Wujudkan Belu Gudang Ternak, Bupati Belu Larang Potong Sapi Betina Produktif

Bagikan Artikel ini

Atambua, NTTOnlinenow.com – Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan daya beli masyarakat yang semakin membaik, maka kebutuhan konsumsi protein hewani terutama daging sapi pun ikut meningkat.

Hal tersebut memacu pemerintah untuk terus berupaya meningkatkan produksi dan produktivitas ternak sapi di wilayah perbatasan Kabupaten Belu dengan negara tetangga Timor Leste.

Dalam aspek yang lain pemerintah pun berkewajiban, menjamin ketersediaan bibit ternak sapi dan mencegah berkurangnya ternak sapi betina produktif yang dikeluarkan oleh masyarakat.

Namun dalam kenyataannya, pemotongan sapi betina produktif masih tetap terjadi. Ini tentunya sangat mengkhawatirkan di dalam sektor peternakan, khususnya sapi potong.

Demikian Bupati Belu, Willybrodus Lay dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Peternakan tahun 2019 bersama Para Camat, Lurah, dan Kepala Desa se-Kabupaten Belu, OPD terkait yang dihadiri juga Mr. Berrend Jan Stoel dari PUM Netherlands Senior Expert Belanda bertempat di Gedung Wanita Betelalenok Atambua, Jumat (1/11/2019).

“Pada era tahun 90-an produksi sapi mulai menurun. Dahulu, merujuk data statistik setiap minggu bisa mengirim ribuan ternak sapi, tapi sekarang sekali kirim hanya dua sampai tiga ratusan ekor, itupun digabung dengan TTU dan Soe,” ungkap dia.

Menurut Lay, sapi betina merupakan aset yang seharusnya dijaga agar tetap bereproduksi, sehingga mencukupi kebutuhan pangan hewani di wilaya perbatasan Belu dengan negara tetangga Timor Leste.

“Karena itu, sapi betina dilarang untuk di potong. Disamping itu, pemotongan sapi betina berpengaruh juga terhadap jumlah akseptor sapi yang akan dikawin suntik dan mengurangi potensi sapi bunting,” jelas dia.

Masih menurut Lay, sekitar tahun 80-an sampai dengan 90-an terjadi swasembada pangan, dimana banyak padang pengembalaan diolah menjadi sawah. Sehingga padang pengembalaan pun berkurang hingga saat ini.

“Sebelumnya kita sukses dengan peternakan, namun setelah itu kita pindah ke industri lain dan meninggalkan yang sukses ini, padahal untuk sawah kita butuh air, pupuk, traktor dan lainnya. Dan saat membuat sawah air tidak ada kita menyalahkan Tuhan, padahal kita tidak cermat terhadap kondisi lingkungan yang ada,” ucap dia.

Kesempatan itu Bupati Willy mengutarakan pengalaman bersama Tuan Berrend saat dirinya berada di Negeri Belanda. Dirinya mengaku takjub dengan para peternak di Negeri kincir angin tersebut.

“Waktu saya dan Tuan Berrend berkeliling di desa-desa di belanda, terlihat semua yang punya ternak memiliki mobil. Saya terheran-heran, setelah membandingkan dengan para peternak disini yang hidup belum berkecukupan,” kata dia.

Lanjut Lay, di Eropa itu ada 4 musim. Musim salju dan musim panas bisa sampai 40 derajat celcius namun bagaimana peternakannya bisa sukses sedangkan rumput mati. “Mereka menyiapkan makanan untuk disimpan dan diawetkan saat makanan ternak berlimpah dimusim hujan. Sementara pada saat musim salju dan panas, makanan tersebut mereka gunakan sebagai pakan ternak,” terang Bupati Lay.

Dikatakan, sebagai peneliti peternakan dan memiliki segudang pengalaman dalam pengawetan makanan ternak inilah yang membuat Tuan Berren hadir bersama kita dalam kegiatan rapat koordinasi.

“Tuan Berren sudah datang yang ketiga kali. Datang pertama dan kedua, yakni ingin membuat silase dan sekarang telah dilakukan di Sonis Laloran dan di SVD. Pengetahuan yang dimiliki Tuan Berrend membuat saya paham, bahwa membuat silase berapa ton pun bisa yang penting alatnya memadai,” terang Lay.

Dia berharap, dengam kedatangan Mr. Berrend Jan Stoel dari PUM Netherlands Senior Expert yang ketiga kali ini ke perbatasan Belu dapat merubah paradigma dan cara berpikir kita kedepannya demi perubahan di bidang peternakan.

“Terima kasih Tuan Berren yang datang membawa berkat untuk kami di Belu dan terima kasih sudah mau membantu kami di Belu,” ucap Bupati Belu.

Sementara iti Mr. Berrend Jan Stoel dari PUM Netherlands Senior Expert menuturkan, kehadiran dirinya di Kabupaten Belu diundang oleh Bupati Belu untuk membantu mencari solusi terkait masalah Peternakan di Belu.

Dikatakan bahwa, musim kemarau yang panjang di Belu sama halnya dengan di Belanda. “Musim Timur di Belanda tidak terdapat apa-apa untuk pakan ternak, sehingga silase sangat bermanfaat dan ini sudah dilakukan sejak dulu di Belanda,” kata Berrend yang juga Peneliti peternakan dan juga pengusaha ternak asal Negeri Belanda itu.

Informasi, PUM Netherlands Senior Expert atau Pakar Senior Belanda PUM adalah organisasi Sukarela yang berkomitmen untuk pengembangan berkelanjutan usaha kecil dan menengah di negara-negara berkembang dan pasar negara berkembang.

Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu, Amandus Linci, S.Pt menjelaskan bahwa, rapat ini sudah yang ke- 2 kalinya. Tujuan rapat ini adalah untuk membahas kendala dan masalah terkait dengan sub sektor peternakan di Kabupaten Belu.

“Mengingat rapat ini penting, maka kita juga mengundang Camat, Lurah, Kepala Desa, Tokoh Masyarakat, dan Kelompok Tani untuk menyatukan persepsi dan gerak langkah terkait masalah-masalah di bidang peternakan,” ungkap Amandus.

Lanjut dia, pemerintah juga mengundang salah seorang Narasumber asal Belanda yakni Tuan Berren yang telah melaksanakan beberapa kegiatan terutama mengidentifikasi permasalahan peternakan yang sedang berkembang di wilayah Belu dan mencari solusi.

Salah satu masalah yang kita fokuskan yaitu persiapan pakan ternak dimusim paceklik atau musim panas, karena saat itu kita kesulitan pakan bagi ternak, oleh karena itu solusi yang kita tempuh adalah membuat silase. Dimana pakan ternak yang berlimpah di musim hujan diambil, diawetkan dan disimpan, hingga musim kemarau tiba pakan tersebut diambil untuk diberikan kepada ternak.

“Kedepan kita akan fokus menyiapkan pakan ternak dengan silase di semua desa dan kelompok,” terang Amandus.(PKP Setda Belu/Reynaldo Klau)