JO’MARI Flobamora Tolak Viktor Laiskodat, Usulkan Tokoh Muda Andi Gani Nena Wea Masuk Gerbong Kabinet Kerja II

Bagikan Artikel ini

Laporan Frans Watu
Jakarta, NTTOnlinenow.com – Relawan Joko Widodo-Ma’ruf Amin (JO’MARI) menilai Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur NTT sebaiknya jangan diganggu, biarkan dia fokus bekerja membangun Nusa Tenggara Timur (NTT). Secara kapasitas Jo’mari menilai cukup layak menjadi menteri di Kabinet Jokowi – Ma’ruf Amin, namun untuk saat ini Viktor lebih dibutuhkan masyarakat NTT, untuk itu kami tegas menolak jika Pak Jokowi meminta beliau masuk dalam gerbong Kabinet Indonesia Kerja II.

Menurut Mikael Umbu Zasa yang juga ketua Ikatan Keluarga Besar Sumba se-Jabodetabek, sosok Viktor Bungtilu Laiskodat masih dibutuhkan untuk membawa perubahan bagi propinsi kepulauan NTT. Untuk itu kami tegas menolak jika ada pihak lain yang menghendaki beliau masuk dalam gerbong Kabinet. Pengamatan kami justru ibu Juli Laiskodat yang lebih pas, dengan latar belakangnya sebagai enterpreneur dan aktif dalam bidang pemberdayaan perempuan dan pengembangan ekonomi kreatif bisa menjadi daya tarik tersendiri. Sosok Juli Laiskodat bisa mendampingi ibu Ery Seda sebagai tokoh perempuan yang bisa menjadi pertimbangan Presiden Jokowi dalam menyusun kabinetnya.

Dalam pertemuan relawan Jo’mari Flobamora di Lembah Cibubur, Sabtu, 24/8/2019, dari sejumlah nama akhirnya mengkerucut ke 5 nama yang layak dipertimbangkan Jokowi untuk masuk dalam gerbong Kabinet Kerja II. Kelima figure tersebut terdiri dari Komjen Pol.(Pur) Drs. Gorries Mere, Andi Gani Nena Wea,SH, Dra.Francisia Saveria S.Ery Seda,MA.Ph.D, Drs.Johni Plate,MBA, Yosef D.M.Djakababa,MA,Ph.D.

Kelima nama ini cukup menonjol dalam pembahasan internal relawan dan pengurus Jo’mari Flobamora. Gorries Mere merupakan Staf khusus Presiden di bidang Intelkam, saat ini intens mendukung Jokowi di balik panggung politik, Andi Gani Nena Wea merupakan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) salah satu organisasi buruh yang punya pengaruh didunia tenaga kerja dan menjadi garda terdepan di panggung perdebatan Pilpres 2019. Komisaris Utama Pembangunan Perumahan ini bisa mewakili profesional dan kelompok milenial.

Sementara ibu Ery Seda merupakan putri alm.Frans Seda tokoh NTT yang aktif di bidang pendidikan, merupakan intelektual yang bisa mewakili professional dan kaum perempuan.

Menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Nasdem, Johni Plate dianggap sebagai tokoh yang punya peran selama masa kampanye yang selalu tampil di ruang publik dengan narasi kebangsaan yang barnas. Satu lagi putra dari Pulau Sumba Yosef Djakababa kami anggap juga punya kompetensi dan bisa menjadi bahan pertimbangan Bapak Jokowi, tegas Mikael Umbu Saza,SE Ketua Umum Jo’mari Flobamora.

Umbu Saza menilai, kesamaan dari kelima tokoh ini pada loyalitas dan perjuangan sepenuh hati dalam memenangkan Jokowi selama masa kampanye Pilpres. Kehadiran kelima tokoh asal NTT ini sangat dibutuhkan Jokowi dalam menghadapi tantangan nasionalisme dan paham radikalisme yang terus dihembuskan dalam mengganggu kinerja pemerintah ke depan.

Menurut Umbu, Jo’mari membahas nama yang tepat untuk membantu presiden di kabinet, karena kami ingin kabinet nantinya dapat bekerja efektif mewujudkan cita-cita Indonesia yang lebih baik.

“Jo’mari Flobamora sebagai organisasi relawan pendukung juga ingin sumbang saran dan masukan. Soal diterima atau tidak itu hak prerogatif presiden,” ujar Umbu di Sekretariat Jo’mari Flobamora di Lembah Leci,Cibubur.

Ditempat terpisah Petrus Selestinus, SH, MH pengacara senior asal NTT menilai, sosok yang tepat membantu Jokowi nantinya tak cukup hanya karena berjuang habis-habisan memenangkan Jokowi-Amin, tetapi juga harus memiliki kemampuan yang mumpuni dalam memimpin organisasi dan cepat mengambil keputusan menghadapi permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Kemampuan-kemampuan tersebut diyakini ada pada diri Andi Gani Nena Wea,SH. Beliau tokoh muda yang mewakili profesional dan kaum milenial yang mampu mengorganize organisasi besar dan sudah memahami Jokowi sejak 2014.

Layak tidaknya seseorang menjadi pembantu presiden bergantung pada kemampuan berpikir, bertindak, mengambil keputusan, loyalitas serta riwayat perjuangan, karena di periode kedua ini Jokowi butuh pekerja yang berani mengeksekusi program yang dia canangkan, Jokowi tidak butuh orang pintar tapi orang cerdas yang berpikir taktis, lanjut mantan komisioner LHKPN Petrus Selestinus.