BKKBN Provinsi NTT Gelar Sosialiasi Penguatan Pendataan Keluarga dan Bangga Kencana

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOinenow.com – BKKBN Provinsi NTT menggelar sosialisasi Penguatan Pendataan Keluarga dan Kelompok Sasaran Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) di Kabupaten Belu wilayah Timor Barat perbatasan RI-RDTL, Jumat (30/19/2021).

Program Bangga Kencana adalah upaya Pemerintah meningkatkan kualitas keluarga di Indonesia, lewat kampanye/penyuluhan perencanaan berkeluarga, seperti rencana punya anak, pendidikan dan sebagainya.

Kegiatan kerjasama dengan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Belu berlangsung di Kantor Desa, Kecamatan Kakuluk Mesak dihadiri dua ratus warga sebagai peserta dengan tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Kepala BKKBN NTT, Marianus Mau Kuru mengatakan bahwa cara mewujudkan keluarga yang berkualitas tidak saja dengan program dua anak cukup tetapi termasuk mencarikan solusi untuk menangani kasus stunting atau gizi buruk pada anak-anak guna menciptakan generasi Indonesia yang unggul, berdaya saing dan berkualitas.

“Kita harus menyatakan dengan tegas perang terhadap stunting. Sehingga kedepan itu generasi kita generasi yang hebat, generasi pintar,” ungkap dia dalam sambutannya.

Dia berharap agar warga peserta yang hadir dalam ruangan ini harus menciptakan generasi berikutnya yang berkualitas. Karena itu untuk mewujudkan program Bangga Kencana, dirinya mengharapkan kerjasama dari semua pihak dan dimulai dari dalam keluarga.

“Mari kita semua bersama-sama untuk membangun supaya lebih maju maka kita harus mulai membangun dari dalam keluarga, kita harus jadikan keluarga sebagai titik sentra pembangunan. Kalau seluruh keluarga pintar, sehat, makan kenyang dan bergizi, hidup sejahtera sehingga kedepan tidak ada lagi generasi kita yang stunting,” harap Marianus.

Sementara itu Bupati Belu Agustinus Taolin Agustinus dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan mengatakan bahwa program Bangga Kencana tidak saja fokus pada kualitas anak tetapi juga pada pasangan baru dan pemeliharaan anak pasca melahirkan.

Dikatakan, tidak saja keluarga berencana tetapi juga kualitas dari dua anak juga harus baik mulai dari kualitas pasangan usia subur, remaja mau menikah sampai melahirkan bahkan pemeliharaan mulai dari seribu hari kehidupan.

Menurut Taolin, terkait angka stunting perlu adanya tenaga kesehatan yang memenuhi kualifikasi pendidikan yang memadai. Perlu meningkatkan dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis Jantung dan lain-lain untuk mengawal kesehatan ibu selama hamil terhadap penyakit-penyakit seperti hipertensi, kencing manis, TBC, kurang darah.

“Angka stunting di Belu masih tinggi yakni 17,9% sehinga perlu diturunkan prosentase ini. Kita mau turunkan kalau bisa serendah rendahnya kita sudah bertekad supaya tidak ada stunting baru lagi. Kita akan lakukan pendekatan yang baik dengan pihak-pihak terkait untuk bersama mengatasi stunting,” kata Taolin.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Melki Laka Lena usai tampil sebagai pemateri mengatakan, upaya dan program dari komisinya yang membidangi kesehatan dalam hal penganggaran untuk memperkuat pelayanan primer kesehatan diseluruh Indonesia.

Saat ini kata Laka Lena, porsi anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Kesehatan dialokasikan sebesar-besarnya sehingga Puskesmas akan ada lebih banyak alat dan SDM untuk memperkuat kesehatan pelayanan khususnya dalam hal penurunan angka kematian ibu dan bayi.

Kegiatan sosialiasi Wakil Ketua DPRD Belu, Kadis Pengendalian Penduduk dan KB Belu beserta jajarannya, Kades Kabuna dan unsur Pemerintah Desa setempat serta warga peserta kegiatan tersebut.