Daging Ayam Ras Masuk Top 10 Penyumbang Inflasi di NTT
Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Daging ayam ras termasuk dalam top 10 penyumbang inflasi sepanjang tahun 2018 di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terjadi selama empat kali, yakni di bulan Mei, Juni, Juli dan Desember.
“Walaupun begitu pengaruh perubahan harganya cukup signifikan terhadap inflasi keseluruhan di provinsi NTT,” kata Asisten Manager Kantor Perwakilan BI NTT, Handrianus Asa saat menjadi narasumber pada kegiatan Diseminasi Kajian Ekonomi & Keuangan Regional (KEKR) Provinsi NTT dan Sosialisasi Surat Utang Negara (SUN Ritel seri SBR006) di Kupang, Selasa (9/4/2019).
Handrianus Asa yang biasa disapa Andrey mengatakan, secara historis hingga 2018 selalu terdapat disparitas harga yang cukup tinggi di antara harga daging ayam ras di Kota Kupang dan Provinsi Jawa Timur serta nasional.
“Hal ini menyebabkan Kota Kupang menjadi kota dengan inflasi bulanan tertinggi se-Indonesia di Desember 2018 lalu,” papar Andrey.
Dia menyebutkan, daging ayam ras menyumbang hampir 1/3 bagian dari total inflasi di Hari Raya Idul Fitri dan 20 persen bagian inflasi di periode Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2018. Peningkatan harga ayam tertinggi mencapai 38 persen secara bulanan (month-to-month/ mtm).
“Karena itu, strategi pengendalian harga daging ayam ras yang dilakukan dengan dua pola, yakni langkah jangka pendek dan jangka panjang,” sebutnya.
Andrey menjelaskan, untuk langkah jangka pendek yaitu dengan pemanfaatan Kapal Tol Laut untuk mengangkut pakan ternak, sebagai upaya untuk dapat menurunkan harga pakan ternak terutama pada peternak mandiri.
Edukasi kepada masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam ras beku sebagai subtitusi dan kandungannya juga masih sama dengan daging ayam ras segar, dan mengusulkan pembentukan Tim Percepatan Industri Pangan dan Breeding Farm.
Sedangkan untuk langkah jangka panjangnya, lanjut Andrey, yaitu dengan melakukan kajian/feasibility study terkait pembangunan industri pakan dan breeding farm, serta menjajaki dan mengundang investor industri pakan dan breeding.
“Dari penjajakan yang dilakukan pada industri pakan ternak, menghasilkan sejumlah poin penting, yaitu produk yang dihasilkan dari industri pakan ternak bukan hanya untuk komoditas ayam ras, tapi bisa di mixed untuk pakan ayam petelur, babi dan ikan,” ungkapnya.
Selain itu, pendirian pakan ternak dapat menekan harga daging ayam, telur ayam juga daging babi yang sangat penting untuk pengendalian inflasi di NTT. Selanjutnya, petani mandiri dapat melakukan usaha lagi karena tersedia pakan ternak dengan harga yang murah karena stok komoditas tersebut cukup tersedia di pasaran. Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di NTT
“Industri pakan ternak menjadi pull factor bagi petani jagung untuk meningkatkan produksinya karena kebutuhan jagung untuk industri pakan ternak skala kecil/ menengah berkisar 7 ribu ton/bulan,” katanya.
Tantangannya, sebut Andrey, adalah produksi jagung di NTT belum mencukupi sehingga dinas pertanian dan ketahanan pangan saat ini telah melakukan penanaman jagung di areal seluas 2.500 hektare yang tersebar di 7 Kabupaten.
“Analisa kebutuhan jagung akan dilaporkan ke pak Gubernur NTT agar ada penambahan areal lagi sehingga dapat mensupport kebutuhan industri pakan ternak,” katanya.
Selanjutnya, Tim dari Bapelitbangda mendapat gambaran terkait nilai investasi, kapasitas produksi, BEP, ROI, luas lahan yang digunakan. “Selanjutnya akan dilaporkan ke pak Gubernur NTT. Apabila disetujui akan dianggarkan untuk Studi Kelayakan Bisnis (SKB),” urainya.
Andrey menambahkan, industri pakan ternak dipandang strategis sebagai salah satu cara untuk meningkatkan PAD Provinsi NTT karena bisa diekspor ke provinsi tetangga seperti NTB, Daratan Sulawesi, Maluku, Papua dan ke Negara Timor Leste sebagai bagian kerja sama Selatan Selatan.

