Pendampingan Bekraf, Tempo Institute Bagi Komunitas Kreatif Belu

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) gandeng Tempo Institute memberikan pendampingan bagi komunitas kreatif di Belu, Timor Barat wilayah perbatasan RI-Timor Leste.

Program pendampingan Komunitas Kreatif Bekraf- Tempo Institute atau Kombet Kreatif digelar selama empat hari ke depan yang berlangsung di gedung Betelalenok, Belu, Senin (8/10/2018).

Istiqomatul Hayati selaku panitia pelaksana kepada media disela-sela giat mengatakan, ada 40 pelaku ekonomi dan industri kreatif yang terpilih hadir menjadi peserta di Rumah Estribi pada pra pendampingan tanggal 7 Oktober kemarin.

“Untuk pendampingan dilaksanakan hari ini di Gedung selama empat hari mulai Kamis 8 sampai 10 Oktober mendatang,” ujar dia.

Dijelaskan, Kabupaten Belu menjadi kota kesepuluh dari 12 kota lawatan yang didatangi program Kombet Kreatif. Giat pertama dilaksanakan di Kota Padang pada 27-29 September 2018.

Selanjutnya diikuti Surabaya, Karangasem, Kendari, Maumere, Malang, Bojonegoro, Singkawang, dan Bandung Barat. “Setelah Belu, pendampingan Kombet Kreatif berlanjut di Kupang dan berakhir di Merauke,” terang Hayati.

Dikemukakan, tujuan program ini untuk mempererat jejaring Komunitas Kreatif di tingkat Kota dan Kabupaten yang memiliki kekayaan potensi ekonomi kreatif yang unik dan khas.

Dituturkan, Belu sangat kuat memiliki potensi di bidang kerajinan seperti tenun dan wisata alam yang luar biasa indah. Komunitas kreatif perlu berjejaring, berkolaborasi dan menjadi pendorong kemajuan ekonomi kreatif.

“Kami percaya, komunitas kreatif yang berjejaring kuat akan meningkatkan ekonomi kreatif di daerah dan juga bermanfaat di level nasional,” ucap Hayati.

Program ini menghadirkan kreator inspiratif, ahli pemasaran, dan pakar branding sebagai narasumber. Adapun pemateri Arief Ayip Budiman pakar branding dan co founder Rumah Sanur.

Rumah Sanur adalah pusat komunitas lokal, bisnis, wirausahawan sosial, pedagang, pemula, , dan kreatif. Komunitas ini menyatukan berbagai orang dan bisnis dengan keterampilan dan latar belakang yang berbeda, untuk menstimulasi ide dan membangun hubungan lintas sektor.

Selain itu Dinny Jusuf, founder Toraja Melo, sebuah yayasan yang bertujuan memotong persoalan kemiskinan pada perempuan penenun di pedesaan. Yayasan ini memfokuskan kegiatan pada pengembangan komunitas penenun.

“Dua pakar ini sejalan dengan misi yang dibangun Kombet Kreatif yakni lebih dari sekadar pertemuan komunitas. Rangkaian lawatan ini adalah sebuah upaya pendampingan komunitas untuk berkolaborasi dengan lebih baik,” ucap dia.

Pada program pendampingan Kombet Kreatif ini lanjut Hayati akan diperkenalkan skill storytelling, penceritaan, yang sangat penting untuk membangun nilai tambah produk kreatif yang akan disampaikan oleh Muhammad Taufiqurrohman Direktur Pusat Data dan Analisis Tempo sekaligus redaktur senior Tempo.

Tambah Hayati, program ini adalah pemantik kolaborasi komunitas kreatif lokal supaya berjejaring lebih kuat. Selanjutnya dia berharap komunitas kreatif di Belu benar-benar tumbuh solid dan berjejaring kuat.
Sepanjang 2017, Produk Domestik Bruto (PDB) dari sektor ekonomi kreatif tercatat mencapai Rp 852 triliun.

“Angka ini diyakini terus meningkat di tahun-tahun mendatang, sebuah perkembangan yang harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan menarasikan dan memasarkan produk bagi pelaku ekonomi kreatif,” akhir dia.