dan Republik Demokratik Timor Leste, yakni Sabuk Merah Dili, Batugede, Motaain Wini – Kota Kefamenanu dan Kota Kupang.
Bangunan megah yang mubasir bertahun – tahun ini menjadi perhatian Direktur Lembaga Anti Kekerasan Masyarakat Sipil (Lakmas) Cendana Wangi NTT, Victor Manbait, S.H.
Iapun meminta pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah hibah tanah tersebut, mengingat uang rakyat yang dipakai untuk membangun fasilitas di sana nilainya sangat besar.
“Kita minta pemerintah segera menyelesaikan persoalan ini, karena tidak sedikit uang rakyat yang digunakan untuk membangun fasilitas ini,” tandasnya.
Dikatakannya, desain bangunan tersebut sangat megah. Ada bangunan induk, terdiri dari loket, menara pengawas dan 24 ruangan lapak. Pada bagian Selatan dibangun dua bangunan kantor dilengkapi gudang. Bagian Utara di bangun mes karyawan dengan dua bangunan los, serta 3 pangkalan bus dan area parkir bus, serta memiliki 4 pintu masuk di bagian Timur dan dua pintu di bagian Barat.
Selain itu, ada juga fasilitas penunjang operasional yang dibangun Pemerintah Kabupaten TTU menggunakan APBD TTU selama dua tahun anggaran yakni 2015 dan 2016.
Demi menunjang operasional Terminal ALBN pada tahun 2015, tahun 2016 lanjut Victor, pemerintah kabupaten Timor Tengah Utara dengan Dana APBD yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus dan Dana Alokasi Umum, telah membangun Jalan Hotmix kurang lebih 3 kilo meter masuk ke Terminal ALBN dari jalan trans antar negara Kilometer 9 Kefamenanu – Timor Leste.

Faktanya, fasilitas terminal ALBN yang sudah siap pakai sejak tahun 2013 dan telah ditunjang dengan sarana jalan sejak tahun 2016 tersebut belum bisa beroperasi sampai dengan Februari 2022 ini.
Bangunan Terminal ALBN itu juga telah dilengkapi dengan fasilitas listrik dan air bersih, sumur bor dengan energi listrik solar cel.
Masalah hibah tanah tersebut, diakui Agustinus Sanak, staf UPTD Terminal ALBN Kementrian Perhubungan
yang diangkat Balai Transportasi Darat Kementerian Perhubungan untuk menjaga Terminal ALBN pada tahun
2020 lalu.
Menurut Agustinus, pada bulan November 2021 lalu, ada kunjungan kerja Komisi III DPRD Kabupaten TTU.
“Saat kunjungan kerja, oleh salah satu Anggota DPRD mengatakan, terminal ALBN ini akan beroperasi setelah selesai pembangunan jembatan Naen yang akan menghubungkan poros jalan ke kilo meter 6, jalan trans antar negara ke Atambua Kabupaten Belu menuju ke Timor Leste”, kata Sanak.
Kepada Anggota Komisi III DPRD yang berkunjung, Agustinus Sanak juga menyampaikan bahwa pada bulan
Desember 2020 lalu, ia mendampingi Petugas Balai Transportasi Darat Kementerian Perhubungan bertemu dengan, Raymundus Sau Fernandes yang kala itu menjabat sebagai Bupati TTU.
Pertemuan itu jelasnya, membicarakan masalah Hibah tanah lokasi 4.100m dari Pemda kepada Balai Transportasi Darat yang belum rampung dalam mempercepat operasional Terminal ALBN tersebut.
Agustinus Sanak, Operasional Terminal ALBN ini hanya menanti selesainya proses hibah tanah yang diatasnya dibangun Terminal.
“Bila beroperasi nanti semua angkutan umum antar Kabupaten, antar Propinsi dan antar Negara akan melewati terminal ini. Akan ada area ekonomi baru yang bergeliat di sana . Dan Terminal tipe B dikota Kefa hanya akan melayani transportasi dalam kota dan antar desa”, kata Agustinus.
Namun hingga kini, terminal megah bernilai ratusan miliar ini, seakan menjadi sebuah monumen yang ditumbuhi ilalang tak terawat dan hanya menjadi persinggahan para pelajar SMA dan masyarakat sekitar untuk berselfie ria.

