Petani Di NTT Diminta Tanam Hortikultura

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Para petani di Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta untuk memanfaatkan curah hujan periode Juni sampai September yang terjadi secara sporadis di sejumlah daerah untuk menanam tanaman umur pendek, terutama hortikultura.

Kepala Dinas Pertanian NTT, Anis Tay Ruba sampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Rabu (25/7/2018).

Menurut Anis, curah hujan dengan intensitas rendah dan terjadi secara sporadis pada periode Juni sampai September, tidak bisa dimanfaatkan untuk menanam padi, jagung dan kedelai (Pajale). Curah hujan yang ada untuk menambah sumber air tanah, embung, cekdam, dan sungai. Dengan intensitas yang terbatas, lebih cocok dimanfaatkan untuk menanam tanaman hortikultura semusim.

“Kita dorong para petani untuk memanfaatkan secara maksimal curah hujan yang ada untuk menanam tanaman semusim yang berusia dua sampai tiga minggu sudah bisa dipanen, seperti sayur putih,” kata Anis.

Selain itu, lanjut mantan Penjabat Bupati Ngada ini, pemerintah juga mendorong para petani untuk menanam tanaman semusim lainnya, seperti cabai, bawang merah, dan tomat. Untuk bawang merah misalnya, tengah didorong untuk ditanam di sejumlah kabupaten seperti Manggarai Barat, Manggarai Timur, Lembata, Flores Timur, Lembata, Belu, dan Malaka.

“Kita terus dorong agar para petani bisa tanam bawang merah, baik berasal dari swadaya masyarakat maupun bantuan pemerintah,” papar Anis.

Pada kesempaatan itu dia sampaikan, pemerintah juga terus mendorong pengembangan penangkaran benih padi dan jagung untuk ditanam pada musim tanam 2018. Penangkar benih ini tersebar di hampir semua kabupaten. Keberadaan penangkar ini sangat dibutuhkan mengingat kebutuhan akan benih cukup tinggi seiring penungkatan luas lahan. Dimana untuk padi, ada penambahan luas lahan sekitar 16.000 hektar, jagung 40.000 hektar, dan kedelai 3.000 hektar.

Anggota DPRD NTT dari Fraksi PDIP, Kristofora Bantang meminta Dinas Pertania untuk memastikan ketersediaan benih dan pupuk dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan petani memasuki musim tanam tahun ini. Karena hampir setiap tahun para petani mengeluhkan persoalan yang sama. Persoalan itu seperti distribusi benih yang terlambat. Sedangkan pupuk yang sering dikeluhkan adalah soal kelangkaan. Semestinya persoalan ini tidak harus terjadi karena musim dan atau siklus tanam hampir setiap tahun tidak mengalami perubahan.

“Memang agak sulit dipahami karena kebutuhan akan benih dan pupuk selalu saja bermasalah pada setiap musim tanam,” ujar Feni, demikian Kristofora biasa disapa.

Wakil rakyat asal daerah pemilihan Manggarai Raya ini meminta para petani untuk tetap mempersiapkan lahan. Sehingga ketika tiba musim tanam, lahan sudah diolah dan siap ditanam. Kalaupun penyaluran benih bantuan pemerintah terlambat diterima, bisa menggunakan benih cadangan yang telah disiapkan.

“Kita minta Distan sudah memikirkan kebutuhan para petani itu, agar ketika dibutuhkan benih dan pupuk tersedia dalam jumlah yang cukup,” kata Feni.